Kehadiranmu membawa hal baru. hal yang berbeda darimu turut membuka mata dan hatiku dengan lebar.Aku belum sadar, bahwa kamu datang sebagai dewa penolong. Untuk beberapa lama; aku tak mengizinkan relung-relung hatiku terisi olehmu.Tapi aku merasa kosong jika sehari saja kita tak saling bertatap tak saling berucap.Kita memang begitu, selalu menghabiskan waktu untuk membicarakan hal yang menarik. sampai akhirnya kita berbicara tentang hal yang paling menyentuh; Cinta.
waktu berjalan, tanpa aku sadari cinta sudah menyeretku kedalam ruang yang mungkin saja tak pernah kuingini.Aku terus meyakinkan diriku sendiri,bahwa kau bukanlah dia; seseorang yang kutunggu kedatangannya, seseorang yang selalu kutanyakan keberadaannya pada Tuhan.Aku selalu meyakinkan diriku sendiri, bahwa perhatianmu candaanmu hanya dasar dari pertemanan kita.Ya sebatas teman, aku tak berani mengharapkan sesuatu yang lebih.Aku tak pernah mau mengingat kenangan sendiri, aku tak pernah siap merasakan luka yang belum juga kering menyayat. tapi nyatanya...
perasaanku tumbuh semakin pesat bahkan tak dapat lagi kukendalikan.Bagaimanapun aku hanya manusia biasa yang merasakan kenyamanan dalam hadirmu, aku hanya wanita biasa yang punya rasa takut kehilangan.Salahku memang jika mengartikan semua adalah cinta?
Kamu sudah menjadi sebab tawaku,seolah pelangi sehabis hujan aku yakin kamu adalah sinar yang paling terang dikehidupanku. Aku sangat yakin,sangat! dan itu hal bodoh yang paling kusesali.
Akhirnya ketakutanku terjawab sudah,kekhawatiranku tentang sakit. Kamu mengulurkan tangan saat ku tersungkur lalu kau eratkan dengan waktu yang tak begitu lama, kamu kembali melepaskan genggaman itu. membuatku jatuh bahkan lebih sakit, lebih perih.
Tapi pantaskah aku marah?Aku sadar, aku sendiri yang salah mengartikan tentangmu, semuanya.Mungkin benar, aku hanya menjadi persinggahan; bukan tujuan.Jika kau ingin tau, aku sudah merencanakn mimpi-mimpi yang belum sempat aku beritahu padamu.biarkanlah, kuserahkan semua pada Tuhan. Dia tentu punya cara tersendiri membuat aku dan kamu bahagia.aku hanya menunggu waktunya saja.
Aku tak berhak memintamu kembali, aku tak punya wewenang untuk memintamu segera pulang, Adakah yang perlu kupaksakan jika bagimu aku tak pernah jadi tujuan? Tidak munafik, aku merasa kehilangan.Aku menyesal, sempat membiarkanmu menunggu tanpa kepastian sampai akhirnya kamu pergi tanpa kepastian.namun ini memang salahku juga, tak benar-benar menjaga hatimu, tak serius memelihara cinta kita.bukan aku menyalahkanmu, tapi tak mungkin jika matamu terlalu buta dan hatimu terlalu cacat untuk melihat ada aku yang mencintaimu.
kini aku harus belajar, merelakan melepaskan dan melupakan cinta yang terlalu singkat ini menjadi sebuah kenangan.
Dari seseorang yang belum berani memintamu kembali
Tidak ada komentar:
Posting Komentar