Ternyata !!
"Terkadang cinta sejati tidak saling memiliki, cukup dengan saling mencintai saja. untuk beberapa kalangan."
Aku terpana mendengar penjelasannya.
"Tapi apa gunanya cinta kalau tidak memiliki?"
"cinta itu ketulusan. cinta itu keikhlasan. cinta itu memberi tanpa minta dibalas"
"cinta bertepuk sebelah tangan maksudmu?"
"tidak. cinta tak harus memiliki"
"apa kamu pernah merasakan itu?"
Gibran membenarkan posisi duduknya lalu menghela nafas dalam-dalam.
"setiap insan pasti pernah"
Aku raih daguku dengan kedua tanganku dan memperhatikan garis wajahnya. benarkah ? "cinta tak harus memiliki" ??
***
Camer coffe. Pukul 15.25
Aku memesan susu cokelat favoriteku. Selagi menunggu gibran aku melihat-lihat perpustakaan dikafe ini. memang, kafe yang dilengkapi dengan perpustakaan ini menjadi tempat yang digemari oleh remaja bandung.
"hey?"
terdengar suara itu dengan lantang. suara yang tidak asing untukku. suara Gibran wijaya. Aku menoleh memasang wajah dengan hiasan bibir manyun khasku.
"lama banget?"
"aku ada janji bertemu dosen tadi"
Aku coba mengerti dengan memberikan senyuman manis pada gibran. Gibran memnggil pramusaji memesan lemon tea kesukaannya. "kasih gula jangan terlalu asam" Yaa gibran selalu menambahkan pesanannya dengan kalimat itu.Aku sudah hafal kebiasaannya, aku sudah biasa tentang semua yang tidak biasa padanya. Aku dan gibran adalah tetanggaan sekaligus gibran adalah anak om farid, teman bisnis papah.
"Apa kamu masih mencintai wanita itu?"
Aku membuka perbincangan
"maksudmu yang kemarin aku ceritakan?"
"memang ada yang lain?" Aku mengerutkan alis tipisku tapi masih terlihat indah karena lengkungan manis pada alisku. Gibran yang sedang aku selidiki hanya senyum tidak jelas.
"Tentu tidak, aku masih mencintai dia dan hanya mencintanya"
"kenapa tidak kau utarakan?"
"sudah kubilang Alina. cinta tak harus memiliki"
"aku tidak bilang kamu untuk bersamanya, aku hanya bilang kamu mengungkapkannya"
"jika sudah mengungkapkan pasti ada keinginan untuk sebuah jawaban. mana ada ikan dikasih tulang tidak meminta dagingnya? lagipula aku takut akhirnya akan menjadi jauh jika kejujuran diungkapkan"
Aku terhenyak. kalimatnya sangat mengubur nyaliku. Aku juga mencintai tanpa berani mengungkapkan.
***
Aku berjalan santai menuju kantin kampus. aku membiarkan mataku berbelok kesana-kesini. mencoba menjelajahi sekitar gedung kampus sambil mencari Anita, sahabat karibku sejak SMA. sampai dikantin aku belum juga melihat batang hidungnya. aku memesan minum lalu mencari tempat duduk kosong.
"Anita? Gibran ?" hatiku melontarkan pertanyaan semu. pertanyaan yang hanya dimengerti olehku saja.Ada desir aneh yang mengalir didadaku, ada rasa khawatir akan kehilanganyang entah dari mana itu dihasilkan. seolah ada angin kencang menembus pori-poriku, melumpuhkan sel darahku.
aku cepat membalikan badan, pandangan kupalingkan.
2jam kemudian
Ponselku berbunyi. pesan singkat dari Anita.
dimana alina?
entah setan apa yang merasuki pikiranku hingga tak ada niatan untukku membalas pesan singkatnya. seperti ada gejolak amarah dinafasku.
***
Shine bright like a diamond
Shine bright like a diamond
Shine bright like a diamond
We’re beautiful like diamonds in the sky
Shine bright like a diamond
Shine bright like a diamond
We’re beautiful like diamonds in the sky
Ponselku berdering. tertera dilayar Gibran wijaya, aku enggan mengangkatnya tapi entah mengapa seolah jemariku memaksa memencet tombol 'jawab'
"hallo alina?"
"ada apa?"
"aku menghubungimu sejak satu minggu lalu tapi selalu saja tidak bisa"
Aku diam.
"Hallo alina ada yang salah dengan aku?"
Aku menguatkan pita suaraku untuk menyambut tanyanya.
"tidak"
"aku ingin bertemu denganmu sore ini ditempat biasa pukul 16.30"
klik. telepon dimatikan.
***
Camer coffe. pukul 16.40
"kamu pernah membayangkan bertemu air ditenga gurun?"
gibran mengawali dengan memndang hujan lewat jendela kafe.
"hujan?"
"beda iklim alina"
"kalau begitu tidak. mustahil"
aku menyeruput susu cokelatku
:aku bertemu cahaya dalam gelap alina"
"maksudmu?"
"aku mendapat air ditengah gurun. mendapat cahaya ditengan gulita. aku bertemu sosok yang sedang aku butuhkan"
"anita?"
gibran menoleh cepat kehadapanku. aku membuang muka.
"anita? maksudmu?"
"bertahun-tahun kita sahabatan aku tidak pernah lupa bercerita tentang apapun itu. Aku melihatmu dikantin waktu itu, beersama anita"
Aku mencoba untuk tetap tenang.
"anita baik dia catik juga smart. tapi tidak cukup mengalahkan posisi wanita yang aku cintai sejak dulu"
"kamu tidak ada apa-apa dengan anita?"
"dia hanya adik kelasku yang meminta saran untuk tugasnya"
seperti ada yang bahagia dalam amarahku.aku seperti ingin tersenyum lega mendengarkannya. Ah perasaan apa ini ??
"aku mencinta wanita itu, sangat"
"siapa dia?"
aku menyelidik.
"yang istimewa"
lagi lagi ada desirin aneh didadaku.
"apa kamu tau bahagianya dari cinta yang tak memiliki?"
"membiarkannya bahagian tanpa terusik oleh perasaan kita"
"menyakitkan"
"lebih dari itu. kita kita membiarkannya tersenyum sedang kita bukan alasannya. membiarkannya bahagia dan kita bukan sebabnya"
"lalu untuk apa kau bertahan?"
"ketulusan"
Aku terdiam. benar sekali kata gibran. mencinta memang tak harus memiliki. "kita kita membiarkannya tersenyum sedang kita bukan alasannya. membiarkannya bahagia dan kita bukan sebabnya"
aku mencinta gibran dan tidak memilikinya.
"ada yang harus dikorbankan dari bahagia"
"apa?"
"perasaan"
"aku tidak suka itu"
"aku terpaksa harus menyukainya. aku mengorbankan perasaanku untuk kebahgiaanya."
"aku lelah berteka-teki dengan kalimat bijakmu gibran"
"Aku mencintai kakakmu alina, yaitu alma"
Jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya. mataku enggang terpejam. kukira anita sahabat karibku yang akan merenggut cinta sejatiku tetapi ternyata . . . orang yang sangat amat dekat denganku !!
memang cinta sejati tak harus memiliki.
cinta itu ketulusan. cinta itu keikhlasan. cinta itu memberi tanpa minta dibalas
membiarkannya tersenyum sedang kita bukan alasannya. membiarkannya bahagia dan kita bukan sebabnya
ada yang harus dikorbankan dari bahagia, "perasaan". aku
terpaksa harus menyukainya. aku mengorbankan perasaanku untuk
kebahgiaanya, Gibran wijaya sahabatku dan Alma randania kakak kandungku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar