Tweets by @atikahndey Atikah windy : Cinta Terpendam Tweets by @atikahndey Tweets by @atikahndey

Terimakasih untuk yang pernah merasakan cinta dan yang pernah terluka, ini semua untuk kalian.

Kamis, 14 November 2013

Cinta Terpendam

Akuselalau mendoakanmu dengan cara sederhana, dengan nada-nada yang barang kali dapat menyembuhkan luka.
Tak biasa dipungkiri ada rindu yang menjalar perlahan, saat ragamu tak dapat kurengkuh bahkan dalam jarak yang tak begitu jauh.
Akhir-akhir ini, entah apa alasannya. Aku selalu senang setiap menuliskan kata demi kata tentangmu. Tersenyum tanpa sebab sambil terus mengalunkan pena dikertas putih kepunyaanku. Selain itu, aku selalu suka mendengar suara tawamu, meski aku bukanlah temen tertawamu.
Sejak awal, aku sudah mengira bahwa ini hanyalah rasa kekagumanku saja. Aku salah,perasaan ini semakin berkembang tak wajar. Ada perasaan aneh yang sulit kuhindari. Aku mulai menyayangimu tanpa sepengetahuanmu. Aku mulai takut kehilanganmu tanpa pernah memilikimu.
Daridulu, aku tak pernah takut mencintaimu. Bagai air dalam ombak lautan, mengikuti setiap lekukan ombak biru. Dan tanpa kusadari, perasaanku ikut hanyut dalam gelombang laut itu. Segalanya membuatku lupa, bagaimana bisa aku begitu menggilaimu?
Aku mencintaimu dengan tulus, sungguh. Kau sudah tahu bukan ? aku tak pernahmenuntut apa yang aku mau. Aku tak pernah meminta kejelasan atas kedekatankita. Aku hanya mencintaimu, dalam jarak dalam waktu dan dalam diam.
Selama ini, aku merasa bahwa aku bias memahamimu. Aku mengerti dengan semua mimpi yang kau ceritakan, tanpa kusadari bahkan ada keinginanku untuk dapat mewujudkan mimpi itu bersama-sama tapi semua pastilah mustahil.
Sejauh ini, tak banyak yang dapat kulakukan untuk dapat memilikimu. Bukan tak ada keinginan, tapi kusadar ada perbedaan yang terbentang luas diantara kita.
Pada setiap lagu yang ku nyanyikan, engkau adalah nada yang paling menggetarkan. Meski suara ombak beradu dengan karang, namun tetap aku bertahan dalam cinta yang tak terungkapkan. Sebenarnya, aku ingin jadi udara hingga paru-paru mu tak lagi pasi. Aku ingin jadi langkahmu hingga kakimu tak lagi tangguh. Aku ingin jadi penglihatanmu sampai matamu tak lagi tajam namun aku lebih baik menjadi duri,jika tak sekalipun kau anggap aku berarti. Lebih baik aku mencintai sepi dan mendekap kepedihan sendiri. Sudah biasa, seperti burung yang terbang melalang buana, hinggap pada pohon tak kentara. Terpaksa aku tak menungkapkan cintan yang mengendap dihati. Mungkin nanti, kau akan melihat satu dua kapal antah berantah akan mengangkut rahasia yang kusimpan ; Mencintaimu.
Dalam diam, aku tak harus menunggu kau patah dulu, aku tlah hidup lama dihatimu,sembunyi-sembunyi. Pelukku tak dapat menunggu, meski lewat doa ku tetap dekapdukamu. Saat airmatamu luruh, ku sudah siap menangkap kerapuhanmu. Kelak, kauakan rasa pelukku diiringi nada bermelodi merdu. Entah kapan semua itu kejadian, aku ingin secepatnya. Sampai tiba saatnya, aku akan mati dimakan waktu. Aku akan habis dilebur kenangan. Lalu masing-masing kita hanya tinggalkan cerita.
Tapi sebelum itu, ada yang syahdu dari sebuah peluk, mungkin ialah puisi yang ditulis diam-diam, yang tercipta dalam remang malam. Seperti itu, seperti ituaku mencintaimu. Mungkin banyak yang mengajakmu terbang dengan sayap yang paling indah, tapi bukankah lebih tulus berjalan bergenggaman diantara duiryang menusuk telapak ? meski menginjak pecahan kaca sekalipun. Aku mengenalmu sebagai cinta yang kutumpahkan dimeja, kubiarkan tergenang disana, sampai habis terserap udara.
Untukku,merindumu bagai samar cahaya yang ditumpahkan sebiji bulan. Dari kejauhan aku merindukanmu namun kau tak pernah bias untuk melihat sinar itu. Meski ada duka,aku sadar bahwa setiap luka harusnya berjeda. Perihal luka, aku hanya menanyakan pada gelap dilorong panjang. Kutanam cintaku dalam diam, rindu takkan mati dalam hening. Tenanglah…aku akan menjaga jarak dan waktu. Sejatinya,kau akan meneduhkan rindumu bersamaku. Entah kapan, aku tak pernah berani untuk menebaknya. Aku hanya mengikuti jarum jam yang berjalan sendiri.
Dari kejauhan, aku selalu memperhatikan air wajahmu. Sesekali kau terlihat  murung dan terlihat lesu. Seketika itu, akuingin sekali menghampirimu dengan secangkir cokelat panas disertai sentuhan kecil dihatimu. Selalu ada rasa takut kehilangan bila aku ingin meraihmu. Memang,kau begitu tinggi dan begitu sulit untuk kuraih. Aku hanya wanita yang mencintaimu dalam diam. Aku hanya wanita bernyali ciut yang memperhatikanmu dari kejauhan. Aku hanya..ah sudahlah, aku memang bukan apa-apa dimatamu.
Sekali lagi, kau harustahu, bukan aku tak pernah mau perpisahan setelah cinta membuah kita jauhterbang bebas. Aku juga tak pernah mau tahu tentang rasamu, bukan aku tak maumemilikimu. Aku hanya takut bahwa pada akhirnya semua harus berkesudahan denganrasa sakit yang kita rasakan masing-masing.
            Bukan waktu yang sebentar, aku butuh penguat untuk tetap berdiri disini. diujung jalan yang entah menunggu apa.melihat kamu seutuhnya, menatap ciptaan Tuhanyang sedemikian sempurna. Lebih dari sini, ada yang diam-diam tersakiti.darijarak sejauh ini. tanpa kau tau tanpa kau duga. Aku takut menyapamu, aku takutjika ternyata perhatianku selama ini benar-benar tak terasa olehmu. Apakah benar, kita memang saling membutuhkan? karena gengsi rupanya kita masih tetap memendam seperti ini? tahukah? aku ingin berjalan bersamamu dalam gelap danpeluh hujan. Bagiku tidak masalah selagi tanganmu mengeratkan jemariku.
Kuakui, memang salahku menjadi orang pengecut. Aku hanya berani mendoakanmu dari sini yang hanya Tuhan dan Tasbihku yang tau. sungguh, aku takut berkata jujur padamu. karena pengungkapan kadang tak benar-benar tak membuatmu pahambukan? maka aku memutuskan untuk memendam sampai batas waktu yang tak bisakutentukan.

            Meski cintaini tak terungkap, namun aku tak pernah mau dengar kata selamat tinggal dansalam perpisahan. Kini lewat sebuah paragraph yang sederhana,  aku menemukanmu diujung langit, Bahkan akutak bias menyentuhmu. Biar hening aku dan kamu berlayar pada kapal yangberbeda, pad arah tujuan dermaga yang tak sama. Biarlah jingga itu meredupsendiri, biarkan cinta tak terungkap sampai nanti.
Dengarkan, Bukan dalam dongeng aku temukan sinarmu dalam sadar yang tertampar kilaumu. Bukan dalam dongeng aku terjaga dari suntuk langit-langit mendung yang bergemuruh dengan angin. Bukan dalam dongeng aku mencintai setiap gerak sikapmu dengan segala tawa magismu. Bukan dalam dongeng, ku kepakan sayap
untuk menjemput bahagiaku "kamu". Bukan dalam dongeng, kuminta kaupulang dan ku kejar jika kau berlari. Bukan dalam dongeng, ku rangkai kata yangtak begitu rumit namun sukar dijelaskan.

Aku tak pernah mau. Kita Seperti  hujan, datang dengan basah yang tak begitudingin menelusup masuk dalam rambut hitam legam yang terpudar oleh hembusan angin. Kita basahi apa saja yang menurut kita pantas dihujani. tanah yang gersang atau bahkan daun yang kering setelah gugur. setelah itu, seperti hujan , kita tinggali semua yang telah basah kuyup, tanpa mau tahu yangtersiram terluka ataukah merasa perih. Kita hujani apapun dihadapan sampai lupa bahwa rintikannya tak selalu bawa bahagia. seperti hujan, kita datang dan mengguyur seluruh pasir dalam hati yang amat gersang ada kenyamanan disana tapitak lama kemudian cinta itu berhenti lalu pergi. sekali lagi, aku tak mau kita seperti hujan. Aku tak pernah mau, kita menjadi Pertemuan yang sederhana;bertemu berkenalan berdekatan lalu saling mencintai dan akhirnya berpisah.
            Sampai mata kita bertemu, aku menyimpan rindu yang tlah lama merasuk menyimpannya diladang rindu. ilalang lebat meninggi  takberaturan memapas habis pasir yang gersang. tak ada dipandangan, adakah disana panas kau rasakan?disini, aku kegerahan berkeringat kenangan lampau. waktu berjalan, tanpa aku sadari cinta sudah menyeretku kedalam ruang yang mungkin saja tak pernah kuingini.Aku terus meyakinkan diriku sendiri,bahwa kau bukanlah dia; seseorang yang kutunggu kedatangannya, seseorang yang selalu kutanyakan keberadaannya pada Tuhan.Aku selalu meyakinkan diriku sendiri, bahwa perhatianmu candaanmu hanya dasar dari pertemanan kita.Ya sebatas teman, aku tak berani mengharapkan sesuatu yang lebih.Aku tak pernah mau mengingat kenangan sendiri,aku tak pernah siap merasakan luka yang belum juga kering menyayat. tapinyatanya...
perasaanku tumbuh semakin pesat bahkan tak dapat lagi kukendalikan.Bagaimanapunaku hanya manusia biasa yang merasakan kenyamanan dalam hadirmu, aku hanya wanita biasa yang punya rasa takut kehilangan.Salahku memang jika mengartikan semua adalah cinta?
Kamu sudah menjadi sebab tawaku,seolah pelangi sehabis hujan aku yakin kamu adalah sinar yang paling terang dikehidupanku. Aku sangat yakin,sangat! dan ituhal bodoh yang paling kusesali. Nyatanya, sampai detik inipun, kita bukan siapa-siapa dan belum terikat hubungan apa-apa. Aku masih menyimpan cinta ini dengan rapih, apakah kau juga ?

Akhir kata. Untuk kamu, yang tak pernah tahu ada akuyang tersayat hatinya.dari sudut sini, ada yang diam-diam memperhtikanmu, diam-diam mengagumimu,merindumu tanpa henti.Aku terlalu pengecut mengungkapkan semuanya, matamubibirmu garis pada wajahmu membuatku semakin mengecil. Sudah lama, aku menjadi penonton gerak-gerikmu, dari senja yang tak pernah peduli sampai bulan sabityang kebingungan dengan kelakuanku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

var linkwithin_site_id = 1858193; Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Tweets by @atikahndey