Tweets by @atikahndey Atikah windy : Juni 2013 Tweets by @atikahndey Tweets by @atikahndey

Terimakasih untuk yang pernah merasakan cinta dan yang pernah terluka, ini semua untuk kalian.

Jumat, 07 Juni 2013

Sekotak roti untuk Marsya

Marsya datang lebih pagi, begitupun Revan yang selalu mengendarai sepeda motornya sengan kecepatan kilat.belum lama marsya masuk kedalam kelas, revan sudah datang.
"Selamat pagi Marsya, ini. maaf telat"
Revan berlari kecil menuju tempat duduk Marsya dan mengambil sekotak roti dari tasnya.
"Selama pagi Revan"tidak masalah, aku juga baru datang. Terimakasih ya"
Marsya tersenyum manis seraya membuka kotak makan itu, Revan sahabat dekatnya memang selalu membawakan Marsya roti untuk sarapannya. maklumlah Marsya anak kost jadi tidak sempat membuat sarapan sendiri. walaupun marsya tidak pernah meminta tapi revan mengerti dan selalu membawakan sekotak roti, setiap hari.
Kring, Kring. Bel istirahat berbunyi, karena marsya dan revan satu kelas jadi mereka dapat lebih mudah menghabiskan waktu istirahat bersama. seperti kekantin atau sekedar duduk diteras kelas.
"Van, aku punya puisi baru. boleh dibaca tapi setelahnya bantu aku mencari judul yang pas untuk puisi ini ya? Marsya memberi selembar kertas kepada Revan. ini bukan kali pertamanya marsya meminta saran kepada revan, kecintaannya pada dunia menulis memang selalu melibatkan revan.

Mata kita saling bertemu
tapi bibir kita juga kelu
entahlah
ketakutanku mengalahkan keinginanku

Revan membuka mulutnya pelan, satu bait puisi marsya menghantam warasnya. matanya memandang kertas puisi marsya, tapi pandangannya seperti berkeliaran.
"van, ko malah ngelamun?"
Marsya melekukan alis, alis indah, alis yang membuat matanya lebih hidup.
"dari mana inspirasinya?"
"sekitar, banyak orang yang mempunyai perasaan, tapi sulit menyatakan"
jawaban marsya seolah mencekik leher revan.
"Cinta tak terungkap"
mata revan terpejam, mencerna getaran dari makna kalimatnya barusan.
bel selesai istirahat berbunyi, kegiatan belajar kembali tenang.
dalam kesunyian kelas, sebenarnya ada yang diam-diam memaki, Revan, ia memaki dirinya sendiri.menyesali mengapa ia tak pernah berani menyatakan perasaannya, perasaan yang sudah ada sejak lama. perasaan yang ia punya, untuk seseorang, perasannya kepada Marsya.
Marsya yang dibawa-bawa revan dalam imajinasinya, belum juga menyadari. Marsya tidak sadar kalau Revan sahabatnya mencintainya diam-diam.
Revan, seseoarang yang tak pernah lupa membawakannya sekotak roti; sekotak roti unruk marsya.

Rabu, 05 Juni 2013

Sehabis hujan, Setelah pelangi datang

       Saat itu, saya tidak tahu perihal seseorang yang telah pergi dan tak pernah kembali.Tapi dia tetap menunggu, menunggu adalah perkara melebarkan kesabaran dan membiarkan ketidak pastian menggelimit mendekat. Namun, sekarang saya paham. Terutama karena saya mengalaminya sendiri.
      Saya rindu lelaki itu, lelaki yang saya ingat setelah saudara lelaki saya.Seorang penunggu, seorang yang  rela menanti meski yang ditunggu tak kunjung datang. Seseorang yang mendedikasikan hidupnya untuk membentangkan kesabaran dan keikhlasan. Sebenarnya, saya lebih suka berlari, berjalan kearahnya, mengarah pada suatu yang sudah pasti. Entah apa alasan lelaki itu menunggu tanpa kenal waktu, menunggu hanya untuk mendengar sebuah
"Hallo... aku sudah pulang"
Tetapi ia tak juga datang.
     Terakhir saya melihatnya dibawah pohon rindang ini, diatas batu besar ditepi danau.danau buatan, danau situ gede, Sukabumi.Terlihat lelaki yang mengalungkan kameranya, warna putih kulitnya sangat kontras dengan kemeja hitam yang digunaknnya.Saya belum tahu, apakah dia seorang fotografer atau lelaki yang hanya menyukai pemotretan. Tujuan potretnya selalu terarah, warna itu, garis warna dilangit, warna-warni pelangi. Iya, dia selalu memotret pelangi, pelangi sehabis hujan, selalu itu, tidak pernah yang lain.
"pelangi didanau ini sangat indah?"
Kata lelaki itu sambil terus mengambil gambar garisan Tuhan itu.
"pelangi ditempat lain juga indah" Kata saya.
"apa bedanya?" lanjut saya.
Lelaki itu menurunkan kameranya dari hadapan wajahnya, menghela napas panjang dan menerawang lebih jauh lagi.Saya dapat melihat, angin menerbangkan kemeja hitam yang digunakannya.
"mungkin karena pelangi ini selalu menepis rasa jenuhku"
Saya mengangkat bahu. 
"Saya selalu melihat kamu disini, sehabis hujan, setelah pelangi datang."
Saya berjalan kearahanya, lebih dekat.
"Kau sedang menunggu?" kata saya lagi.
"dari mana kau tahu?"
"hanya menabak" kata saya.
      Lelaki pemotret pelangi ini membereskan tas ranselnya yang tergeletak ditepi danau, jaket tebal yang sedari tadi hanya menggantung dipundaknya mulai dia pakai. alis tebalnya mempermanis wajah tampannya. Dia melangkah pergi, meninggalkan saya bersama pelangi yang warnanya kian memudar. Saya tidak bisa memanggilnya, saya belum sempat menanyakan namanya.

 "Aku menunggu wanita itu, wanita yang selalu melukis pelangi"
         Sebelum ini aku tidak suka mernunggu. untukku, menunggu adalah tindakan pasif , membuang waktu untuk berduduk dan menunggu yang tidak pasti.Namun, kali ini takdir memaksaku untuk berdiam diri, untuk tidak mengejar dia dan pertemuanku bersamanya tidak kulupa sedikitpun.
 "hei"
Aku menyapanya simple.
"hallo"
"Saya selalu melihat kamu disini, sehabis hujan, setelah pelangi datang"
"Aku suka pelangi disni"
Jawabnya, sambil menggoreskan kuas yang sudah dipenuhi cat air yang indah. Wanita itu tersenyum melihat lukisannya sendiri. Rambutnya panjang terurai bergelombang mempercantik bentuk mukanya yang oval. ia membungkus tubuhnya dengan kaus putih dan celana kargo selutut berwarna cokelat muda. matanya yang bulat dengan pelangi yang terpantul didalamnya.

 Ini pertemuan kedua saya bersama laki-laki pemotret itu. Kali ini saya sudah tahu namanya, Geril. ia bercerita tentang pertemuan pertamanya bersama wanita pelukis itu, wanita yang selalu melukis pelangi. dan alasan mengapa ia selalu menjadikan pelangi sebagai objek fotonya. Ia yakin bahwa wanita pelukis itu akan kembali dan pulang. Katanya wanita pelukis itu hanya pamit untuk sebuah sementara, untuk waktu yang tidak lama. Tapi nyatanya sampai saat ini wanita itu tak juga datang, selama ini, selama empat tahun.
"Pada pertemuan kedua, aku dan dia berjanji akan selalu bertemu disini. sehabis hujan, setelah pelangi datang, dan merekamnya dengan cara masing-masing. Aku memotret dan dia melukis"
ditengah-tengah senyumnya yang mengembang karena mengingat wanita itu, saya melihat ada yang kosong pada sorot mata Geril.Sepertinya ia menyediakan tempat kosong untuk seseorang tapi seseorang itu tak juga mengisinya. Saya merasa ada yang janggal.
"lalu?" saya meminta Geril untuk bercerita lebih panjang lagi.
"lalu? lalu kami selalu datang kesini, sehabis hujan, setelah pelangi datang. Aku memotret dia melukis, selalu begitu, selalu seperti itu"
"sekarang dia dimana?"
Tangan Geril bergetar. tatapannya berubah nanar. tubuhnya seperti menggigil. aku mulai khawatir.
"aku tidak tau, yang aku tau dia akan datang" suaranya lirih.
"dari mana kau tahu?"
"wanita pelukis itu hanya pamit untuk sebuah sementara, untuk waktu yang tidak lama"
Geril mengangkat kameranya, membidik pelangi yang nampak arogan dengan warnanya. Geril membelokan tubuhnya, lalu bergegas pergi.
 Untuk kedua kalinya, pertemuan yang tidak usai.

 Tiga hari kemudian, saya datang ketepian danau. sehabis hujan, setelah pelangi datang, selalu ada Geril ketika hujan reda. Kulihat lelaki pemotret itu sudah berdiri tegak disana, menghadap pelangi dengan kameranya, membelakangi arah datang saya.
Sepucuk surat tepat didekat kakinya, saya ambi selanjutnya berjalan menuju sebuah batu besar dibawah pohon rindang.Geril yang sebenarnya sadar akan kehadiran saya bersikap biasa saja dan tidak merespon sama sekali.

    Dear Geril,
Ger, apa kabarmu hari ini? janganlah menangis lagi, tak sanggup bumi ini menampungnya. Masa lalu kita adalah sebuah kesalahan, tapi aku tidak pernah menyesal. Tentu kau juga bukan? Biarlah waktu menuntunmu melewati kegelapan ini. luka dapat sembuh sendiri Ger, asal kau memberinya jalan.Sungguh Ger, aku tak pernah bisa melihat kecintaanku terluka.
 Ger, aku percaya segalanya terjadi bukan tanpa alasan, bahkan hujan yang nyaris turun setiap hari dikotamu pasti memiliki tujan sendiri. entah untuk membasahi hatimu, entah untuk membasahi matamu. Intinya Ger, kaulah yang memiliki kuasa atas dirimu sendiri. Jadi, sudahlah jangan bersedih. Kumohon, aku tahu diriku penuh dosa, dari itu Ger, lewat surat ini, kuharap kubisa mengikis sedikit demi sedikit dosa itu. Tetapi tentu saja Ger, kaulah yang berhak untuk segala keputusan. Aku sadar, aku hanyalah pendosa.
   Ger, aku ingin kau lupa masa itu, masa dimana aku melakukan kesalahan.Iya, aku salah. tapi aku sudah memaafkan diriku sendiri dan sekarang aku menunggu maaf darimu, hanya itu yang ku mau.Ger, jangan salah sangka. aku bukannya ingin mengguruimu, apalagi soal maaf dan memaafkan. Tapi sungguh aku ingin kau bahagia, Apakah kau bahagia sekarang Ger?
 Ohiya, kau masih suka memotret? bagaimana pelangi didanau sana? Aku suka melihat pelangi itu Ger terutama bila melihatnya bersamamu.Pelangi diatas sana Ger, pelangi kita, pelangi yang datang sehabis huja. Aku ingin melihatmu memotret Ger, memotretlah dengan kameramu itu, dengan jemari mahirmu, dengan insting yang selalu tepat membidik gambar, memotretlah Ger!
  Aku pergi Ger, Jangan khawatir. suatu saat kau akan mendengar suaraku lewat angin yang menepuk pipimu, atau garis pelangi setelah hujan berhenti.Sahutlah sesekali Ger, walau tak lewat kata-kata, aku bisa merasakannya. karena hati kita pernah terpaut dan sekarang  juga. bukan begitu Ger?
  Berjanjilah kau akan berhenti dari kesedihan ini,berilah kedamaian atas hatimu Ger, sudahlah lupakan semua kesalahan.
     Sekali lagi aku tidak bermaksud menyayat hatimu, aku hanya tidak bisa bersamamu.
Aku titip garis itu, garis sehabis hujan, pelangi, pelangi kita, pelangi didanau sana.

"dia pergi hanya meninggalkan surat itu"
Suaranya terdengar berat, sangat menjelaskan bahwa ia begitu rapuh.
"dia tidak akan kembali Ger, dia sudah pergi"
"dia ada, dia sudah berjanji akan kembali ketika malam itu, dimimpiku"
aku terkejut mendengar jawaban Geril. sebegitu besarkah rasanya untuk wanita itu? sampai akal sehatnya kini sedikit tak berfungsi.
"sadarlah Ger, bangun dari lamunan panjangmu"
"Dera ada, dia akan kembali"
Dera, nama perempuan pelukis pelangi itu. perempuan yang katanya sayang tapi tega membiarkan kesayangannya menunggu.
"Geril apa kau sudah gila? dia telah pergi, meninggalkanmu. dia takkan kembali Ger, takkan pernah dan takkan mungkin"
nada suara saya meninggi.
"kamu tidak tahu apa-apa syeril. hentikan kata-katamu yang sok tahu itu"
matanya memerah, kameranya dikalungkan dengan sigap. dia melangkah pergi, meninggalkan saya, seperti biasa. saya dan pelangi dibiarkannya tenggelam didasar danau, kali ini hujan ikut mengantar saya kebawah sana.
    Beberapa hari berubah menjadi minggu lalu bulan. Saya rindu lelaki itu, lelaki yang saya ingat setelah saudara lelaki saya.Seorang penunggu, seorang yang  rela menanti meski yang ditunggu tak kunjung datang. Seseorang mendedikasikan hidupnya untuk membentangkan kesabaran dan keikhlasan.
menunggu hanya untuk mendengar sebuah
"Hallo... aku sudah pulang"
Tetapi ia tak juga datang.
Geril tak kunjung datang.
Suara wanita bergesekan dengan suara kicauan burung sore itu, dari balik punggung saya.
"sedang menunggu?"
Perempuan itu bertanya. Jemari saya yang saat itu sedang mengalunkan pena tiba-tiba menghentikan aktifitasnya.
"dari mana kau tahu?
"hanya menebak" Jawabnya.

Minggu, 02 Juni 2013

Hujan Masa Lalu

hujannya deras,
pipiku masih kering
mataku menerawang jauh kebalik jendela kamar
rintikannya semakin banyak saja
Air jatuh ketanah
membawa warna bening lalu terbenam
semakin cepat, semakin sering
sampai tetesannya menyusup masuk kesela-sela
Aku ingat malam itu
Ketika kita berpagut dalam pelukan
kau eratkan ditengah dinginnya hujan
hingga kita lupa sedang berpeluh dengan basah
Kenangan yang manis
meski pada akhirnya hanya menjadi cerita miris
kini pipiku mulai basah
mata binarku menyipit tak terarah
ingatanku semakin menajam
kuluaskan pandangan kesana-kemari
aku menoleh kembali, masalaluku terlihat lagi
Aku mengigit bibirku sendiri
jemariku meremas pelan tangan yang satu
angin memasuki jendelaku yang berjeda
hujan semakin deras, pipiku semakin basah.

Sabtu, 01 Juni 2013

Kita

Selamat malam, Tuan berlesung pipit. diatas tanah yang kududuki saat ini, aku sangat hafal caramu membaca setiap frasa demi frasa yang kutulis. Alismu ditekuk lalu membaca ulang setiap kalimat yang kubuat dengan gaya yang sungguh menyebalkan. itu kamu, memang sesuatu yang selalu membuat wajahku berganti topeng seenaknya. entahlah harus kusebut apa, kamu adalah......Ya kamu seseorang yang tak pernah absen namanya kusebut dalam doa. Kamu, yang selalu memberi teka-teki yang kadang aku sendiri sulit menjawabnya. Kamu seseorang yang selalu hadir dalam setiap mimpi, ilusi, dan khayal. meskipun nyata, bukan berarti aku tak membawamu masuki dalam bayang semuku, kita nyata untuk saat ini. bagaimana dengan masadepan? jadi seblum semuanya terlambat, sekarang aku senang bermain dengan permainan yang kubuat sendiri. dengan imajinasi yang ku ukir sendiri, kamu pemeran utamanya? tentu saja, kamu calon papah dari anak kita kelak.
atas alasan apapun, aku memang senang menulis apapun yang menyangkut tentangmu, aku senang menari dimasadepan denganmu walau hanya dalam mimpi yang tak kunjung nyata. sebagai wanita normal, aku mencintai sosokmu yang hangat, aku mulai suka rengkuhanmu sebelum aku jatuh lalu terhempas. aku mulai terpikat genggaman tanganmu yang hilangkan dinginnya dunia, kamu membuatku nyaman, menjadi wanita yang (mungkin) wanita kedua setelah Bunda mu.kuharap begitu, dan semoga saja.Karena sungguh, kamu adalah Pria yang kuingat setelah Ayah dan saudara lelakiku. kamu seperti cahaya, menyinari kegelapan hatiku yang semakin redup dan sempit. bahkan ketika aku kehilangan petunjuk jalan, pastinya atas kehendak Sang Semesta. setelah luka yang sekian lama menggerogotin hatiku perlahan, kamu datang lalu menyelimuti luka yang terbuka lebar dangan kasih sayang yang kutunggu. Kau buat kulupa caranya menangis, meski kadang waktu tak berpihak padaku, kamu selalu dan akan tetapi berada disampingku. Sampai embun jatuh dan mati, aku ingin kita tetap begini. Kenapa? Karena aku hanya ingin kamu. Mengerti? harus, kamu harus paham. agar aku tak memperjuangkan ini sendirian, agar aku tak mati-matian mempertahankan sedang kau tak peduli, agar aku tak menyaksikan hujan tanpa pelukanmu, agar aku tak melihat bintang tanpa genggamanmu. Aku belum siap, mengenang semuanya sendiri. Aku belum mau merapihkan serpihan hati yang baru saja rapih, aku belum bisa berdiri ditengah angin yang terus menghempaskan kesedihan, Aku belum siap merangkul bahuku sendiri, belum siap menyentuh jemariku sendiri, aku belum siap berpapasan dengan airmata, aku belum bisa tanpamu, bahkan mungkin takkan bisa dan takkan siap. Biarkan waktu mengantar kita sampai diakhir, kepada takdir yang tak kita buat sendiri, kepada semuanya yang mengindahkan kita bersama.
Aku ingin tetap didekatmu, bahkan ketika nanti bahumu tak bisa kusandari, Aku ingin terus bersamamu bahkan ketika jemarimu tak lagi kau jentikan dihelaian rambutku, aku masih akan meminta waktu menjaga kita, sampai nanti, sampai kita lupa caranya berpisah.
          dari aku, yang mengkhawatirkan keadaanmu. Selamat menikmati malam Bandung, aku menunggumu dikota kita, lekaslah pulang.

Tweets by @atikahndey