Saat itu, saya tidak tahu perihal seseorang yang telah pergi dan tak pernah kembali.Tapi dia tetap menunggu, menunggu adalah perkara melebarkan kesabaran dan membiarkan ketidak pastian menggelimit mendekat. Namun, sekarang saya paham. Terutama karena saya mengalaminya sendiri.
Saya rindu lelaki itu, lelaki yang saya ingat setelah saudara lelaki saya.Seorang penunggu, seorang yang rela menanti meski yang ditunggu tak kunjung datang. Seseorang yang mendedikasikan hidupnya untuk membentangkan kesabaran dan keikhlasan. Sebenarnya, saya lebih suka berlari, berjalan kearahnya, mengarah pada suatu yang sudah pasti. Entah apa alasan lelaki itu menunggu tanpa kenal waktu, menunggu hanya untuk mendengar sebuah
"Hallo... aku sudah pulang"
Tetapi ia tak juga datang.
Terakhir saya melihatnya dibawah pohon rindang ini, diatas batu besar ditepi danau.danau buatan, danau situ gede, Sukabumi.Terlihat lelaki yang mengalungkan kameranya, warna putih kulitnya sangat kontras dengan kemeja hitam yang digunaknnya.Saya belum tahu, apakah dia seorang fotografer atau lelaki yang hanya menyukai pemotretan. Tujuan potretnya selalu terarah, warna itu, garis warna dilangit, warna-warni pelangi. Iya, dia selalu memotret pelangi, pelangi sehabis hujan, selalu itu, tidak pernah yang lain.
"pelangi didanau ini sangat indah?"
Kata lelaki itu sambil terus mengambil gambar garisan Tuhan itu.
"pelangi ditempat lain juga indah" Kata saya.
"apa bedanya?" lanjut saya.
Lelaki itu menurunkan kameranya dari hadapan wajahnya, menghela napas panjang dan menerawang lebih jauh lagi.Saya dapat melihat, angin menerbangkan kemeja hitam yang digunakannya.
"mungkin karena pelangi ini selalu menepis rasa jenuhku"
Saya mengangkat bahu.
"Saya selalu melihat kamu disini, sehabis hujan, setelah pelangi datang."
Saya berjalan kearahanya, lebih dekat.
"Kau sedang menunggu?" kata saya lagi.
"dari mana kau tahu?"
"hanya menabak" kata saya.
Lelaki pemotret pelangi ini membereskan tas ranselnya yang tergeletak ditepi danau, jaket tebal yang sedari tadi hanya menggantung dipundaknya mulai dia pakai. alis tebalnya mempermanis wajah tampannya. Dia melangkah pergi, meninggalkan saya bersama pelangi yang warnanya kian memudar. Saya tidak bisa memanggilnya, saya belum sempat menanyakan namanya.
"Aku menunggu wanita itu, wanita yang selalu melukis pelangi"
Sebelum ini aku tidak suka mernunggu. untukku, menunggu adalah tindakan pasif , membuang waktu untuk berduduk dan menunggu yang tidak pasti.Namun, kali ini takdir memaksaku untuk berdiam diri, untuk tidak mengejar dia dan pertemuanku bersamanya tidak kulupa sedikitpun.
"hei"
Aku menyapanya simple.
"hallo"
"Saya selalu melihat kamu disini, sehabis hujan, setelah pelangi datang""Aku suka pelangi disni"
Jawabnya, sambil menggoreskan kuas yang sudah dipenuhi cat air yang indah. Wanita itu tersenyum melihat lukisannya sendiri. Rambutnya panjang terurai bergelombang mempercantik bentuk mukanya yang oval. ia membungkus tubuhnya dengan kaus putih dan celana kargo selutut berwarna cokelat muda. matanya yang bulat dengan pelangi yang terpantul didalamnya.
Ini pertemuan kedua saya bersama laki-laki pemotret itu. Kali ini saya sudah tahu namanya, Geril. ia bercerita tentang pertemuan pertamanya bersama wanita pelukis itu, wanita yang selalu melukis pelangi. dan alasan mengapa ia selalu menjadikan pelangi sebagai objek fotonya. Ia yakin bahwa wanita pelukis itu akan kembali dan pulang. Katanya wanita pelukis itu hanya pamit untuk sebuah sementara, untuk waktu yang tidak lama. Tapi nyatanya sampai saat ini wanita itu tak juga datang, selama ini, selama empat tahun.
"Pada pertemuan kedua, aku dan dia berjanji akan selalu bertemu disini. sehabis hujan, setelah pelangi datang, dan merekamnya dengan cara masing-masing. Aku memotret dan dia melukis"
ditengah-tengah senyumnya yang mengembang karena mengingat wanita itu, saya melihat ada yang kosong pada sorot mata Geril.Sepertinya ia menyediakan tempat kosong untuk seseorang tapi seseorang itu tak juga mengisinya. Saya merasa ada yang janggal.
"lalu?" saya meminta Geril untuk bercerita lebih panjang lagi.
"lalu? lalu kami selalu datang kesini, sehabis hujan, setelah pelangi datang. Aku memotret dia melukis, selalu begitu, selalu seperti itu"
"sekarang dia dimana?"
Tangan Geril bergetar. tatapannya berubah nanar. tubuhnya seperti menggigil. aku mulai khawatir.
"aku tidak tau, yang aku tau dia akan datang" suaranya lirih.
"dari mana kau tahu?"
"wanita pelukis itu hanya pamit untuk sebuah sementara, untuk waktu yang tidak lama"
Geril mengangkat kameranya, membidik pelangi yang nampak arogan dengan warnanya. Geril membelokan tubuhnya, lalu bergegas pergi.
Untuk kedua kalinya, pertemuan yang tidak usai.
Tiga hari kemudian, saya datang ketepian danau. sehabis hujan, setelah pelangi datang, selalu ada Geril ketika hujan reda. Kulihat lelaki pemotret itu sudah berdiri tegak disana, menghadap pelangi dengan kameranya, membelakangi arah datang saya.
Sepucuk surat tepat didekat kakinya, saya ambi selanjutnya berjalan menuju sebuah batu besar dibawah pohon rindang.Geril yang sebenarnya sadar akan kehadiran saya bersikap biasa saja dan tidak merespon sama sekali.
Dear Geril,
Ger, apa kabarmu hari ini? janganlah menangis lagi, tak sanggup bumi ini menampungnya. Masa lalu kita adalah sebuah kesalahan, tapi aku tidak pernah menyesal. Tentu kau juga bukan? Biarlah waktu menuntunmu melewati kegelapan ini. luka dapat sembuh sendiri Ger, asal kau memberinya jalan.Sungguh Ger, aku tak pernah bisa melihat kecintaanku terluka.
Ger, aku percaya segalanya terjadi bukan tanpa alasan, bahkan hujan yang nyaris turun setiap hari dikotamu pasti memiliki tujan sendiri. entah untuk membasahi hatimu, entah untuk membasahi matamu. Intinya Ger, kaulah yang memiliki kuasa atas dirimu sendiri. Jadi, sudahlah jangan bersedih. Kumohon, aku tahu diriku penuh dosa, dari itu Ger, lewat surat ini, kuharap kubisa mengikis sedikit demi sedikit dosa itu. Tetapi tentu saja Ger, kaulah yang berhak untuk segala keputusan. Aku sadar, aku hanyalah pendosa.
Ger, aku ingin kau lupa masa itu, masa dimana aku melakukan kesalahan.Iya, aku salah. tapi aku sudah memaafkan diriku sendiri dan sekarang aku menunggu maaf darimu, hanya itu yang ku mau.Ger, jangan salah sangka. aku bukannya ingin mengguruimu, apalagi soal maaf dan memaafkan. Tapi sungguh aku ingin kau bahagia, Apakah kau bahagia sekarang Ger?
Ohiya, kau masih suka memotret? bagaimana pelangi didanau sana? Aku suka melihat pelangi itu Ger terutama bila melihatnya bersamamu.Pelangi diatas sana Ger, pelangi kita, pelangi yang datang sehabis huja. Aku ingin melihatmu memotret Ger, memotretlah dengan kameramu itu, dengan jemari mahirmu, dengan insting yang selalu tepat membidik gambar, memotretlah Ger!
Aku pergi Ger, Jangan khawatir. suatu saat kau akan mendengar suaraku lewat angin yang menepuk pipimu, atau garis pelangi setelah hujan berhenti.Sahutlah sesekali Ger, walau tak lewat kata-kata, aku bisa merasakannya. karena hati kita pernah terpaut dan sekarang juga. bukan begitu Ger?
Berjanjilah kau akan berhenti dari kesedihan ini,berilah kedamaian atas hatimu Ger, sudahlah lupakan semua kesalahan.
Sekali lagi aku tidak bermaksud menyayat hatimu, aku hanya tidak bisa bersamamu.
Aku titip garis itu, garis sehabis hujan, pelangi, pelangi kita, pelangi didanau sana.
"dia pergi hanya meninggalkan surat itu"
Suaranya terdengar berat, sangat menjelaskan bahwa ia begitu rapuh.
"dia tidak akan kembali Ger, dia sudah pergi"
"dia ada, dia sudah berjanji akan kembali ketika malam itu, dimimpiku"
aku terkejut mendengar jawaban Geril. sebegitu besarkah rasanya untuk wanita itu? sampai akal sehatnya kini sedikit tak berfungsi.
"sadarlah Ger, bangun dari lamunan panjangmu"
"Dera ada, dia akan kembali"
Dera, nama perempuan pelukis pelangi itu. perempuan yang katanya sayang tapi tega membiarkan kesayangannya menunggu.
"Geril apa kau sudah gila? dia telah pergi, meninggalkanmu. dia takkan kembali Ger, takkan pernah dan takkan mungkin"
nada suara saya meninggi.
"kamu tidak tahu apa-apa syeril. hentikan kata-katamu yang sok tahu itu"
matanya memerah, kameranya dikalungkan dengan sigap. dia melangkah pergi, meninggalkan saya, seperti biasa. saya dan pelangi dibiarkannya tenggelam didasar danau, kali ini hujan ikut mengantar saya kebawah sana.
Beberapa hari berubah menjadi minggu lalu bulan. Saya rindu lelaki itu, lelaki yang saya ingat setelah saudara lelaki saya.Seorang penunggu, seorang yang rela menanti meski yang ditunggu tak kunjung datang. Seseorang mendedikasikan hidupnya untuk membentangkan kesabaran dan keikhlasan.
menunggu hanya untuk mendengar sebuah
"Hallo... aku sudah pulang"
Tetapi ia tak juga datang.
Geril tak kunjung datang.
Suara wanita bergesekan dengan suara kicauan burung sore itu, dari balik punggung saya.
"sedang menunggu?"
Perempuan itu bertanya. Jemari saya yang saat itu sedang mengalunkan pena tiba-tiba menghentikan aktifitasnya.
"dari mana kau tahu?
"hanya menebak" Jawabnya.
1 kata aja deh. KEREN :)
BalasHapusterimakasih kak disya, maaf baru buka blog:)
Hapus