Untuk kamu, yang tak pernah tau ada aku yang tersayat hatinya
dari sudut sini, ada yang diam-diam memperhtikanmu, diam-diam mengagumimu, merindumu tanpa henti.Aku terlalu pengecut mengungkapkan semuanya, matamu bibirmu garis pada wajahmu membuatku semakin mengecil. Sudah lama, aku menjadi penonton gerak-gerikmu, dari senja yang tak pernah peduli sampai bulan sabit yang kebingungan dengan kelakuanku. Aku sendiri lupa caranya untuk pulang tanpa hasil karena yang aku tau aku sedang berjuang untuk pulang dengan kemenangan, bukan ketidak sia-siaan. aku mulai menikmati luka yang kamu ciptakan, aku mulai suka dengan dentingan jam yang selalu kau buat semakin lama, aku semakin terbiasa dengan airmata, dengan pipi yang basah, aku mulai terbiasa dengan luka.Bukan waktu yang sebentar, aku butuh penguat untuk tetap berdiri disini. diujung jalan yang entah menunggu apa.melihat kamu seutuhnya, menatap ciptaan Tuhan yang sedemikian sempurna.
Lebih dari sini, ada yang diam-diam tersakiti.dari jarak sejauh ini. tanpa kau tau tanpa kau duga. Aku takut menyapamu, aku takut jika ternyata perhatianku selama ini benar-benar tak terasa olehmu. Apakah benar, kita memang saling membutuhkan? karena gengsi rupanya kita masih tetap memendam seperti ini? tahukah? aku ingin berjalan bersamamu dalam gelap dan peluh hujan. bagiku tidak masalah selagi tanganmu mengeratkan jemariku.
Kuakui, memang salahku menjadi orang pengecut. Aku hanya berani mendoakanmu dari sini yang hanya Tuhan dan Tasbihku yang tau. sungguh, aku takut berkata jujur padamu. karena pengungkapan kadang tak benar-benar tak membuatmu paham bukan? maka aku memutuskan untuk memendam sampai batas waktu yang tak bisa kutentukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar