Untuk kamu yang tak pernah tau rasanya sakit
Selamat malam Tigabintang.Aku tak tau harus memanggilmu dengan sebutan apalagi, menurutku kamu begitu indah bahkan lebih.aku berjanji, akan menemuimu secepatnya bintang, menggenggam salah satu segi dari bentukmu. ah aku benar-benar ingin betemu denganmu.
Masih seperti tahun kemarin bintang, aku kehilangan seseorang dibulan ini. aku kehilang untuk kesekian kalinya, dimana satu bulan lagi adalah hari bahagiaku.
kini, aku belum mau berganti topik Bintang,masih tentang dia.. Seseorang yang sering aku perbincangkan sangat lama denganmu, seseorang yang selalu aku sebut pada kalimat doaku.
Aku sudah tahu, perpisahan yang Tuhan ciptakan adalah yang terbaik untukku dan Tuhan telah mempersiapkan jauh lebih baik darinya. tapi, bukan berarti aku harus absen menyebut namanya didalam bait doaku bukan?
Nah,kalau yang ini aku sudah tahu. Tentang jenuhnya dia bersamaku, mungkin karena ada yang baru. dia sudah menemukan penggantiku, entah siapa dan bagaimana. atas alasan apapun, aku harus turut bahagia dengan semuanya. karena ia tak perlu merayakan kesedihannya, seperti yang aku lakukan beberapa hari terakhir ini. seiring mendapatkan penggantiku, ia tak perlu merasa galau atau kehilangan. sungguh, aku tak pernah ingin dia merasakan sakit seperti apa yang kurasakan saat ini. Tuhan, aku tak pernah tega melihat kecintaanku terluka seperti luka yang belum juga kering didadaku. aku ingin kebahagiaan menyertainya, dengan atau tanpa aku.
Bintang, kali ini tolong jangan tersenyum usil, aku pasti menangis. dadaku sesak ketika kudapati semua berlalu begitu cepat. apalagi ketika dia berkata jenuh dengan nada rendah dan datar. aku tak habis pikir, padahal aku sedang merasakan bahagia yang meletup-letup kecil pada setiap aliran darahku.dia berganti-gati peran sesukanya sementara aku belum cukup cerdas mambaca topeng pada wajahnya.
Aku percaya sekarang dia sudah menemukan cinta sejatinya, seperti yang ia katakan dulu padaku 'aku menemukan cinta sejatiku. yaitu kamu' meski pada akhirnya aku hanya tempat persinggahan saja.
Masih sama seperti kemarin, jaga kebahagiannya, terangi sudut gelap pada hatinya. bahkan aku rela menangis demi melihat lubang kecil pada pipinya. Aku ingin melakukan apapun untuknya, tanpa melupakan sedikitpun rasa cintaku pada Tuhan. tapi, dalam jarak sejauh ini, aku memang tak dapat menyentuh lembut jemarinya, walau sebenarnya aku memeluknya dalam doa.
pernah terlintas dibenakku, untuk menderita amnesia. lalu dapat melupakan segala tentangnya, agar aku lupa rasanya sakit dan kehilangan seperti saat ini. aku tak perlu menangisi kejamnya perpisahan. sepertinya, hidup tidak akan terlalu rumit kalu saja manusia mudah melupakan rasa sakit dan hanya mengingat rasa bahagia. namun aku mengerti, hidup adalah pilihan dan suratan.
Aku memang tak perlu meratap, karena sepertinya ia sudah bahagia dengan keputusannya. dengan pilihannya. kini aku telah menghancurkan tembok yang seolah menjadi skat hidupnya yang menghilangkan gerak tubuhnya. aku sudah melepas ikatan yang sempat menjerat kuat kakinya,aku sudah melepaskan dia, seutuhnya. tampa luka dihatinya, sedikitpun tidak. dia bisa mencari dunia sesuai keinginannya, dia bisa menghilangkan rasa jenuhnya lalu bahagia dengan dunia barunya.aku turut senang, jika semua itu benar. kembali keawal, aku tidak mau ia merasakan sakitnya perpisahan, seperti yang aku rasakan.
Akhir pengungkapan, aku tidak minta agar dia cepat putus dengan kekasih barunya atau hubungan mereka kandas ditengah jalan. Tidak banyak bintang, sampaikan pada Tuhan. aku hanya minta vertigo akutnya disembuhkan, agar tekanan darahnya tak melemahkan dirinya. stabilkan kekebalan tubuhnya agar saat angin malam menghembus kencang dihadapnya ia dapat memeluk tubuhnya sendiri. semoga penggantiku mengerti betul penyakitnya.
kembali keawal ; aku hanya ingin dia bahagia. cukup
Tidak ada komentar:
Posting Komentar