atas alasan apapun, aku memang senang menulis apapun yang menyangkut tentangmu, aku senang menari dimasadepan denganmu walau hanya dalam mimpi yang tak kunjung nyata. sebagai wanita normal, aku mencintai sosokmu yang hangat, aku mulai suka rengkuhanmu sebelum aku jatuh lalu terhempas. aku mulai terpikat genggaman tanganmu yang hilangkan dinginnya dunia, kamu membuatku nyaman, menjadi wanita yang (mungkin) wanita kedua setelah Bunda mu.kuharap begitu, dan semoga saja.Karena sungguh, kamu adalah Pria yang kuingat setelah Ayah dan saudara lelakiku. kamu seperti cahaya, menyinari kegelapan hatiku yang semakin redup dan sempit. bahkan ketika aku kehilangan petunjuk jalan, pastinya atas kehendak Sang Semesta. setelah luka yang sekian lama menggerogotin hatiku perlahan, kamu datang lalu menyelimuti luka yang terbuka lebar dangan kasih sayang yang kutunggu. Kau buat kulupa caranya menangis, meski kadang waktu tak berpihak padaku, kamu selalu dan akan tetapi berada disampingku. Sampai embun jatuh dan mati, aku ingin kita tetap begini. Kenapa? Karena aku hanya ingin kamu. Mengerti? harus, kamu harus paham. agar aku tak memperjuangkan ini sendirian, agar aku tak mati-matian mempertahankan sedang kau tak peduli, agar aku tak menyaksikan hujan tanpa pelukanmu, agar aku tak melihat bintang tanpa genggamanmu. Aku belum siap, mengenang semuanya sendiri. Aku belum mau merapihkan serpihan hati yang baru saja rapih, aku belum bisa berdiri ditengah angin yang terus menghempaskan kesedihan, Aku belum siap merangkul bahuku sendiri, belum siap menyentuh jemariku sendiri, aku belum siap berpapasan dengan airmata, aku belum bisa tanpamu, bahkan mungkin takkan bisa dan takkan siap. Biarkan waktu mengantar kita sampai diakhir, kepada takdir yang tak kita buat sendiri, kepada semuanya yang mengindahkan kita bersama.
Aku ingin tetap didekatmu, bahkan ketika nanti bahumu tak bisa kusandari, Aku ingin terus bersamamu bahkan ketika jemarimu tak lagi kau jentikan dihelaian rambutku, aku masih akan meminta waktu menjaga kita, sampai nanti, sampai kita lupa caranya berpisah.
dari aku, yang mengkhawatirkan keadaanmu. Selamat menikmati malam Bandung, aku menunggumu dikota kita, lekaslah pulang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar