hujannya deras,
pipiku masih kering
mataku menerawang jauh kebalik jendela kamar
rintikannya semakin banyak saja
Air jatuh ketanah
membawa warna bening lalu terbenam
semakin cepat, semakin sering
sampai tetesannya menyusup masuk kesela-sela
Aku ingat malam itu
Ketika kita berpagut dalam pelukan
kau eratkan ditengah dinginnya hujan
hingga kita lupa sedang berpeluh dengan basah
Kenangan yang manis
meski pada akhirnya hanya menjadi cerita miris
kini pipiku mulai basah
mata binarku menyipit tak terarah
ingatanku semakin menajam
kuluaskan pandangan kesana-kemari
aku menoleh kembali, masalaluku terlihat lagi
Aku mengigit bibirku sendiri
jemariku meremas pelan tangan yang satu
angin memasuki jendelaku yang berjeda
hujan semakin deras, pipiku semakin basah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar