Akuselalau mendoakanmu dengan cara sederhana, dengan nada-nada yang barang kali dapat menyembuhkan luka.
Tak biasa dipungkiri ada rindu yang menjalar perlahan, saat ragamu tak dapat kurengkuh bahkan dalam jarak yang tak begitu jauh.
Akhir-akhir ini,
entah apa alasannya. Aku selalu senang setiap menuliskan kata demi
kata tentangmu. Tersenyum tanpa sebab sambil terus mengalunkan pena
dikertas putih kepunyaanku. Selain itu, aku selalu suka mendengar suara
tawamu, meski aku bukanlah temen tertawamu.
Sejak awal, aku sudah
mengira bahwa ini hanyalah rasa kekagumanku saja. Aku salah,perasaan ini
semakin berkembang tak wajar. Ada perasaan aneh yang sulit kuhindari.
Aku mulai menyayangimu tanpa sepengetahuanmu. Aku mulai
takut kehilanganmu tanpa pernah memilikimu.
Daridulu, aku tak
pernah takut mencintaimu. Bagai air dalam ombak lautan, mengikuti setiap
lekukan ombak biru. Dan tanpa kusadari, perasaanku ikut hanyut
dalam gelombang laut itu. Segalanya membuatku lupa, bagaimana bisa aku
begitu menggilaimu?
Aku mencintaimu dengan tulus, sungguh. Kau
sudah tahu bukan ? aku tak pernahmenuntut apa yang aku mau. Aku tak
pernah meminta kejelasan atas kedekatankita. Aku hanya mencintaimu,
dalam jarak dalam waktu dan dalam diam.
Selama ini, aku merasa
bahwa aku bias memahamimu. Aku mengerti dengan semua mimpi yang kau
ceritakan, tanpa kusadari bahkan ada keinginanku untuk dapat
mewujudkan mimpi itu bersama-sama tapi semua pastilah mustahil.
Sejauh ini,
tak banyak yang dapat kulakukan untuk dapat memilikimu. Bukan
tak ada keinginan, tapi kusadar ada perbedaan yang terbentang luas diantara
kita.
Pada setiap lagu yang ku nyanyikan, engkau adalah nada yang
paling menggetarkan. Meski suara ombak beradu dengan karang, namun tetap
aku bertahan dalam cinta yang tak terungkapkan. Sebenarnya, aku ingin
jadi udara hingga paru-paru mu tak lagi pasi. Aku ingin jadi langkahmu
hingga kakimu tak lagi tangguh. Aku ingin jadi penglihatanmu sampai
matamu tak lagi tajam namun aku lebih baik menjadi duri,jika tak
sekalipun kau anggap aku berarti. Lebih baik aku mencintai sepi
dan mendekap kepedihan sendiri. Sudah biasa, seperti burung yang terbang
melalang buana, hinggap pada pohon tak kentara. Terpaksa aku tak
menungkapkan cintan yang mengendap dihati. Mungkin nanti, kau akan
melihat satu dua kapal antah berantah akan mengangkut rahasia yang
kusimpan ; Mencintaimu.
Dalam diam, aku tak harus menunggu kau
patah dulu, aku tlah hidup lama dihatimu,sembunyi-sembunyi. Pelukku tak
dapat menunggu, meski lewat doa ku tetap dekapdukamu. Saat airmatamu
luruh, ku sudah siap menangkap kerapuhanmu. Kelak, kauakan rasa pelukku
diiringi nada bermelodi merdu. Entah kapan semua itu kejadian, aku ingin
secepatnya. Sampai tiba saatnya, aku akan mati dimakan waktu. Aku akan
habis dilebur kenangan. Lalu masing-masing kita hanya tinggalkan cerita.
Tapi sebelum
itu, ada yang syahdu dari sebuah peluk, mungkin ialah puisi yang ditulis
diam-diam, yang tercipta dalam remang malam. Seperti itu, seperti
ituaku mencintaimu. Mungkin banyak yang mengajakmu terbang dengan sayap
yang paling indah, tapi bukankah lebih tulus berjalan bergenggaman
diantara duiryang menusuk telapak ? meski menginjak pecahan kaca
sekalipun. Aku mengenalmu sebagai cinta yang kutumpahkan dimeja,
kubiarkan tergenang disana, sampai habis terserap udara.
Untukku,merindumu
bagai samar cahaya yang ditumpahkan sebiji bulan. Dari kejauhan
aku merindukanmu namun kau tak pernah bias untuk melihat sinar itu. Meski
ada duka,aku sadar bahwa setiap luka harusnya berjeda. Perihal luka,
aku hanya menanyakan pada gelap dilorong panjang. Kutanam cintaku dalam
diam, rindu takkan mati dalam hening. Tenanglah…aku akan menjaga jarak
dan waktu. Sejatinya,kau akan meneduhkan rindumu bersamaku. Entah kapan,
aku tak pernah berani untuk menebaknya. Aku hanya mengikuti jarum jam
yang berjalan sendiri.
Dari kejauhan, aku selalu memperhatikan air
wajahmu. Sesekali kau terlihat murung dan terlihat lesu. Seketika itu,
akuingin sekali menghampirimu dengan secangkir cokelat panas disertai
sentuhan kecil dihatimu. Selalu ada rasa takut kehilangan bila aku ingin
meraihmu. Memang,kau begitu tinggi dan begitu sulit untuk kuraih. Aku
hanya wanita yang mencintaimu dalam diam. Aku hanya wanita bernyali ciut
yang memperhatikanmu dari kejauhan. Aku hanya..ah sudahlah, aku memang
bukan apa-apa dimatamu.
Sekali lagi, kau harustahu, bukan aku tak
pernah mau perpisahan setelah cinta membuah kita jauhterbang bebas. Aku
juga tak pernah mau tahu tentang rasamu, bukan aku tak maumemilikimu.
Aku hanya takut bahwa pada akhirnya semua harus berkesudahan denganrasa
sakit yang kita rasakan masing-masing.
Bukan waktu
yang sebentar, aku butuh penguat untuk tetap berdiri disini.
diujung jalan yang entah menunggu apa.melihat kamu seutuhnya, menatap
ciptaan Tuhanyang sedemikian sempurna. Lebih dari sini, ada yang
diam-diam tersakiti.darijarak sejauh ini. tanpa kau tau tanpa kau duga.
Aku takut menyapamu, aku takutjika ternyata perhatianku selama ini
benar-benar tak terasa olehmu. Apakah benar, kita memang saling
membutuhkan? karena gengsi rupanya kita masih tetap memendam seperti ini?
tahukah? aku ingin berjalan bersamamu dalam gelap danpeluh hujan.
Bagiku tidak masalah selagi tanganmu mengeratkan jemariku.
Kuakui,
memang salahku menjadi orang pengecut. Aku hanya berani mendoakanmu dari
sini yang hanya Tuhan dan Tasbihku yang tau. sungguh, aku takut
berkata jujur padamu. karena pengungkapan kadang tak benar-benar tak
membuatmu pahambukan? maka aku memutuskan untuk memendam sampai batas
waktu yang tak bisakutentukan.
Meski cintaini
tak terungkap, namun aku tak pernah mau dengar kata selamat tinggal
dansalam perpisahan. Kini lewat sebuah paragraph yang sederhana, aku
menemukanmu diujung langit, Bahkan akutak bias menyentuhmu. Biar hening
aku dan kamu berlayar pada kapal yangberbeda, pad arah tujuan dermaga
yang tak sama. Biarlah jingga itu meredupsendiri, biarkan cinta tak
terungkap sampai nanti.
Dengarkan, Bukan dalam dongeng
aku temukan sinarmu dalam sadar yang tertampar kilaumu. Bukan dalam
dongeng aku terjaga dari suntuk langit-langit mendung yang bergemuruh
dengan angin. Bukan dalam dongeng aku mencintai setiap gerak sikapmu
dengan segala tawa magismu. Bukan dalam dongeng, ku kepakan sayap
untuk
menjemput bahagiaku "kamu". Bukan dalam dongeng, kuminta kaupulang dan
ku kejar jika kau berlari. Bukan dalam dongeng, ku rangkai kata yangtak
begitu rumit namun sukar dijelaskan.
Aku tak pernah mau.
Kita Seperti hujan, datang dengan basah yang tak begitudingin menelusup
masuk dalam rambut hitam legam yang terpudar oleh hembusan angin. Kita
basahi apa saja yang menurut kita pantas dihujani. tanah yang gersang
atau bahkan daun yang kering setelah gugur. setelah itu, seperti hujan ,
kita tinggali semua yang telah basah kuyup, tanpa mau tahu yangtersiram
terluka ataukah merasa perih. Kita hujani apapun dihadapan sampai
lupa bahwa rintikannya tak selalu bawa bahagia. seperti hujan, kita
datang dan mengguyur seluruh pasir dalam hati yang amat gersang ada
kenyamanan disana tapitak lama kemudian cinta itu berhenti lalu pergi.
sekali lagi, aku tak mau kita seperti hujan. Aku tak pernah mau, kita
menjadi Pertemuan yang sederhana;bertemu berkenalan berdekatan lalu
saling mencintai dan akhirnya berpisah.
Sampai mata
kita bertemu, aku menyimpan rindu yang tlah lama merasuk
menyimpannya diladang rindu. ilalang lebat meninggi takberaturan memapas
habis pasir yang gersang. tak ada dipandangan, adakah disana panas kau
rasakan?disini, aku kegerahan berkeringat kenangan lampau.
waktu berjalan, tanpa aku sadari cinta sudah menyeretku kedalam ruang
yang mungkin saja tak pernah kuingini.Aku terus meyakinkan diriku
sendiri,bahwa kau bukanlah dia; seseorang yang kutunggu kedatangannya,
seseorang yang selalu kutanyakan keberadaannya pada Tuhan.Aku selalu
meyakinkan diriku sendiri, bahwa perhatianmu candaanmu hanya dasar dari
pertemanan kita.Ya sebatas teman, aku tak berani mengharapkan sesuatu
yang lebih.Aku tak pernah mau mengingat kenangan sendiri,aku tak pernah
siap merasakan luka yang belum juga kering menyayat. tapinyatanya...
perasaanku
tumbuh semakin pesat bahkan tak dapat lagi kukendalikan.Bagaimanapunaku
hanya manusia biasa yang merasakan kenyamanan dalam hadirmu, aku
hanya wanita biasa yang punya rasa takut kehilangan.Salahku memang jika
mengartikan semua adalah cinta?
Kamu sudah menjadi sebab tawaku,seolah
pelangi sehabis hujan aku yakin kamu adalah sinar yang paling terang
dikehidupanku. Aku sangat yakin,sangat! dan ituhal bodoh yang paling
kusesali. Nyatanya, sampai detik inipun, kita bukan siapa-siapa dan belum
terikat hubungan apa-apa. Aku masih menyimpan cinta ini dengan rapih,
apakah kau juga ?
Akhir kata. Untuk kamu, yang tak pernah
tahu ada akuyang tersayat hatinya.dari sudut sini, ada yang diam-diam
memperhtikanmu, diam-diam mengagumimu,merindumu tanpa henti.Aku terlalu
pengecut mengungkapkan semuanya, matamubibirmu garis pada wajahmu
membuatku semakin mengecil. Sudah lama, aku menjadi penonton
gerak-gerikmu, dari senja yang tak pernah peduli sampai bulan sabityang
kebingungan dengan kelakuanku.
Terimakasih untuk yang pernah merasakan cinta dan yang pernah terluka, ini semua untuk kalian.
Kamis, 14 November 2013
Senja Jingga
Senja jingga itu...
dibalik awan biru yang cerah
terdampar sebuah senja
senja yang indah
senja yang terlihat manis
Senja jingga itu...
Pada sore yang elok
cahayanya melekuk diujung langit
pada garis-garis awan
dan itulah "senja kita" katamu
Senja jingga itu..
pada setiap petang yang menunggu malam
kita rekam anugerah Tuhan itu
berdua bersama-sama
Senja jingga itu...
Ketika aku hanya memotret sendiri
dengan caraku sendiri
Ketika kau melukisnya sendiri
dengan caramu sendiri
Senja jingga itu...
yang kita banggakan
yang menjadi saksi semua cerita
senja itu, tak lagi jingga
dibalik awan biru yang cerah
terdampar sebuah senja
senja yang indah
senja yang terlihat manis
Senja jingga itu...
Pada sore yang elok
cahayanya melekuk diujung langit
pada garis-garis awan
dan itulah "senja kita" katamu
Senja jingga itu..
pada setiap petang yang menunggu malam
kita rekam anugerah Tuhan itu
berdua bersama-sama
Senja jingga itu...
Ketika aku hanya memotret sendiri
dengan caraku sendiri
Ketika kau melukisnya sendiri
dengan caramu sendiri
Senja jingga itu...
yang kita banggakan
yang menjadi saksi semua cerita
senja itu, tak lagi jingga
kau yang mau
Kini aku ada dalam pintu keraguan
lelah meyakinkan hatimu
letih menggapai parasmu
segala cara tlah kucoba
tapi kau tak juga menaruh percaya
Kini aku bagai surya
menunggu senja pulang keperaduannya
aku semakin terhimpit
pada kenangan dan ingatan masalalu
biar malam yang bercerita
kaulah kehormatan atas kesunyian jiwa
Jika memang kau ingin perpisahan
aku akan melakukannya dengan berjalan mundur
menghayati setiap kedip kelopak matamu
menikmati lambaian tangan dan jemarimu
aku akan menggelayutkan seluruh beban
agar aku berjalan dengan amat tergontai
agar kau tak cepat dimakan jarak
agar perpisahan lambat merangkak
Jika memang semua akan berlalu secepat yang kau mau
semua semata kulakukan hanya menuruti keinginanmu
bukan aku sudah tak mau berkorban
bukan aku tak mau memperjuangkan
tapi kau yang ingin semua ini agar aku lakukan
lelah meyakinkan hatimu
letih menggapai parasmu
segala cara tlah kucoba
tapi kau tak juga menaruh percaya
Kini aku bagai surya
menunggu senja pulang keperaduannya
aku semakin terhimpit
pada kenangan dan ingatan masalalu
biar malam yang bercerita
kaulah kehormatan atas kesunyian jiwa
Jika memang kau ingin perpisahan
aku akan melakukannya dengan berjalan mundur
menghayati setiap kedip kelopak matamu
menikmati lambaian tangan dan jemarimu
aku akan menggelayutkan seluruh beban
agar aku berjalan dengan amat tergontai
agar kau tak cepat dimakan jarak
agar perpisahan lambat merangkak
Jika memang semua akan berlalu secepat yang kau mau
semua semata kulakukan hanya menuruti keinginanmu
bukan aku sudah tak mau berkorban
bukan aku tak mau memperjuangkan
tapi kau yang ingin semua ini agar aku lakukan
Langganan:
Komentar (Atom)