"itu orangnya?" bisik ziara menggebu.
aku mengangguk pelan.
"udah berapa lama suka?"
"dua tahun"
"dari lo SMA ?"
"dari gue SMA sampe kuliah"
"elo emang gila banget risya"
aku menunduk. aku tidak suka dikasihani.
"naksir itu sebentar selebihnya adalah sayang"
"sayang?" gumamku pelan. aku tidak mengerti apa itu sayang, untukku itu adalah hal yang tabu.
"dia punya pacar?"
"tepat disampingnya. sudah berganti empat la;i selama dua tahun" pandanganku berubabh nanar.
"makanan favoritenya?"
"nasigoreng disebelah kampus"
"minumannya?"
"lemon tea hangat tidak terlalu asam"
"kerjaannya?"
"penulis"
"sudah berapa banyak buku yang dia tulis?"
"beberapa dan gue punya semua"
"ko gue gatau?"
"cuma gue yang tau dia"
"mobilnya?"
"banyak."
"rumahnya?"
"daerah kalibata"
"pendidikan terakhir?"
"sarjana hukum"
"kok kerjaannya penulis?"
"mengikuti kata hati"
"pernah mengobrol?"
"tidak sama sekali"
"hanya berani menatap?"
"ya. hanya berani menatap dan tidak mengucap"
ziara menutup mulut. menggelengkan kepalanya.
***
kamar kesya. pukul 16.00
"sya?"
"apa?"
"masih belum berani menyapa pangeranmu itu?"
aku diam.
"sampai kapan kamu memendam sya?"
"sampai Tuhan mengizinkan"
"tidak menyesal?"
"untuk apa?"
aku lihat ziara yang hanya menatapku lirih. Aku tau, betapa khawatirnya ziara terhadap perasaanku.ziara memang sahabat sejatiku, aku sedih itu airmatanya. begitu kata ziara. aku memang merasakan tekanan batin akhir-akhir ini. Gerry! nama lelaki yang duatahun ini mengusik fokusku.memberantakan khayalku.
"lo harus ajak dia ngobrol"
"maksudmu kenalan?"
"itu lo tau sya, gue kira lo cuma tau anatomi manusia" usik ziara usil.
"lo perlu seseorang sya"
"gue butuh"
"nah itu lo pinter. gue kira lo hanya tau kebutuhan dasar manusia"
aku mengerutkan alis.
***
Kampus. 13.00
aku berjalan menuju taman. aku senang menghabiskan waktuku dibawah pohon rindang.selain itu, ini memang tampat aku dan ziara berbagi. hempasan angin menggelitik pori-poriku. aku membiarkan mataku menjelajahi kesana-kemari. tapi, aku lihat langit semakin gelap. awan hitam mulai menampakan wajahnya, dan benar... hujan mulai turun. buliran itu kini terlihat.
hujan begitu cepat derasnya, hingga tak memberi aku peluang untuk berlari mencari tempat teduh. untung pohon ini bisa menjadi payung sementara.
plak plak...!! suara sepatu suara melangkah semakin dekat semakin jelas. lelaki berpostur tinggi, hidung yang mancung dan kulit yang putih.
hap!! aku berhasil menebak siapa dia. siapa yang berlari pelan menuju kearahku, maksudku pohon rindang ini. dia sekarang sibuk mengusir tetasan airhujan yang tertinggal dibajunya. dia terus sibuk sampai tidak peduli aku memperhatikannya.
brug!! buku berukuran sedang jatuh tepat dihadapanku. reflek, aku mengambilnya dengan sigap. memberikan buku itu kepada lelaki yang sedari tadi belum juga menghentikan kesibukannya.
"terimakasih"
singkat tapi bermakna. suara yang asing. suara pertamanya yang berhasil menyelidik labiran kosong hatiku, aku tersenyum.
"mahasiswi universitas indonesia?
"FIB"
dia mengulurkan tangan.
"gerry. anak fakultas...." gerry belum selesai aku menyerobot.
"fakukltas huku. gerry wicaksono. kelahiran 21 april 1987. anak pertama dan dua bersaudara. alamat daerah kalibata. makanan favorite nasigoreng disebelah kampus,minuman lemon tea hangat tidak terlalu asam,kerjaan penulis. sejak lama aku mengegumimu ger"
suaraku bergesekan dengan derasnya airhujan. aku gemetar, tidak percaya aku melakukan hal sebodoh itu. gerry menatapku dalam, kini aku semakin terpaku dibuatnya. dia mengusik arah tujuanku, yang semula mengenalnya berubah menjadi ingin memilikinya. untuk berapa lama aku dan dia diam, hanya saling menatap. suasana semakin mencekam. kosa kataku terkunci. sampai hujan berhenti. aku kebingungan. aku kehabisan cara untuk menujukan. aku kehabisan ide untuk mengungkapkan. untuk beberapa lama...
"gerry???"
suara wanita yang tak asing untukku. alena. kekasih gerry sejak 5bulan lalu. gerry cepat membalas lambaian wanita cantik itu, sebelum bergegas ia menyempatkan bola matanya melirik kearahku. semakin jauh semakin lama punggung kokohnya tak terlihat lagi. jelas aku melihat, gerry membiarkan aku menggigil karena dinginnya sikap dia. dia berlalu seolah tidak ada yang aku utarakan. dia tidak peduli, sama sekali tidak.peristiwa itu hanya kehangatan ditengah derasnya hujan.
pipiku basah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar