Tweets by @atikahndey Atikah windy : Mei 2013 Tweets by @atikahndey Tweets by @atikahndey

Terimakasih untuk yang pernah merasakan cinta dan yang pernah terluka, ini semua untuk kalian.

Sabtu, 25 Mei 2013

Dear Bara #2

Dear Bara,
setelah bebrapa hari lalu aku meminta penjelasan atas kehadiranmu direlung-relung hatiku kini aku minta pertanggung jawaban atas perasaanku yang kau buat semakin tak tentu, rasa cemburuku tak terkontrol. Seiring menjadi salah satu pemenang yang berhasil memikat hatimu lewat alunan pena  #DearBara kemarin,Aku kecewa tidak bisa hadir pada acara dinner malam itu, bersama kamu juga pemenang lainnya. Aku menyesal tapi tidak sepenuhnya, karena setidaknya aku sudah bisa menyita perhatianmu walau hanya melalui tulisan sederhanku.
Ah bara... melihat fotomu bersama pemenang lainnya membuat jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. aku merasa aliran darahku berhenti seketika. dari beberapa foto yang kalian unggah, aku melihat posisimu selalu berdiri ditengah-tengah pemenang #Dearbara, rasanya aku ingin berlari menuju Sency lalu menarik tanganmu dan menggeser posisi dudukmu. dengan begitu, pasti kamu semakin yakin bahwa aku adalah wanita posesif  seperti kalimat awal yang pertama kali kamu katakan. Tidak masalah, siapa yang tidak akan menjaga ciptaan Tuhan yang sedemikian tampan sepertimu bara?
kumohon jangan larang aku untuk tidak melebihkan perasaan , karena semuanya sudah terlambat. perasaanku bukan lagi fans yang mengagumi idolanya, melainkan lebih dari itu. Tidak percaya? iya memang. kamu selalu tidak percaya dengan apa yang kukatakan bukan? sekarang, apalagi yang harus aku sampaikan padamu bar? untuk menikmati malam itu bersamamu saja tidak bisa, bagaimana caranya aku dapat tinggal dalam ruang hati kosongmu?
Dari seseoarang yang selalu gagal mengungkap rindu.

Sabtu, 11 Mei 2013

Kita. . .Terjebak situasi

Bertemu lagi, kali ini aku tidak akan membahas tentang airmata. tentang keributan kecil kita, tentang luka. Maaf jika kemarin aku sibuk menuliskan tentang sakit sebenarnya aku ingin sekali bercerita tentang kebahagiaan kita tapi aku belum rela jika banyak orang yang tau hal itu.
Aku mulai, kamu tau? aku bahagia, kamu tlah kembali seperti dulu aku seperti menemukan sosokmu yang sempat pergi.sungguh bahagia yang tak terkira.Kebahagiaan yang sempat terselimuti luka perlahan kembali terbuka.entah dimana tepatnya semua itu berubah tapi aku yakin semuanya akan kembali seperti ini.tidak ada yang tak mungkin dalam cinta bukan?iya. aku juga tau, tak mungkin matamu terlalu buta untuk melihat apa yang kuperjuangkan dan tak mungkin hatimu terlalu cacat untuk tau ada aku yang selalu mencintaimu.Jangan punya fikiran aku menyalahkanmu, hanya saja aku tidak suka perhatianmu direbut habis kesibukanmu.bukankah diawal kita sudah saling berjanji untuk selalu ada? Aku tidak bermaksud membuat semuanya menjadi rumit aku hanya ingin mendapatkan hatimu sepenuhnya dengan cara sederhana.
Sederhana? benar, seperti pertemuan kita kan?kita menjalin persahabatan selama 1tahun, persahabatan yang erat, sangat dekat.Waktu selalu kita lewati bersama, berdua, selalu begitu.dan sampai akhirnya kita bertemu dengan masalah yang mungkin saja tak pernah kau bayangkan begitu juga aku: Cinta.
Sahabat jadi cinta? entahlah apa aku berhak memberi julukan kepada cerita kita seperti itu. karena selama kita bersahabatpun rasa aneh seringkali tumbuh. terlebih ketik kamu bercerita tentang apapun itu, aku sangat merasa sangat dekat denganmu, sangat! tidak kupungkiri, kamu adalah bagian masalalu dari teman dekatku. namun dari definisi cinta yang kutau; Cinta itu buta, tak bisa melihat kepada siapa ia mendarat dan waktu yang tak bisa ditebak. bukan begitu? Jadi haruskah kita disebutnya salah? haruskah mereka menghakimi kita terus menerus?
Tuan, ingatkan malam itu? 7januari 2013 akhirnya aku dan kamu menjadi kita. setelah kita sempat berputar-putar tak karuan , memberi sinyal tanpa ucap. yang satu menunggu yang satunya pun begitu. lucu tapi indah.
waktu menyeret kita semakin jauh semakin dalam, kita terjebak situasi. tanpa peduli lagi orang-orang yang mengerutkan alisnya mengetahui kita bersama, tak peduli dengan luka yang akan datang, cerita yang akan jadi kenangan.semuanya kita lupakan! kita berjalan santai menjemput masadepan, pelan tapi pasti. Munafik kalau aku bilang kita sangat membahagiakan, tidak seperti itu. ada yang harus dan pernah kita perjuangkan; kasih sayang. ada yang harus kita lawan; jarak dan keegoisan. ada yang harus kita pertahankah; kepercayaan dan kesetiaan. terlepas dari itu, kita harus sering berbincang dengan Tuhan tentang mimpi kita. Betapapun banyak umatNya mustahil kita terlewatkan.
Oiya ada lagi, sejauh ini banyak sekali mimpi yang tlah kita ukir. salah satunya mencari nama untuk anak kita kelak, terlalu jauh memang tapi tidak ada yang melarangkan? Derent, Lintang dan Bintang. Kuharap kau tidak jenuh berulang kali aku sebut nama mereka disini. maklumlah aku sudah merasa mereka itu nyata, aku merasa dekat dengan mereka; nama anak-anak kita kelak.
Tuan, kalau boleh jujur. sebenarnya aku ingin sekali marah setiap kali kamu masih meraba-raba nama mereka; anak-anak kita kelak.Aangkasa, buni, angin, cakrawala, pelangi, mentari dan banyak lagi yang kau ceritakan padaku. nama yang unik tapi tidak sama sekali mengindahkan Derent, Lintang dan Bintang tergantika, tidak. semoga kau mengerti permintaanku yang satu ini.
Kurasa cukup, terlalu panjang jika aku menceritakan semuanya disini. akhir kata, Aku hanya titip masa depan bersamamu, tanpa dia dia dan dia; hanya kamu.

Selasa, 07 Mei 2013

Terlalu Singkat

Pertemuan yang sederhana; bertemu berkenalan berdekatan lalu saling mencintai dan akhirnya berpisah. Awalnya berjalan dengan sempurna,uluran tanganmu yang (kelihatannya) tulus tentu saja membantu aku bangun dari keterpurukan. Kita bercanda kita tertawa kita membahas hal-hal yang manis bersama semuanya sungguh sangat nyata walau sebenarnya perbincangan manis kala itu tak kumaknai luar biasa.
Kehadiranmu membawa hal baru. hal yang berbeda darimu turut membuka mata dan hatiku dengan lebar.Aku belum sadar, bahwa kamu datang sebagai dewa  penolong. Untuk beberapa lama; aku tak mengizinkan relung-relung hatiku terisi olehmu.Tapi aku merasa kosong jika sehari saja kita tak saling bertatap tak saling berucap.Kita memang begitu, selalu menghabiskan waktu untuk membicarakan hal yang menarik. sampai akhirnya kita berbicara tentang hal yang paling menyentuh; Cinta.
waktu berjalan, tanpa aku sadari cinta sudah menyeretku kedalam ruang yang mungkin saja tak pernah kuingini.Aku terus meyakinkan diriku sendiri,bahwa kau bukanlah dia; seseorang yang kutunggu kedatangannya, seseorang yang selalu kutanyakan keberadaannya pada Tuhan.Aku selalu meyakinkan diriku sendiri, bahwa perhatianmu candaanmu hanya dasar dari pertemanan kita.Ya sebatas teman, aku tak berani mengharapkan sesuatu yang lebih.Aku tak pernah mau mengingat kenangan sendiri, aku tak pernah siap merasakan luka yang belum juga kering menyayat. tapi nyatanya...
perasaanku tumbuh semakin pesat bahkan tak dapat lagi kukendalikan.Bagaimanapun aku hanya manusia biasa yang merasakan kenyamanan dalam hadirmu, aku hanya wanita biasa yang punya rasa takut kehilangan.Salahku memang jika mengartikan semua adalah cinta?
Kamu sudah menjadi sebab tawaku,seolah pelangi sehabis hujan aku yakin kamu adalah sinar yang paling terang dikehidupanku. Aku sangat yakin,sangat! dan itu hal bodoh yang paling kusesali.
Akhirnya ketakutanku terjawab sudah,kekhawatiranku tentang sakit. Kamu mengulurkan tangan saat ku tersungkur lalu kau eratkan dengan waktu yang tak begitu lama, kamu kembali melepaskan genggaman itu. membuatku jatuh bahkan lebih sakit, lebih perih.
Tapi pantaskah aku marah?Aku sadar, aku sendiri yang salah mengartikan tentangmu, semuanya.Mungkin benar, aku hanya menjadi persinggahan; bukan tujuan.Jika kau ingin tau, aku sudah merencanakn mimpi-mimpi yang belum sempat aku beritahu padamu.biarkanlah, kuserahkan semua pada Tuhan. Dia tentu punya cara tersendiri membuat aku dan kamu bahagia.aku hanya menunggu waktunya saja.
Aku tak berhak memintamu kembali, aku tak punya wewenang untuk memintamu segera pulang, Adakah yang perlu kupaksakan jika bagimu aku tak pernah jadi tujuan? Tidak munafik, aku merasa kehilangan.Aku menyesal, sempat membiarkanmu menunggu tanpa kepastian sampai akhirnya kamu pergi tanpa kepastian.namun ini memang salahku juga, tak benar-benar menjaga hatimu, tak serius memelihara cinta kita.bukan aku menyalahkanmu, tapi tak mungkin jika matamu terlalu buta dan hatimu terlalu cacat untuk melihat ada aku yang mencintaimu.
kini aku harus belajar, merelakan melepaskan dan melupakan cinta yang terlalu singkat ini menjadi sebuah kenangan.
Dari seseorang yang belum berani memintamu kembali

Senin, 06 Mei 2013

diam-diam. . . dari sudut sini

 Untuk kamu, yang tak pernah tau ada aku yang tersayat hatinya
dari sudut sini, ada yang diam-diam memperhtikanmu, diam-diam mengagumimu, merindumu tanpa henti.Aku terlalu pengecut mengungkapkan semuanya, matamu bibirmu garis pada wajahmu membuatku semakin mengecil. Sudah lama, aku menjadi penonton gerak-gerikmu, dari senja yang tak pernah peduli sampai bulan sabit yang kebingungan dengan kelakuanku. Aku sendiri lupa caranya untuk pulang tanpa hasil karena yang aku tau aku sedang berjuang untuk pulang dengan kemenangan, bukan ketidak sia-siaan. aku mulai menikmati luka yang kamu ciptakan, aku mulai suka dengan dentingan jam yang selalu kau buat semakin lama, aku semakin terbiasa dengan airmata, dengan pipi yang basah,  aku mulai terbiasa dengan luka.
Bukan waktu yang sebentar, aku butuh penguat untuk tetap berdiri disini. diujung jalan yang entah menunggu apa.melihat kamu seutuhnya, menatap ciptaan Tuhan yang sedemikian sempurna.
Lebih dari sini, ada yang diam-diam tersakiti.dari jarak sejauh ini. tanpa kau tau tanpa kau duga. Aku takut menyapamu, aku takut jika ternyata perhatianku selama ini benar-benar tak terasa olehmu. Apakah benar, kita memang saling membutuhkan? karena gengsi rupanya kita masih tetap memendam seperti ini? tahukah? aku ingin berjalan bersamamu dalam gelap dan peluh hujan. bagiku tidak masalah selagi tanganmu mengeratkan jemariku.
Kuakui, memang salahku menjadi orang pengecut. Aku hanya berani mendoakanmu dari sini yang hanya Tuhan dan Tasbihku yang tau. sungguh, aku takut berkata jujur padamu. karena pengungkapan kadang tak benar-benar tak membuatmu paham bukan? maka aku memutuskan untuk memendam sampai batas waktu yang tak bisa kutentukan.

Kamu, Bara

Dear Bara,
diawal, aku ingin penjelasan darimu. Bagaimana bisa kamu memenuhi sudut diotakku sampai pada sudut terpencil? seiring itu, apa alasanmu sering hadir dimimpiku? aku sangat tak paham, semua terjadi begitu cepat.Aku melihat foto pertamamu ditwitter, membelakangi kamera. entah apa yang seolah seisi gambar itu memikatku. Tanpa teori apapun, bayangmu masuk dalam imajinasi. tinggal direlung-relung hatiku. Melihat timelinemu, mengetahui frasa demi frasa dalam twittermu, sejak itu aku mulai menyebutmu ; Seorang penulis yang memikat. iya, memang hadirmu yang begitu semu seolah sangat nyata untukku. sayang saja rasaku ini sungguh sulit untukku jelaskan, begitu absurd. kamu terlalu usil mengusik hari dan waktuku.sampai aku lupa duniaku; dunia nyata. kamu menjadi penyebab semangat hidupku, atas alasan apapun : aku tak bisa menolak tarikan kalimat manismu. haruskah ini kusebut jatuh cinta?
Aku tak bisa melupakanmu... sungguh! aku selalu ingat caramu menyusun abjad menjadi kalimat yang menyenangkan untuk dibaca. dari beberapa buku yang kau tulis, aku baru membaca buku terbarumu #MILANA yang kata demi katanya menusuk ulu hatiku. aku semakin dimabuk pesonamu. aku berjanji, aku akan membeli dan membaca semua yang kau tulis semua yang kau cipta,dan walaupun mata kita belum pernah bertemu, aku bisa membaca sinar matamu disebrang sana lewat kalimat yang selalu kau publikasikan. kita tak pernah atau malah tak mungkin punya waktu berbicara. Rasanya mustahil. tapi aku tidak mau peduli tentang itu, tentang perbedaan yang ada diantara kita. aku hanya ingin tau ternyata aku semakin mencintaimu suatu ketika aku mendapatkan fotomu bersama wanita cantik. hatiku tersayat, kalau kau bertanya sekali lagi "mengapa bisa?" aku akan menjawabnya dengan kebisuan.
Rasanya menyebalkan, ketika foto itu berulang kali menguasai ingatanku. selain itu, aku sangat tidak suka disaat kau mulai memberi kalimat yang selalu membuat hati wanita bergetar.Aku ingin sekali mengatakan padamu, bahwa hanya aku yang boleh menerjemahkan setiap tutur manismu. bahwa hanya aku yang boleh membaca setiap jentikan jemarimu. hanya aku: yang selalu merapal namamu dalam doa.
ketahuilah Bara, aku yang selalu gagal mengungkapkan rindu. aku yang tak pernah berani mengatakan sesuata yang pasti akan membuatmu terkejut; aku menyukaimu.
   Dari seseorang yang senang sekali berlama-lama membaca alunan penamu, Bara.
                                                         

            

Sabtu, 04 Mei 2013

Bunda di nisan

Dalam gelisahku
Ku merindu malaikat hidupku
Dalam relungku
Ku mencari jawaban atas risauku
 Sedalam bait ini
 Ku memintamu kembali
 Kehilangan sosoku
 Adalah kiamat untukku
Aku diam
Engkau tak beri jawaban
Aku semakin bisu
Bibirmu kelu tubuhmu kaku
 Apalagi yang bisa kulakukan
 Sekiranya jantungmu sudah tak berdetak
 Kupeluk namun tak kau balas
 Ku menangis tapi tak jua kau usap
Kini kutemukan arti dirimu Bunda
Ku hanya bisa memelukmu yang tak lagi bernafas
Ku hanya bisa memelukmu yang tak lagi berdenyut
Ku hanya bisa memelukmu dalam doa dalam harapan
 Bunda kan kurindu senandung cintamu
 Bisikan kasihmu
 Lirih kubersuara
 Tapi kau masih menulikan telinga
Terimakasih untuk rahim yang sempat kutempati
Terimakasih untuk tetesan airsusumu, milyaran darahmu
Terimakasih untuk keteguhan hatimu
Terimakasih pelukan terakhirmu
Bunda...kueratkan dekap di nisanmu

Jumat, 03 Mei 2013

dalam dekapku

Dia datang, selalu sama. menghangatkanku dengan pelukan. sampai bibirku kelu, sampai aku tak mampu lagi ungkapkan luka. pelukannya menjalar kesegala penjuru hatiku yang sempat beku oleh pengabaiannya. ia mengecup keningku, berkali-kali. Aku hanya diam; lagi-lagi. tentu saja, tidak ada airmata. jemarinya yang sedari tadi mengusap lembut helaian rambutku membuatku merasa aman dan terlindungi, walau untuk beberapa detik saja aku sangat bahagia.
Dimalam sedingin ini, dia semakin eratkan pelukannya. semakin membuatku lupa rasanya sakit. kita yang selalu dibuatnya lupa, terkalahkan keangkuhannya. dan sebenarnya kita yang tak pernah ada; semu. kita yang sebabkan luka namun enggan mengobatinya bersama. Aku tak mau banyak komentar ketika tawa renyahnya membuncah kesetiap ruang ditelingaku, kedekap hangat dadanya, tenggelam sangat dalam disana.
Aku mengadahkan wajah, mencoba menangkap sinar matanya: kosong, tak kutemukan sinarnya sehangat dulu. Jadi, apa yang kuharapkan dari sosok yang tak juga beri jawaban? aku tertunduk.
"ada apa?"
"ada apa? harusnya aku yang bertanya"
"ada amarah dimatamu"
"kenapa baru datang?"
dia terdiam. selalu begitu.
"salahkan jika aku bertanya kemana kau selama ini?"
"aku baru punya waktu sekarang, aku minta maaf"
"maafmu terlalu murah"
"ini yang terakhir"
"kau mengatakan itu sebulan yang lalu"
hening. selalu saja dia membisu.kini tangannya tak lagi mendekapku, aku menarik nafas perlahan.
"harusnya kau tak usah datang bila untuk pergi lebih lama lagi"
Tiba-tiba ia memelukku lebih erat lagi. menyusup masuk kefikiranku.bisa mati iseng jika aku membiarkan bayangannya mencekik lebih lama lagi. pandangan kualihkan.
"aku membutuhkanmu" tangannya menggenggam tanganku erat.
"dan aku harus tetap disampingmu saat kau butuh, bahkan ketika aku butuh tapi kamu tidak ada" suaraku mulai lirih.
"duniaku terlalu rumit"
"betapapun rumitnya, aku akan tetap berada didekatmu. kenali aku pada duniamu"
pandangannya nanar. kepalanya bersandar dipundakku. Aku ungkapkan keresahan hatiku, tak peduli ia menyimak atau hanya menganggapnya angin lalu.
untuk beberapa lama, sunyi. Belum juga ada jawaban pembelaan diri yang sering ia lakukan setiap kali aku keluhkan salahnya.
"jangan pergi"
dia diam.
"jangan pergi lagi, kumohon"
masih sama: hening.
Ku eratkan pelukku dibahunya, tangisku pecah. namun ia tertidur pulas, dalam dekapku.
Ditengah kerinduanku, Aku diabaikan lagi. Tidak lama ia akan kembali kedunianya lalu lupa untuk pulang. dan pada dentingan waktu, sampai ditepi sana, aku berdiri dan dia berlari. mematung, kusempatkan berharap dia untuk menoleh. tapi ternyata tidak; dia semakin lelap dan mimpinya semakin tinggi.
Aku sendiri, bulir airmataku semakin deras.

Rabu, 01 Mei 2013

Cerita sederhana, kita

Ini bukan hal baru untukku, duduk ditemani kesepian. membaca paragraf  yang disana selalu berdiri tentangmu yang sebenarnya enggan kubaca dan kudefinisikan lagi, rasanya terlalu rumitt, absurd.
ini bukan yang pertama bagiku duduk berjam-jam tanpa perhatian hangat dari pesan singkatmu, kehampaan sudah berganti-ganti wajah sejak tadi, namun aku tetap membuta mencoba tak peduli.
pastinya, kamu tidak merasakan apa yang kurasakan, kamu tak memiliki rindu yang kusimpan rapih. aku sengaja menyembunyikan rasa itu agar kita tak saling mengganggu. bukankah dengan berjauhan seperti ini,kita lebih merasa berarti? seakan-akan aku tak pernah peduli, seakan-akan aku tak pernah mau tau, tak pernah peka.kini untukku, aku dan kamu sudah cukup, tanpa kita.
kali ini aku tidak akan bercerita tentang airmata, aku tidak akan tega membebani kecintaanku dengan masalah cinta mati.
Dulu ketika aku bercerita cinta kau malah tertawa. ketika aku berkata rindu kau malah menulikan talinga. hanya cerita sederhana yang mungkin tak ingin kau dengar. kau tak suka diantar tidur dengan cerita menyakitkan bukan? baiklah bagimana kalau dari menyakitkan kualihkan menjadi: pura-pura bahagia? miris. tapi tentu saja kau tak pernah tau bahkan mungkin sifat burukmu belum juga hilang masih dalam ketika pekaan.
entah mengapa, akhir-akhir ini aku sangat merasa sepi sekali. seolah aku mendengar bisikan suaraku sendiri. namun aku heran, ditengah sunyinya malam masih saja ada cerita yang terlewatkan olehku... tentang kita.ah pasti kini kamu membuang muka. akupun sama, sebenarnya aku malas sekali mereka-reka senyummu yang dulu ini, menerjemahkan setiap rindu yang tertahankan, meraba setiap bayang semumu.diam-diam aku menyebut namamu dalam sepi menyelipkan namamu dalam doa dalam perbincangan yang cukup lama dengan Tuhan.
Dalam ketidak jelasan,aku dan kamu masih saja menjalani yang entah harus disebut apa. tapi katamu,aku terlalu berlebihan mengungkapkan perbedaan; aku dan kamu. perhatian kita sama, kita memiliki denyut dan detak yang sama, tidak berbeda.Tidak usah diambil pusing, aku sudah biasa bermain dengan kalimat yang menurutmu bodoh.semenjak kita berjarak, aku semakin sering bersentilan dengan sepi.tidak asing bagiku.
Sebentar lagi kita akan bertemu dengan tanggal 7. ingat apa yang kita lakukan empat bulan yang lalu?bukan waktu yang lama kan untuk mencoba membuka lembaran lama itu? masa dimana aku dan kamu seutuhnya menjadi kita.
seperti biasa, sama halnya dengan persahabatan yang lain. kita sering menghabiskan malam berdua, melewati malam ditemani tiga bintang yang selalu hidup dicerita kita. kamu mengatakan kejelasan, aku terkejut. kamu masih memasang wajah serius, semakin serius tatapanmu semakin dalam dan kamu berucap pelan.iya, saat itu aku dan kamu menjadi kita. indah, tapi itu masalalu "dulu" sudah kubilang diawalkan? ini cerita sederhana. jangan dibawa serius.
                                                                        dan menulis diantara kertas yanng berserakan, 
                                                                            diantara remang-ramang kilauan sinar. 
                                                                                               aku masih merindukanmu.
                   
Tweets by @atikahndey