Akuselalau mendoakanmu dengan cara sederhana, dengan nada-nada yang barang kali dapat menyembuhkan luka.
Tak biasa dipungkiri ada rindu yang menjalar perlahan, saat ragamu tak dapat kurengkuh bahkan dalam jarak yang tak begitu jauh.
Akhir-akhir ini,
entah apa alasannya. Aku selalu senang setiap menuliskan kata demi
kata tentangmu. Tersenyum tanpa sebab sambil terus mengalunkan pena
dikertas putih kepunyaanku. Selain itu, aku selalu suka mendengar suara
tawamu, meski aku bukanlah temen tertawamu.
Sejak awal, aku sudah
mengira bahwa ini hanyalah rasa kekagumanku saja. Aku salah,perasaan ini
semakin berkembang tak wajar. Ada perasaan aneh yang sulit kuhindari.
Aku mulai menyayangimu tanpa sepengetahuanmu. Aku mulai
takut kehilanganmu tanpa pernah memilikimu.
Daridulu, aku tak
pernah takut mencintaimu. Bagai air dalam ombak lautan, mengikuti setiap
lekukan ombak biru. Dan tanpa kusadari, perasaanku ikut hanyut
dalam gelombang laut itu. Segalanya membuatku lupa, bagaimana bisa aku
begitu menggilaimu?
Aku mencintaimu dengan tulus, sungguh. Kau
sudah tahu bukan ? aku tak pernahmenuntut apa yang aku mau. Aku tak
pernah meminta kejelasan atas kedekatankita. Aku hanya mencintaimu,
dalam jarak dalam waktu dan dalam diam.
Selama ini, aku merasa
bahwa aku bias memahamimu. Aku mengerti dengan semua mimpi yang kau
ceritakan, tanpa kusadari bahkan ada keinginanku untuk dapat
mewujudkan mimpi itu bersama-sama tapi semua pastilah mustahil.
Sejauh ini,
tak banyak yang dapat kulakukan untuk dapat memilikimu. Bukan
tak ada keinginan, tapi kusadar ada perbedaan yang terbentang luas diantara
kita.
Pada setiap lagu yang ku nyanyikan, engkau adalah nada yang
paling menggetarkan. Meski suara ombak beradu dengan karang, namun tetap
aku bertahan dalam cinta yang tak terungkapkan. Sebenarnya, aku ingin
jadi udara hingga paru-paru mu tak lagi pasi. Aku ingin jadi langkahmu
hingga kakimu tak lagi tangguh. Aku ingin jadi penglihatanmu sampai
matamu tak lagi tajam namun aku lebih baik menjadi duri,jika tak
sekalipun kau anggap aku berarti. Lebih baik aku mencintai sepi
dan mendekap kepedihan sendiri. Sudah biasa, seperti burung yang terbang
melalang buana, hinggap pada pohon tak kentara. Terpaksa aku tak
menungkapkan cintan yang mengendap dihati. Mungkin nanti, kau akan
melihat satu dua kapal antah berantah akan mengangkut rahasia yang
kusimpan ; Mencintaimu.
Dalam diam, aku tak harus menunggu kau
patah dulu, aku tlah hidup lama dihatimu,sembunyi-sembunyi. Pelukku tak
dapat menunggu, meski lewat doa ku tetap dekapdukamu. Saat airmatamu
luruh, ku sudah siap menangkap kerapuhanmu. Kelak, kauakan rasa pelukku
diiringi nada bermelodi merdu. Entah kapan semua itu kejadian, aku ingin
secepatnya. Sampai tiba saatnya, aku akan mati dimakan waktu. Aku akan
habis dilebur kenangan. Lalu masing-masing kita hanya tinggalkan cerita.
Tapi sebelum
itu, ada yang syahdu dari sebuah peluk, mungkin ialah puisi yang ditulis
diam-diam, yang tercipta dalam remang malam. Seperti itu, seperti
ituaku mencintaimu. Mungkin banyak yang mengajakmu terbang dengan sayap
yang paling indah, tapi bukankah lebih tulus berjalan bergenggaman
diantara duiryang menusuk telapak ? meski menginjak pecahan kaca
sekalipun. Aku mengenalmu sebagai cinta yang kutumpahkan dimeja,
kubiarkan tergenang disana, sampai habis terserap udara.
Untukku,merindumu
bagai samar cahaya yang ditumpahkan sebiji bulan. Dari kejauhan
aku merindukanmu namun kau tak pernah bias untuk melihat sinar itu. Meski
ada duka,aku sadar bahwa setiap luka harusnya berjeda. Perihal luka,
aku hanya menanyakan pada gelap dilorong panjang. Kutanam cintaku dalam
diam, rindu takkan mati dalam hening. Tenanglah…aku akan menjaga jarak
dan waktu. Sejatinya,kau akan meneduhkan rindumu bersamaku. Entah kapan,
aku tak pernah berani untuk menebaknya. Aku hanya mengikuti jarum jam
yang berjalan sendiri.
Dari kejauhan, aku selalu memperhatikan air
wajahmu. Sesekali kau terlihat murung dan terlihat lesu. Seketika itu,
akuingin sekali menghampirimu dengan secangkir cokelat panas disertai
sentuhan kecil dihatimu. Selalu ada rasa takut kehilangan bila aku ingin
meraihmu. Memang,kau begitu tinggi dan begitu sulit untuk kuraih. Aku
hanya wanita yang mencintaimu dalam diam. Aku hanya wanita bernyali ciut
yang memperhatikanmu dari kejauhan. Aku hanya..ah sudahlah, aku memang
bukan apa-apa dimatamu.
Sekali lagi, kau harustahu, bukan aku tak
pernah mau perpisahan setelah cinta membuah kita jauhterbang bebas. Aku
juga tak pernah mau tahu tentang rasamu, bukan aku tak maumemilikimu.
Aku hanya takut bahwa pada akhirnya semua harus berkesudahan denganrasa
sakit yang kita rasakan masing-masing.
Bukan waktu
yang sebentar, aku butuh penguat untuk tetap berdiri disini.
diujung jalan yang entah menunggu apa.melihat kamu seutuhnya, menatap
ciptaan Tuhanyang sedemikian sempurna. Lebih dari sini, ada yang
diam-diam tersakiti.darijarak sejauh ini. tanpa kau tau tanpa kau duga.
Aku takut menyapamu, aku takutjika ternyata perhatianku selama ini
benar-benar tak terasa olehmu. Apakah benar, kita memang saling
membutuhkan? karena gengsi rupanya kita masih tetap memendam seperti ini?
tahukah? aku ingin berjalan bersamamu dalam gelap danpeluh hujan.
Bagiku tidak masalah selagi tanganmu mengeratkan jemariku.
Kuakui,
memang salahku menjadi orang pengecut. Aku hanya berani mendoakanmu dari
sini yang hanya Tuhan dan Tasbihku yang tau. sungguh, aku takut
berkata jujur padamu. karena pengungkapan kadang tak benar-benar tak
membuatmu pahambukan? maka aku memutuskan untuk memendam sampai batas
waktu yang tak bisakutentukan.
Meski cintaini
tak terungkap, namun aku tak pernah mau dengar kata selamat tinggal
dansalam perpisahan. Kini lewat sebuah paragraph yang sederhana, aku
menemukanmu diujung langit, Bahkan akutak bias menyentuhmu. Biar hening
aku dan kamu berlayar pada kapal yangberbeda, pad arah tujuan dermaga
yang tak sama. Biarlah jingga itu meredupsendiri, biarkan cinta tak
terungkap sampai nanti.
Dengarkan, Bukan dalam dongeng
aku temukan sinarmu dalam sadar yang tertampar kilaumu. Bukan dalam
dongeng aku terjaga dari suntuk langit-langit mendung yang bergemuruh
dengan angin. Bukan dalam dongeng aku mencintai setiap gerak sikapmu
dengan segala tawa magismu. Bukan dalam dongeng, ku kepakan sayap
untuk
menjemput bahagiaku "kamu". Bukan dalam dongeng, kuminta kaupulang dan
ku kejar jika kau berlari. Bukan dalam dongeng, ku rangkai kata yangtak
begitu rumit namun sukar dijelaskan.
Aku tak pernah mau.
Kita Seperti hujan, datang dengan basah yang tak begitudingin menelusup
masuk dalam rambut hitam legam yang terpudar oleh hembusan angin. Kita
basahi apa saja yang menurut kita pantas dihujani. tanah yang gersang
atau bahkan daun yang kering setelah gugur. setelah itu, seperti hujan ,
kita tinggali semua yang telah basah kuyup, tanpa mau tahu yangtersiram
terluka ataukah merasa perih. Kita hujani apapun dihadapan sampai
lupa bahwa rintikannya tak selalu bawa bahagia. seperti hujan, kita
datang dan mengguyur seluruh pasir dalam hati yang amat gersang ada
kenyamanan disana tapitak lama kemudian cinta itu berhenti lalu pergi.
sekali lagi, aku tak mau kita seperti hujan. Aku tak pernah mau, kita
menjadi Pertemuan yang sederhana;bertemu berkenalan berdekatan lalu
saling mencintai dan akhirnya berpisah.
Sampai mata
kita bertemu, aku menyimpan rindu yang tlah lama merasuk
menyimpannya diladang rindu. ilalang lebat meninggi takberaturan memapas
habis pasir yang gersang. tak ada dipandangan, adakah disana panas kau
rasakan?disini, aku kegerahan berkeringat kenangan lampau.
waktu berjalan, tanpa aku sadari cinta sudah menyeretku kedalam ruang
yang mungkin saja tak pernah kuingini.Aku terus meyakinkan diriku
sendiri,bahwa kau bukanlah dia; seseorang yang kutunggu kedatangannya,
seseorang yang selalu kutanyakan keberadaannya pada Tuhan.Aku selalu
meyakinkan diriku sendiri, bahwa perhatianmu candaanmu hanya dasar dari
pertemanan kita.Ya sebatas teman, aku tak berani mengharapkan sesuatu
yang lebih.Aku tak pernah mau mengingat kenangan sendiri,aku tak pernah
siap merasakan luka yang belum juga kering menyayat. tapinyatanya...
perasaanku
tumbuh semakin pesat bahkan tak dapat lagi kukendalikan.Bagaimanapunaku
hanya manusia biasa yang merasakan kenyamanan dalam hadirmu, aku
hanya wanita biasa yang punya rasa takut kehilangan.Salahku memang jika
mengartikan semua adalah cinta?
Kamu sudah menjadi sebab tawaku,seolah
pelangi sehabis hujan aku yakin kamu adalah sinar yang paling terang
dikehidupanku. Aku sangat yakin,sangat! dan ituhal bodoh yang paling
kusesali. Nyatanya, sampai detik inipun, kita bukan siapa-siapa dan belum
terikat hubungan apa-apa. Aku masih menyimpan cinta ini dengan rapih,
apakah kau juga ?
Akhir kata. Untuk kamu, yang tak pernah
tahu ada akuyang tersayat hatinya.dari sudut sini, ada yang diam-diam
memperhtikanmu, diam-diam mengagumimu,merindumu tanpa henti.Aku terlalu
pengecut mengungkapkan semuanya, matamubibirmu garis pada wajahmu
membuatku semakin mengecil. Sudah lama, aku menjadi penonton
gerak-gerikmu, dari senja yang tak pernah peduli sampai bulan sabityang
kebingungan dengan kelakuanku.
Terimakasih untuk yang pernah merasakan cinta dan yang pernah terluka, ini semua untuk kalian.
Kamis, 14 November 2013
Senja Jingga
Senja jingga itu...
dibalik awan biru yang cerah
terdampar sebuah senja
senja yang indah
senja yang terlihat manis
Senja jingga itu...
Pada sore yang elok
cahayanya melekuk diujung langit
pada garis-garis awan
dan itulah "senja kita" katamu
Senja jingga itu..
pada setiap petang yang menunggu malam
kita rekam anugerah Tuhan itu
berdua bersama-sama
Senja jingga itu...
Ketika aku hanya memotret sendiri
dengan caraku sendiri
Ketika kau melukisnya sendiri
dengan caramu sendiri
Senja jingga itu...
yang kita banggakan
yang menjadi saksi semua cerita
senja itu, tak lagi jingga
dibalik awan biru yang cerah
terdampar sebuah senja
senja yang indah
senja yang terlihat manis
Senja jingga itu...
Pada sore yang elok
cahayanya melekuk diujung langit
pada garis-garis awan
dan itulah "senja kita" katamu
Senja jingga itu..
pada setiap petang yang menunggu malam
kita rekam anugerah Tuhan itu
berdua bersama-sama
Senja jingga itu...
Ketika aku hanya memotret sendiri
dengan caraku sendiri
Ketika kau melukisnya sendiri
dengan caramu sendiri
Senja jingga itu...
yang kita banggakan
yang menjadi saksi semua cerita
senja itu, tak lagi jingga
kau yang mau
Kini aku ada dalam pintu keraguan
lelah meyakinkan hatimu
letih menggapai parasmu
segala cara tlah kucoba
tapi kau tak juga menaruh percaya
Kini aku bagai surya
menunggu senja pulang keperaduannya
aku semakin terhimpit
pada kenangan dan ingatan masalalu
biar malam yang bercerita
kaulah kehormatan atas kesunyian jiwa
Jika memang kau ingin perpisahan
aku akan melakukannya dengan berjalan mundur
menghayati setiap kedip kelopak matamu
menikmati lambaian tangan dan jemarimu
aku akan menggelayutkan seluruh beban
agar aku berjalan dengan amat tergontai
agar kau tak cepat dimakan jarak
agar perpisahan lambat merangkak
Jika memang semua akan berlalu secepat yang kau mau
semua semata kulakukan hanya menuruti keinginanmu
bukan aku sudah tak mau berkorban
bukan aku tak mau memperjuangkan
tapi kau yang ingin semua ini agar aku lakukan
lelah meyakinkan hatimu
letih menggapai parasmu
segala cara tlah kucoba
tapi kau tak juga menaruh percaya
Kini aku bagai surya
menunggu senja pulang keperaduannya
aku semakin terhimpit
pada kenangan dan ingatan masalalu
biar malam yang bercerita
kaulah kehormatan atas kesunyian jiwa
Jika memang kau ingin perpisahan
aku akan melakukannya dengan berjalan mundur
menghayati setiap kedip kelopak matamu
menikmati lambaian tangan dan jemarimu
aku akan menggelayutkan seluruh beban
agar aku berjalan dengan amat tergontai
agar kau tak cepat dimakan jarak
agar perpisahan lambat merangkak
Jika memang semua akan berlalu secepat yang kau mau
semua semata kulakukan hanya menuruti keinginanmu
bukan aku sudah tak mau berkorban
bukan aku tak mau memperjuangkan
tapi kau yang ingin semua ini agar aku lakukan
Kamis, 12 September 2013
Satu hari sebelum hari itu
Satu hari sebelum hari itu,
semua terasa begitu kosong. ketika tiba-tiba kau memutuskan untuk pergi dan mengakhiri semuanya. Dengan rasa tanpa dosa, kau meninggalkan ribuan bahkan jutaan titik yang ku bulatkan. Mungkin kamu akan rugi, menelantarkan aku dengan segala ketulusan untukmu. Mungkin kamu akan menyesal, membiarkan aku berderai airmata seperti ini. Tahukan bahwa kau tak pernah kulupa dalam doa? betapa kesakitan datang berulang kali, tapi aku tak pedulikan itu.kurasa luka bekali-kali tapi aku sembuhkan sendiri. tanpa kau tahu, perjuangan selalu kulakukan. kamu hanya mau tahu duniamu, masuk kedalam bahagiaku tanpa mampir kedalam penderitaanku.
Satu hari sebelum hari itu,
janjimu terbukti palsu
Satu hari sebelum hari itu,
ketulusanmu terbukti hanya bisu
Satu hari sebelum hari itu,
semua cerita menjadi kenangan
Satu hari sebelum hari itu,
mimpi tinggalah asa
Satu hari sebelum hari itu,
kamu kembali pergi dan aku dikecewakan (lagi)
Satu hari sebelum hari itu
dimana kebersamaan kita genap delapan bulan
kau melukai dan kita berpisah
Terimakasih.
semua terasa begitu kosong. ketika tiba-tiba kau memutuskan untuk pergi dan mengakhiri semuanya. Dengan rasa tanpa dosa, kau meninggalkan ribuan bahkan jutaan titik yang ku bulatkan. Mungkin kamu akan rugi, menelantarkan aku dengan segala ketulusan untukmu. Mungkin kamu akan menyesal, membiarkan aku berderai airmata seperti ini. Tahukan bahwa kau tak pernah kulupa dalam doa? betapa kesakitan datang berulang kali, tapi aku tak pedulikan itu.kurasa luka bekali-kali tapi aku sembuhkan sendiri. tanpa kau tahu, perjuangan selalu kulakukan. kamu hanya mau tahu duniamu, masuk kedalam bahagiaku tanpa mampir kedalam penderitaanku.
Satu hari sebelum hari itu,
janjimu terbukti palsu
Satu hari sebelum hari itu,
ketulusanmu terbukti hanya bisu
Satu hari sebelum hari itu,
semua cerita menjadi kenangan
Satu hari sebelum hari itu,
mimpi tinggalah asa
Satu hari sebelum hari itu,
kamu kembali pergi dan aku dikecewakan (lagi)
Satu hari sebelum hari itu
dimana kebersamaan kita genap delapan bulan
kau melukai dan kita berpisah
Terimakasih.
Seperti Hujan
Seperti hujan
kau datang dengan basah yang tak begitu dingin
menelusup masuk dalam rambut hitam legamku
yang terpudar oleh hembusan angin
kau basahi apa saja yang menurutmu
pantas kau hujani
tanah yang gersang
atau bahkan daun yang kering setelah gugur
setelah itu, seperti hujan
kau tinggali semua yang telah basah kuyup
tanpa mau tahu
yang kau siram terluka ataukah merasa perih
kau hujani apapun dihadapmu
sampai kau lupa
bahwa rintikanmu tak selalu bawa bahagia
seperti hujan
kau datang dan mengguyur seluruh
pasir dalam hatiku yang amat gersang
ada kenyamanan disana
tapi tak lama
kemudian kau berhenti lalu pergi
sekali lagi, kau seperti hujan.
kau datang dengan basah yang tak begitu dingin
menelusup masuk dalam rambut hitam legamku
yang terpudar oleh hembusan angin
kau basahi apa saja yang menurutmu
pantas kau hujani
tanah yang gersang
atau bahkan daun yang kering setelah gugur
setelah itu, seperti hujan
kau tinggali semua yang telah basah kuyup
tanpa mau tahu
yang kau siram terluka ataukah merasa perih
kau hujani apapun dihadapmu
sampai kau lupa
bahwa rintikanmu tak selalu bawa bahagia
seperti hujan
kau datang dan mengguyur seluruh
pasir dalam hatiku yang amat gersang
ada kenyamanan disana
tapi tak lama
kemudian kau berhenti lalu pergi
sekali lagi, kau seperti hujan.
Bukan Dalam Dongeng
Bukan dalam dongeng
aku temukan sinarmu dalam sadar
yang tertampar kilaumu
Bukan dalam dongeng
aku terjaga dari suntuk langit-langit
mendung yang bergemuruh dengan angin
Bukan dalam dongeng
aku mencintai setiap gerak sikapmu
dengan segala tawa magismu
Bukan dalam dongeng
ku kepakan sayap
untuk menjemput bahagiaku "kamu"
Bukan dalam dongeng
kuminta kau pulang
dan ku kejar jika kau berlari
Bukan dalam dongeng
ku rangkai kata yang tak begitu rumit
namun sukar dijelaskan
Bukan dalam dongeng
aku mencintaimu
dan menjadikanmu milikku.
aku temukan sinarmu dalam sadar
yang tertampar kilaumu
Bukan dalam dongeng
aku terjaga dari suntuk langit-langit
mendung yang bergemuruh dengan angin
Bukan dalam dongeng
aku mencintai setiap gerak sikapmu
dengan segala tawa magismu
Bukan dalam dongeng
ku kepakan sayap
untuk menjemput bahagiaku "kamu"
Bukan dalam dongeng
kuminta kau pulang
dan ku kejar jika kau berlari
Bukan dalam dongeng
ku rangkai kata yang tak begitu rumit
namun sukar dijelaskan
Bukan dalam dongeng
aku mencintaimu
dan menjadikanmu milikku.
Rabu, 11 September 2013
My life and stories
haallo Assalamualaikum, selamat malam untuk kamu yang lagi sakit, semoga cepet sembuh. untuk yang lagi sehat, semoga dalam keadaan seperti itu. untuk yang sedang mencintai atau sedang dilukai, semoga yang terbaik Allah berikan untuk kalian({})
hem ngomong-ngomong soal dilukai, apasih pertama kali yang ada dipikiran kalian tentang kata 'luka'? apa luka itu waktu kalian makan duren serius sampe bijinya dimakan juga dan karna gakonsen kalian kepleset kulit pisang dan akhirnya luka...no enggaa engga maksunya bukan luka begitu. LUKA? satu kata dalam arti yang luas. waktu kalian ditinggal pergi pacar, luka. Dikhianati temen, luka. diasingin lingkungan, luka. atau dipipisin waktu kalian main petak umpet dan ngumpet dibawa pohon pisang, gitu? *fix yang terakhir diskip*
LUKA....buat gue pribadi sesuatu yang menyakitkan, ngedengernya aja bikin jantung dag dig dug engga karuan. bohong ya kalo gue bilang gapernah ngerasain luka, iya munafik banget kalo ada yang bilang dia gapernah terluka.
oke ngomongin soal luka...untuk gue luka bukan sekedar ditinggal pacar dan nangis sampe ada niatan makan buahepaya sampe kalian pup gaberenti, bukan itu maksud gue. gue pernah ngerasa terluka beberapa kali, oke i tell...ini dia lebih spesifiknya
1. PERCERAIAN
iya luka pertama gue terjadi waktu gue umur 12 tahun pas gue masih unyu-unyu gimana gitu haha..pertamanya nih orangtua berantem hebat gitu gajelas deh gimana alurnya tiba-tiba mereka memutuskan untuk berpisah. kaya orang utan yang lagi panen pisang mendadak pisangnya dirampok sama buaya..gue ngerasain sakit yang amat sangat amat sangat amat sangat sakit! ngedeger kiamat tahun 2012 gaseberapa sama ketakutan gue waktu itu. takut kehilangan keluarga, takut kehilangan adik-adik gue, kehilangan ibu, kehilangan ayah, kehilangan kasihsayang.dan akhirnya gue baru tau gue kehilangan baju daleman gue yang dijemur sama ibu didepan rumah (yang terakhir buat lucu aja ya).setelah perpisahan orangtua gue tinggal sama ayah dan ketiga adik gue. kebetulan ibu yang emang gabisa gue ceritain disini terpaksa ninggalin gue sama adik-adik sendiri. lanjut kebeberapa tahun berikutnya, dampak dari kejadian ini terasa banget waktu gue mau masuk SMK. apalagi pas mau daftar dan ikut test, ngurus ini itu, dan gue semua yang harus ngerjain sendiri, mandiri...ayah yang notabennya seorang pegawai biasa gabisa deh libur kerja seenaknya. begitu juga sama ketiga adik gue yang waktu itu masih duduk dibangku SD, keperluan mereka gue yang ngurus semua. tapi ya alhamdulillah gue sama mereka bisa bertahan sejauh ini, sekarang gue kelas 3 SMK dan adik gue ada yang udah masuk SMP. alhamdulillah kita bisa sama-sama ngelewatin masa keterpurukan itu. walau sebenenrnya sampai detik ini pun gue sendiri masih belum bisa terima kenyataan keluarga gue yang udah gautuh lagi. kadang gue suka nangis sendiri dipojokan lemari atau bawah kasur atau malah nangis diatas pohon mangga tetangga.yaya semua kejadian pasti ada hikmahnya. setelah kejadian itu gue lebih dewasa, bisa berfikir bahwa semua ini adalah takdir yang emang udah disuratin buat gue. anyway allah gaakan ngasih cobaan diluar kemampuan umatNya.. tapi tetep aja ya, ngeliat temen seumuran gue yang kesana kesini sama nyokapnya ada rasa cemburu juga, kenapa gue gakaya mereka? tapi ya its okey..
no heaven in the sky. all will be beautiful in its time!!
2. LESS GOOD PERSON
semenjak kejadian perceraian orangtua gue waktu itu, gue sering ngurung diri, jarang begaul sama sekitar, buat gue Life has no meaning...mimpi-mimpi yang udah gue punya hancur gitu aja. gue udah gapunya harapan. bahkan gue ngerasa kalo semenjak kejadian itu, gaada lagi yang sayang sama gue, gaada yang peduli sama hidup gue, i own.. i own..dan iya emang gue cuma sendiri. yang namanya temen itu cuma dateng dan pergi, nyelonong dan pulang tanpa permisi. asin pedes pait manis asin gue telen sendiri.yaemang itu faktanya, mau gue seneng mau gue sedih semua orang gapernah mau tau...bahkan keluarga! kalian tau? dibalik topeng yang gue pake selama ini (tapi bukan peterpan..tapi buka dulu topengmu. bukan itu ya) maksudnya gue keliatan baik riang ceria dan segala macem, jauh disanaaaa lubuk hati paling dala, gue itu nyimpen seua LUKA yang tanpa orang tau dan sadari gue tertekan dengan itu semua. oke jujur emang kepribadian gue jelek, gue egois gue keras tapi manusiwsemua terbentuk krena keadaan yang engga pernah gue ingin bahkan gapernah sekalipun gue negebayanginya. tapi ya terlepas dari itu semua,
our lives are ours. others do not dependency. jadi, se-dpresi apapun gue ya tetep aja gue harus mengatasi ini sendiri. kaya misalnya lo punya buntut nah lo mau belok kiri ya lu tuntun deh tuh buntu lu biar ikut belok jangan dibiarin gitu aja.
udahdeh yaa segini dulu, cape ngetiknya hehe nanti dilanjut kok.
dan buat lo yang gapernah ngerasain apa yang gue alami, jangan cuma berfikir 'kasian' atau apalah itu yang keliatannya gue ngejijiin banget...tapi ya bersyukur aja sama hidup lo yang lebih beruntung dari hidup gue atau orang disekeliling lo yang nasibnya jauh lebih buruk dari lo.
dan buat lo yang emang kebetulan nasib kita sama, ya sabar ajaaa...Tuhan maha tahu apa yang umatNya rasain. Dia gapernah. tidur.
My life is mine. all circumstances is my problem. I could and I was able to..
hem ngomong-ngomong soal dilukai, apasih pertama kali yang ada dipikiran kalian tentang kata 'luka'? apa luka itu waktu kalian makan duren serius sampe bijinya dimakan juga dan karna gakonsen kalian kepleset kulit pisang dan akhirnya luka...no enggaa engga maksunya bukan luka begitu. LUKA? satu kata dalam arti yang luas. waktu kalian ditinggal pergi pacar, luka. Dikhianati temen, luka. diasingin lingkungan, luka. atau dipipisin waktu kalian main petak umpet dan ngumpet dibawa pohon pisang, gitu? *fix yang terakhir diskip*
LUKA....buat gue pribadi sesuatu yang menyakitkan, ngedengernya aja bikin jantung dag dig dug engga karuan. bohong ya kalo gue bilang gapernah ngerasain luka, iya munafik banget kalo ada yang bilang dia gapernah terluka.
oke ngomongin soal luka...untuk gue luka bukan sekedar ditinggal pacar dan nangis sampe ada niatan makan buahepaya sampe kalian pup gaberenti, bukan itu maksud gue. gue pernah ngerasa terluka beberapa kali, oke i tell...ini dia lebih spesifiknya
1. PERCERAIAN
iya luka pertama gue terjadi waktu gue umur 12 tahun pas gue masih unyu-unyu gimana gitu haha..pertamanya nih orangtua berantem hebat gitu gajelas deh gimana alurnya tiba-tiba mereka memutuskan untuk berpisah. kaya orang utan yang lagi panen pisang mendadak pisangnya dirampok sama buaya..gue ngerasain sakit yang amat sangat amat sangat amat sangat sakit! ngedeger kiamat tahun 2012 gaseberapa sama ketakutan gue waktu itu. takut kehilangan keluarga, takut kehilangan adik-adik gue, kehilangan ibu, kehilangan ayah, kehilangan kasihsayang.dan akhirnya gue baru tau gue kehilangan baju daleman gue yang dijemur sama ibu didepan rumah (yang terakhir buat lucu aja ya).setelah perpisahan orangtua gue tinggal sama ayah dan ketiga adik gue. kebetulan ibu yang emang gabisa gue ceritain disini terpaksa ninggalin gue sama adik-adik sendiri. lanjut kebeberapa tahun berikutnya, dampak dari kejadian ini terasa banget waktu gue mau masuk SMK. apalagi pas mau daftar dan ikut test, ngurus ini itu, dan gue semua yang harus ngerjain sendiri, mandiri...ayah yang notabennya seorang pegawai biasa gabisa deh libur kerja seenaknya. begitu juga sama ketiga adik gue yang waktu itu masih duduk dibangku SD, keperluan mereka gue yang ngurus semua. tapi ya alhamdulillah gue sama mereka bisa bertahan sejauh ini, sekarang gue kelas 3 SMK dan adik gue ada yang udah masuk SMP. alhamdulillah kita bisa sama-sama ngelewatin masa keterpurukan itu. walau sebenenrnya sampai detik ini pun gue sendiri masih belum bisa terima kenyataan keluarga gue yang udah gautuh lagi. kadang gue suka nangis sendiri dipojokan lemari atau bawah kasur atau malah nangis diatas pohon mangga tetangga.yaya semua kejadian pasti ada hikmahnya. setelah kejadian itu gue lebih dewasa, bisa berfikir bahwa semua ini adalah takdir yang emang udah disuratin buat gue. anyway allah gaakan ngasih cobaan diluar kemampuan umatNya.. tapi tetep aja ya, ngeliat temen seumuran gue yang kesana kesini sama nyokapnya ada rasa cemburu juga, kenapa gue gakaya mereka? tapi ya its okey..
no heaven in the sky. all will be beautiful in its time!!
2. LESS GOOD PERSON
semenjak kejadian perceraian orangtua gue waktu itu, gue sering ngurung diri, jarang begaul sama sekitar, buat gue Life has no meaning...mimpi-mimpi yang udah gue punya hancur gitu aja. gue udah gapunya harapan. bahkan gue ngerasa kalo semenjak kejadian itu, gaada lagi yang sayang sama gue, gaada yang peduli sama hidup gue, i own.. i own..dan iya emang gue cuma sendiri. yang namanya temen itu cuma dateng dan pergi, nyelonong dan pulang tanpa permisi. asin pedes pait manis asin gue telen sendiri.yaemang itu faktanya, mau gue seneng mau gue sedih semua orang gapernah mau tau...bahkan keluarga! kalian tau? dibalik topeng yang gue pake selama ini (tapi bukan peterpan..tapi buka dulu topengmu. bukan itu ya) maksudnya gue keliatan baik riang ceria dan segala macem, jauh disanaaaa lubuk hati paling dala, gue itu nyimpen seua LUKA yang tanpa orang tau dan sadari gue tertekan dengan itu semua. oke jujur emang kepribadian gue jelek, gue egois gue keras tapi manusiwsemua terbentuk krena keadaan yang engga pernah gue ingin bahkan gapernah sekalipun gue negebayanginya. tapi ya terlepas dari itu semua,
our lives are ours. others do not dependency. jadi, se-dpresi apapun gue ya tetep aja gue harus mengatasi ini sendiri. kaya misalnya lo punya buntut nah lo mau belok kiri ya lu tuntun deh tuh buntu lu biar ikut belok jangan dibiarin gitu aja.
udahdeh yaa segini dulu, cape ngetiknya hehe nanti dilanjut kok.
dan buat lo yang gapernah ngerasain apa yang gue alami, jangan cuma berfikir 'kasian' atau apalah itu yang keliatannya gue ngejijiin banget...tapi ya bersyukur aja sama hidup lo yang lebih beruntung dari hidup gue atau orang disekeliling lo yang nasibnya jauh lebih buruk dari lo.
dan buat lo yang emang kebetulan nasib kita sama, ya sabar ajaaa...Tuhan maha tahu apa yang umatNya rasain. Dia gapernah. tidur.
My life is mine. all circumstances is my problem. I could and I was able to..
Merindu
Sampai mata kita bertemu
aku menyimpan rindu yang tlah lama merasuk
menyimpannya diladang rindu
ilalang lebat meninggi tak beraturan
memapas habis pasir yang gersang
tak ada dipandangan,
adakah disana panas kau rasakan?
disini, aku kegerahan
berkeringat kenangan lampau
ah kamu, kekasih paling jauh
pulang dan potong habislah
ilalang yang menyebalkan itu
datang dan kembalilah
lalu sirami pasir yang gersang bersamaku
segeralah tanam wewangian dijiwaku
segera ambil dedaunan kering disitu
kumenunggu, kumerindu,
pulanglah....
aku menyimpan rindu yang tlah lama merasuk
menyimpannya diladang rindu
ilalang lebat meninggi tak beraturan
memapas habis pasir yang gersang
tak ada dipandangan,
adakah disana panas kau rasakan?
disini, aku kegerahan
berkeringat kenangan lampau
ah kamu, kekasih paling jauh
pulang dan potong habislah
ilalang yang menyebalkan itu
datang dan kembalilah
lalu sirami pasir yang gersang bersamaku
segeralah tanam wewangian dijiwaku
segera ambil dedaunan kering disitu
kumenunggu, kumerindu,
pulanglah....
Minggu, 14 Juli 2013
Cerita bodoh
Cermin yang pecah, seperti apapun pecahannya dikumpulkan direkatkan, ia tidak akan pernah sama,tidak akan pernah seperti semula.begitulah hati, retakan yang kecilpun akan terlihat begitu nyata.
Tiba-tiba saja kalimat itu melayang dengan bebas diotak saya, ketika untuk kesekian kalinya saya memikirkan cara apa untuk meminta maaf kepada sahabat saya,kepada dia, sahabat yang saya cintai tapi juga saya lukai. sebentar, sebelumnya saya harus beri tahu dulu pada kalian, bahwa ini adalah cerita bodoh, cerita kebodohan saya, jadi jangan tertawakan.
Ketika saya masuk dalam hidup masalalu seorang pria, yang tidak lain adalah mantan kekasih dari sahabat saya sendiri..sungguh saya tidak pernah memikirkan bahwa semuanya akan sefatal ini. sudah saya bilang tadi, ini adalah cerita bodoh yang saya lakukan.betapa kebodohan menguasai diri saya sepenuhnya, sampai saya tidak dapat mengendalikan diri saya,betapa bodoh dan cinta dengan kuat menikam hati saya.
Kekasih yang sewaktu-waktu ada sangat jauh berbeda dengan sahabat yang selalu ada,kapanpun. dan saya baru paham itu, sekarang. ketika saya sudah kehilangan sahabat saya, ketika lagi-lagi saya katakan, kebodohan menguasai diri saya.
kekasih saya tidak lagi berdiri dengan sigap saat saya mulai tumbang,tidak lagi seperti diawal. jujur saya sangat merindukan rasanya diinginkan.dan kalau boleh jujur, sebenarnya saya sudah lelah mempertahankan hubungan ini, dimana saya harus berjuang sendirian. Saya juga sebenarnya sudah tahu dari awal, bahwa saya hanya memaksakan ini semua.bahwa saya hanya terus berdiri dengan keegoisan saya, saya hanya ingin berdua dengannya tanpa memikirkan keinginannya. itu semua karena saya begitu mencintainya. Saya juga tahu, bahwa sebenarnya dia belum bisa berpisah dengan masalalunya. perpisahan yang dulu sangat instan tak mampu membawa dia melupakan segalanya.dia masih tenggelam dalam masalalu itu, dengan segala upaya saya sudah menarik tangannya dari jurang itu tapi apalah arti usaha saya jika dia tidak sanggup membawa dirinya keatas , keluar dari jurang masalalunya. sesungguhnya dia bukan tidak sanggup, dia hanya tidak mau.Iya, saya tahu betapa besar kecintaannya dengan wanita itu..terlihat jelas pada sorot matanya, bahwa perasaanya tidak sepenuhnya untuk saya.
Kembali pada topik awal,saya sangat merindukan sahabat saya.sahabat yang saya sakiti berulang kali lalu saya menyesal lalu saya ingin semuanya seperti diawal.lalu saya tidak bisa,tidak bisa memutar arah jarum jam berbalik.dan kenyataannya saya selalu gagal merangkul hati saya kembali,saya kewalahan memberskan serpihan hati yang saya hancurkan sendiri. sesengguhnya, bukan hanya sahabat saya yang terluka tapi saya juga merasakan perihnya. karena sekarang, saya paham...bahwa saya bukan wanita yang dicintai oleh masalalunya, mantan kekasihnya.
Akhir kata, saya titip luka untuk siapa saja yang mau merasakannya. Ternyata kebodohan belum mau pergi dari saya.
Tiba-tiba saja kalimat itu melayang dengan bebas diotak saya, ketika untuk kesekian kalinya saya memikirkan cara apa untuk meminta maaf kepada sahabat saya,kepada dia, sahabat yang saya cintai tapi juga saya lukai. sebentar, sebelumnya saya harus beri tahu dulu pada kalian, bahwa ini adalah cerita bodoh, cerita kebodohan saya, jadi jangan tertawakan.
Ketika saya masuk dalam hidup masalalu seorang pria, yang tidak lain adalah mantan kekasih dari sahabat saya sendiri..sungguh saya tidak pernah memikirkan bahwa semuanya akan sefatal ini. sudah saya bilang tadi, ini adalah cerita bodoh yang saya lakukan.betapa kebodohan menguasai diri saya sepenuhnya, sampai saya tidak dapat mengendalikan diri saya,betapa bodoh dan cinta dengan kuat menikam hati saya.
Kekasih yang sewaktu-waktu ada sangat jauh berbeda dengan sahabat yang selalu ada,kapanpun. dan saya baru paham itu, sekarang. ketika saya sudah kehilangan sahabat saya, ketika lagi-lagi saya katakan, kebodohan menguasai diri saya.
kekasih saya tidak lagi berdiri dengan sigap saat saya mulai tumbang,tidak lagi seperti diawal. jujur saya sangat merindukan rasanya diinginkan.dan kalau boleh jujur, sebenarnya saya sudah lelah mempertahankan hubungan ini, dimana saya harus berjuang sendirian. Saya juga sebenarnya sudah tahu dari awal, bahwa saya hanya memaksakan ini semua.bahwa saya hanya terus berdiri dengan keegoisan saya, saya hanya ingin berdua dengannya tanpa memikirkan keinginannya. itu semua karena saya begitu mencintainya. Saya juga tahu, bahwa sebenarnya dia belum bisa berpisah dengan masalalunya. perpisahan yang dulu sangat instan tak mampu membawa dia melupakan segalanya.dia masih tenggelam dalam masalalu itu, dengan segala upaya saya sudah menarik tangannya dari jurang itu tapi apalah arti usaha saya jika dia tidak sanggup membawa dirinya keatas , keluar dari jurang masalalunya. sesungguhnya dia bukan tidak sanggup, dia hanya tidak mau.Iya, saya tahu betapa besar kecintaannya dengan wanita itu..terlihat jelas pada sorot matanya, bahwa perasaanya tidak sepenuhnya untuk saya.
Kembali pada topik awal,saya sangat merindukan sahabat saya.sahabat yang saya sakiti berulang kali lalu saya menyesal lalu saya ingin semuanya seperti diawal.lalu saya tidak bisa,tidak bisa memutar arah jarum jam berbalik.dan kenyataannya saya selalu gagal merangkul hati saya kembali,saya kewalahan memberskan serpihan hati yang saya hancurkan sendiri. sesengguhnya, bukan hanya sahabat saya yang terluka tapi saya juga merasakan perihnya. karena sekarang, saya paham...bahwa saya bukan wanita yang dicintai oleh masalalunya, mantan kekasihnya.
Akhir kata, saya titip luka untuk siapa saja yang mau merasakannya. Ternyata kebodohan belum mau pergi dari saya.
Jumat, 07 Juni 2013
Sekotak roti untuk Marsya
Marsya datang lebih pagi, begitupun Revan yang selalu mengendarai sepeda motornya sengan kecepatan kilat.belum lama marsya masuk kedalam kelas, revan sudah datang.
"Selamat pagi Marsya, ini. maaf telat"
Revan berlari kecil menuju tempat duduk Marsya dan mengambil sekotak roti dari tasnya.
"Selama pagi Revan"tidak masalah, aku juga baru datang. Terimakasih ya"
Marsya tersenyum manis seraya membuka kotak makan itu, Revan sahabat dekatnya memang selalu membawakan Marsya roti untuk sarapannya. maklumlah Marsya anak kost jadi tidak sempat membuat sarapan sendiri. walaupun marsya tidak pernah meminta tapi revan mengerti dan selalu membawakan sekotak roti, setiap hari.
Kring, Kring. Bel istirahat berbunyi, karena marsya dan revan satu kelas jadi mereka dapat lebih mudah menghabiskan waktu istirahat bersama. seperti kekantin atau sekedar duduk diteras kelas.
"Van, aku punya puisi baru. boleh dibaca tapi setelahnya bantu aku mencari judul yang pas untuk puisi ini ya? Marsya memberi selembar kertas kepada Revan. ini bukan kali pertamanya marsya meminta saran kepada revan, kecintaannya pada dunia menulis memang selalu melibatkan revan.
Mata kita saling bertemu
tapi bibir kita juga kelu
entahlah
ketakutanku mengalahkan keinginanku
Revan membuka mulutnya pelan, satu bait puisi marsya menghantam warasnya. matanya memandang kertas puisi marsya, tapi pandangannya seperti berkeliaran.
"van, ko malah ngelamun?"
Marsya melekukan alis, alis indah, alis yang membuat matanya lebih hidup.
"dari mana inspirasinya?"
"sekitar, banyak orang yang mempunyai perasaan, tapi sulit menyatakan"
jawaban marsya seolah mencekik leher revan.
"Cinta tak terungkap"
mata revan terpejam, mencerna getaran dari makna kalimatnya barusan.
bel selesai istirahat berbunyi, kegiatan belajar kembali tenang.
dalam kesunyian kelas, sebenarnya ada yang diam-diam memaki, Revan, ia memaki dirinya sendiri.menyesali mengapa ia tak pernah berani menyatakan perasaannya, perasaan yang sudah ada sejak lama. perasaan yang ia punya, untuk seseorang, perasannya kepada Marsya.
Marsya yang dibawa-bawa revan dalam imajinasinya, belum juga menyadari. Marsya tidak sadar kalau Revan sahabatnya mencintainya diam-diam.
Revan, seseoarang yang tak pernah lupa membawakannya sekotak roti; sekotak roti unruk marsya.
"Selamat pagi Marsya, ini. maaf telat"
Revan berlari kecil menuju tempat duduk Marsya dan mengambil sekotak roti dari tasnya.
"Selama pagi Revan"tidak masalah, aku juga baru datang. Terimakasih ya"
Marsya tersenyum manis seraya membuka kotak makan itu, Revan sahabat dekatnya memang selalu membawakan Marsya roti untuk sarapannya. maklumlah Marsya anak kost jadi tidak sempat membuat sarapan sendiri. walaupun marsya tidak pernah meminta tapi revan mengerti dan selalu membawakan sekotak roti, setiap hari.
Kring, Kring. Bel istirahat berbunyi, karena marsya dan revan satu kelas jadi mereka dapat lebih mudah menghabiskan waktu istirahat bersama. seperti kekantin atau sekedar duduk diteras kelas.
"Van, aku punya puisi baru. boleh dibaca tapi setelahnya bantu aku mencari judul yang pas untuk puisi ini ya? Marsya memberi selembar kertas kepada Revan. ini bukan kali pertamanya marsya meminta saran kepada revan, kecintaannya pada dunia menulis memang selalu melibatkan revan.
Mata kita saling bertemu
tapi bibir kita juga kelu
entahlah
ketakutanku mengalahkan keinginanku
Revan membuka mulutnya pelan, satu bait puisi marsya menghantam warasnya. matanya memandang kertas puisi marsya, tapi pandangannya seperti berkeliaran.
"van, ko malah ngelamun?"
Marsya melekukan alis, alis indah, alis yang membuat matanya lebih hidup.
"dari mana inspirasinya?"
"sekitar, banyak orang yang mempunyai perasaan, tapi sulit menyatakan"
jawaban marsya seolah mencekik leher revan.
"Cinta tak terungkap"
mata revan terpejam, mencerna getaran dari makna kalimatnya barusan.
bel selesai istirahat berbunyi, kegiatan belajar kembali tenang.
dalam kesunyian kelas, sebenarnya ada yang diam-diam memaki, Revan, ia memaki dirinya sendiri.menyesali mengapa ia tak pernah berani menyatakan perasaannya, perasaan yang sudah ada sejak lama. perasaan yang ia punya, untuk seseorang, perasannya kepada Marsya.
Marsya yang dibawa-bawa revan dalam imajinasinya, belum juga menyadari. Marsya tidak sadar kalau Revan sahabatnya mencintainya diam-diam.
Revan, seseoarang yang tak pernah lupa membawakannya sekotak roti; sekotak roti unruk marsya.
Rabu, 05 Juni 2013
Sehabis hujan, Setelah pelangi datang
Saat itu, saya tidak tahu perihal seseorang yang telah pergi dan tak pernah kembali.Tapi dia tetap menunggu, menunggu adalah perkara melebarkan kesabaran dan membiarkan ketidak pastian menggelimit mendekat. Namun, sekarang saya paham. Terutama karena saya mengalaminya sendiri.
Saya rindu lelaki itu, lelaki yang saya ingat setelah saudara lelaki saya.Seorang penunggu, seorang yang rela menanti meski yang ditunggu tak kunjung datang. Seseorang yang mendedikasikan hidupnya untuk membentangkan kesabaran dan keikhlasan. Sebenarnya, saya lebih suka berlari, berjalan kearahnya, mengarah pada suatu yang sudah pasti. Entah apa alasan lelaki itu menunggu tanpa kenal waktu, menunggu hanya untuk mendengar sebuah
"Hallo... aku sudah pulang"
Tetapi ia tak juga datang.
Terakhir saya melihatnya dibawah pohon rindang ini, diatas batu besar ditepi danau.danau buatan, danau situ gede, Sukabumi.Terlihat lelaki yang mengalungkan kameranya, warna putih kulitnya sangat kontras dengan kemeja hitam yang digunaknnya.Saya belum tahu, apakah dia seorang fotografer atau lelaki yang hanya menyukai pemotretan. Tujuan potretnya selalu terarah, warna itu, garis warna dilangit, warna-warni pelangi. Iya, dia selalu memotret pelangi, pelangi sehabis hujan, selalu itu, tidak pernah yang lain.
"pelangi didanau ini sangat indah?"
Kata lelaki itu sambil terus mengambil gambar garisan Tuhan itu.
"pelangi ditempat lain juga indah" Kata saya.
"apa bedanya?" lanjut saya.
Lelaki itu menurunkan kameranya dari hadapan wajahnya, menghela napas panjang dan menerawang lebih jauh lagi.Saya dapat melihat, angin menerbangkan kemeja hitam yang digunakannya.
"mungkin karena pelangi ini selalu menepis rasa jenuhku"
Saya mengangkat bahu.
"Saya selalu melihat kamu disini, sehabis hujan, setelah pelangi datang."
Saya berjalan kearahanya, lebih dekat.
"Kau sedang menunggu?" kata saya lagi.
"dari mana kau tahu?"
"hanya menabak" kata saya.
Lelaki pemotret pelangi ini membereskan tas ranselnya yang tergeletak ditepi danau, jaket tebal yang sedari tadi hanya menggantung dipundaknya mulai dia pakai. alis tebalnya mempermanis wajah tampannya. Dia melangkah pergi, meninggalkan saya bersama pelangi yang warnanya kian memudar. Saya tidak bisa memanggilnya, saya belum sempat menanyakan namanya.
"Aku menunggu wanita itu, wanita yang selalu melukis pelangi"
Sebelum ini aku tidak suka mernunggu. untukku, menunggu adalah tindakan pasif , membuang waktu untuk berduduk dan menunggu yang tidak pasti.Namun, kali ini takdir memaksaku untuk berdiam diri, untuk tidak mengejar dia dan pertemuanku bersamanya tidak kulupa sedikitpun.
"hei"
Aku menyapanya simple.
"hallo"
"Saya selalu melihat kamu disini, sehabis hujan, setelah pelangi datang""Aku suka pelangi disni"
Jawabnya, sambil menggoreskan kuas yang sudah dipenuhi cat air yang indah. Wanita itu tersenyum melihat lukisannya sendiri. Rambutnya panjang terurai bergelombang mempercantik bentuk mukanya yang oval. ia membungkus tubuhnya dengan kaus putih dan celana kargo selutut berwarna cokelat muda. matanya yang bulat dengan pelangi yang terpantul didalamnya.
Ini pertemuan kedua saya bersama laki-laki pemotret itu. Kali ini saya sudah tahu namanya, Geril. ia bercerita tentang pertemuan pertamanya bersama wanita pelukis itu, wanita yang selalu melukis pelangi. dan alasan mengapa ia selalu menjadikan pelangi sebagai objek fotonya. Ia yakin bahwa wanita pelukis itu akan kembali dan pulang. Katanya wanita pelukis itu hanya pamit untuk sebuah sementara, untuk waktu yang tidak lama. Tapi nyatanya sampai saat ini wanita itu tak juga datang, selama ini, selama empat tahun.
"Pada pertemuan kedua, aku dan dia berjanji akan selalu bertemu disini. sehabis hujan, setelah pelangi datang, dan merekamnya dengan cara masing-masing. Aku memotret dan dia melukis"
ditengah-tengah senyumnya yang mengembang karena mengingat wanita itu, saya melihat ada yang kosong pada sorot mata Geril.Sepertinya ia menyediakan tempat kosong untuk seseorang tapi seseorang itu tak juga mengisinya. Saya merasa ada yang janggal.
"lalu?" saya meminta Geril untuk bercerita lebih panjang lagi.
"lalu? lalu kami selalu datang kesini, sehabis hujan, setelah pelangi datang. Aku memotret dia melukis, selalu begitu, selalu seperti itu"
"sekarang dia dimana?"
Tangan Geril bergetar. tatapannya berubah nanar. tubuhnya seperti menggigil. aku mulai khawatir.
"aku tidak tau, yang aku tau dia akan datang" suaranya lirih.
"dari mana kau tahu?"
"wanita pelukis itu hanya pamit untuk sebuah sementara, untuk waktu yang tidak lama"
Geril mengangkat kameranya, membidik pelangi yang nampak arogan dengan warnanya. Geril membelokan tubuhnya, lalu bergegas pergi.
Untuk kedua kalinya, pertemuan yang tidak usai.
Tiga hari kemudian, saya datang ketepian danau. sehabis hujan, setelah pelangi datang, selalu ada Geril ketika hujan reda. Kulihat lelaki pemotret itu sudah berdiri tegak disana, menghadap pelangi dengan kameranya, membelakangi arah datang saya.
Sepucuk surat tepat didekat kakinya, saya ambi selanjutnya berjalan menuju sebuah batu besar dibawah pohon rindang.Geril yang sebenarnya sadar akan kehadiran saya bersikap biasa saja dan tidak merespon sama sekali.
Dear Geril,
Ger, apa kabarmu hari ini? janganlah menangis lagi, tak sanggup bumi ini menampungnya. Masa lalu kita adalah sebuah kesalahan, tapi aku tidak pernah menyesal. Tentu kau juga bukan? Biarlah waktu menuntunmu melewati kegelapan ini. luka dapat sembuh sendiri Ger, asal kau memberinya jalan.Sungguh Ger, aku tak pernah bisa melihat kecintaanku terluka.
Ger, aku percaya segalanya terjadi bukan tanpa alasan, bahkan hujan yang nyaris turun setiap hari dikotamu pasti memiliki tujan sendiri. entah untuk membasahi hatimu, entah untuk membasahi matamu. Intinya Ger, kaulah yang memiliki kuasa atas dirimu sendiri. Jadi, sudahlah jangan bersedih. Kumohon, aku tahu diriku penuh dosa, dari itu Ger, lewat surat ini, kuharap kubisa mengikis sedikit demi sedikit dosa itu. Tetapi tentu saja Ger, kaulah yang berhak untuk segala keputusan. Aku sadar, aku hanyalah pendosa.
Ger, aku ingin kau lupa masa itu, masa dimana aku melakukan kesalahan.Iya, aku salah. tapi aku sudah memaafkan diriku sendiri dan sekarang aku menunggu maaf darimu, hanya itu yang ku mau.Ger, jangan salah sangka. aku bukannya ingin mengguruimu, apalagi soal maaf dan memaafkan. Tapi sungguh aku ingin kau bahagia, Apakah kau bahagia sekarang Ger?
Ohiya, kau masih suka memotret? bagaimana pelangi didanau sana? Aku suka melihat pelangi itu Ger terutama bila melihatnya bersamamu.Pelangi diatas sana Ger, pelangi kita, pelangi yang datang sehabis huja. Aku ingin melihatmu memotret Ger, memotretlah dengan kameramu itu, dengan jemari mahirmu, dengan insting yang selalu tepat membidik gambar, memotretlah Ger!
Aku pergi Ger, Jangan khawatir. suatu saat kau akan mendengar suaraku lewat angin yang menepuk pipimu, atau garis pelangi setelah hujan berhenti.Sahutlah sesekali Ger, walau tak lewat kata-kata, aku bisa merasakannya. karena hati kita pernah terpaut dan sekarang juga. bukan begitu Ger?
Berjanjilah kau akan berhenti dari kesedihan ini,berilah kedamaian atas hatimu Ger, sudahlah lupakan semua kesalahan.
Sekali lagi aku tidak bermaksud menyayat hatimu, aku hanya tidak bisa bersamamu.
Aku titip garis itu, garis sehabis hujan, pelangi, pelangi kita, pelangi didanau sana.
"dia pergi hanya meninggalkan surat itu"
Suaranya terdengar berat, sangat menjelaskan bahwa ia begitu rapuh.
"dia tidak akan kembali Ger, dia sudah pergi"
"dia ada, dia sudah berjanji akan kembali ketika malam itu, dimimpiku"
aku terkejut mendengar jawaban Geril. sebegitu besarkah rasanya untuk wanita itu? sampai akal sehatnya kini sedikit tak berfungsi.
"sadarlah Ger, bangun dari lamunan panjangmu"
"Dera ada, dia akan kembali"
Dera, nama perempuan pelukis pelangi itu. perempuan yang katanya sayang tapi tega membiarkan kesayangannya menunggu.
"Geril apa kau sudah gila? dia telah pergi, meninggalkanmu. dia takkan kembali Ger, takkan pernah dan takkan mungkin"
nada suara saya meninggi.
"kamu tidak tahu apa-apa syeril. hentikan kata-katamu yang sok tahu itu"
matanya memerah, kameranya dikalungkan dengan sigap. dia melangkah pergi, meninggalkan saya, seperti biasa. saya dan pelangi dibiarkannya tenggelam didasar danau, kali ini hujan ikut mengantar saya kebawah sana.
Beberapa hari berubah menjadi minggu lalu bulan. Saya rindu lelaki itu, lelaki yang saya ingat setelah saudara lelaki saya.Seorang penunggu, seorang yang rela menanti meski yang ditunggu tak kunjung datang. Seseorang mendedikasikan hidupnya untuk membentangkan kesabaran dan keikhlasan.
menunggu hanya untuk mendengar sebuah
"Hallo... aku sudah pulang"
Tetapi ia tak juga datang.
Geril tak kunjung datang.
Suara wanita bergesekan dengan suara kicauan burung sore itu, dari balik punggung saya.
"sedang menunggu?"
Perempuan itu bertanya. Jemari saya yang saat itu sedang mengalunkan pena tiba-tiba menghentikan aktifitasnya.
"dari mana kau tahu?
"hanya menebak" Jawabnya.
Minggu, 02 Juni 2013
Hujan Masa Lalu
hujannya deras,
pipiku masih kering
mataku menerawang jauh kebalik jendela kamar
rintikannya semakin banyak saja
Air jatuh ketanah
membawa warna bening lalu terbenam
semakin cepat, semakin sering
sampai tetesannya menyusup masuk kesela-sela
Aku ingat malam itu
Ketika kita berpagut dalam pelukan
kau eratkan ditengah dinginnya hujan
hingga kita lupa sedang berpeluh dengan basah
Kenangan yang manis
meski pada akhirnya hanya menjadi cerita miris
kini pipiku mulai basah
mata binarku menyipit tak terarah
ingatanku semakin menajam
kuluaskan pandangan kesana-kemari
aku menoleh kembali, masalaluku terlihat lagi
Aku mengigit bibirku sendiri
jemariku meremas pelan tangan yang satu
angin memasuki jendelaku yang berjeda
hujan semakin deras, pipiku semakin basah.
pipiku masih kering
mataku menerawang jauh kebalik jendela kamar
rintikannya semakin banyak saja
Air jatuh ketanah
membawa warna bening lalu terbenam
semakin cepat, semakin sering
sampai tetesannya menyusup masuk kesela-sela
Aku ingat malam itu
Ketika kita berpagut dalam pelukan
kau eratkan ditengah dinginnya hujan
hingga kita lupa sedang berpeluh dengan basah
Kenangan yang manis
meski pada akhirnya hanya menjadi cerita miris
kini pipiku mulai basah
mata binarku menyipit tak terarah
ingatanku semakin menajam
kuluaskan pandangan kesana-kemari
aku menoleh kembali, masalaluku terlihat lagi
Aku mengigit bibirku sendiri
jemariku meremas pelan tangan yang satu
angin memasuki jendelaku yang berjeda
hujan semakin deras, pipiku semakin basah.
Sabtu, 01 Juni 2013
Kita
Selamat malam, Tuan berlesung pipit. diatas tanah yang kududuki saat ini, aku sangat hafal caramu membaca setiap frasa demi frasa yang kutulis. Alismu ditekuk lalu membaca ulang setiap kalimat yang kubuat dengan gaya yang sungguh menyebalkan. itu kamu, memang sesuatu yang selalu membuat wajahku berganti topeng seenaknya. entahlah harus kusebut apa, kamu adalah......Ya kamu seseorang yang tak pernah absen namanya kusebut dalam doa. Kamu, yang selalu memberi teka-teki yang kadang aku sendiri sulit menjawabnya. Kamu seseorang yang selalu hadir dalam setiap mimpi, ilusi, dan khayal. meskipun nyata, bukan berarti aku tak membawamu masuki dalam bayang semuku, kita nyata untuk saat ini. bagaimana dengan masadepan? jadi seblum semuanya terlambat, sekarang aku senang bermain dengan permainan yang kubuat sendiri. dengan imajinasi yang ku ukir sendiri, kamu pemeran utamanya? tentu saja, kamu calon papah dari anak kita kelak.
atas alasan apapun, aku memang senang menulis apapun yang menyangkut tentangmu, aku senang menari dimasadepan denganmu walau hanya dalam mimpi yang tak kunjung nyata. sebagai wanita normal, aku mencintai sosokmu yang hangat, aku mulai suka rengkuhanmu sebelum aku jatuh lalu terhempas. aku mulai terpikat genggaman tanganmu yang hilangkan dinginnya dunia, kamu membuatku nyaman, menjadi wanita yang (mungkin) wanita kedua setelah Bunda mu.kuharap begitu, dan semoga saja.Karena sungguh, kamu adalah Pria yang kuingat setelah Ayah dan saudara lelakiku. kamu seperti cahaya, menyinari kegelapan hatiku yang semakin redup dan sempit. bahkan ketika aku kehilangan petunjuk jalan, pastinya atas kehendak Sang Semesta. setelah luka yang sekian lama menggerogotin hatiku perlahan, kamu datang lalu menyelimuti luka yang terbuka lebar dangan kasih sayang yang kutunggu. Kau buat kulupa caranya menangis, meski kadang waktu tak berpihak padaku, kamu selalu dan akan tetapi berada disampingku. Sampai embun jatuh dan mati, aku ingin kita tetap begini. Kenapa? Karena aku hanya ingin kamu. Mengerti? harus, kamu harus paham. agar aku tak memperjuangkan ini sendirian, agar aku tak mati-matian mempertahankan sedang kau tak peduli, agar aku tak menyaksikan hujan tanpa pelukanmu, agar aku tak melihat bintang tanpa genggamanmu. Aku belum siap, mengenang semuanya sendiri. Aku belum mau merapihkan serpihan hati yang baru saja rapih, aku belum bisa berdiri ditengah angin yang terus menghempaskan kesedihan, Aku belum siap merangkul bahuku sendiri, belum siap menyentuh jemariku sendiri, aku belum siap berpapasan dengan airmata, aku belum bisa tanpamu, bahkan mungkin takkan bisa dan takkan siap. Biarkan waktu mengantar kita sampai diakhir, kepada takdir yang tak kita buat sendiri, kepada semuanya yang mengindahkan kita bersama.
Aku ingin tetap didekatmu, bahkan ketika nanti bahumu tak bisa kusandari, Aku ingin terus bersamamu bahkan ketika jemarimu tak lagi kau jentikan dihelaian rambutku, aku masih akan meminta waktu menjaga kita, sampai nanti, sampai kita lupa caranya berpisah.
atas alasan apapun, aku memang senang menulis apapun yang menyangkut tentangmu, aku senang menari dimasadepan denganmu walau hanya dalam mimpi yang tak kunjung nyata. sebagai wanita normal, aku mencintai sosokmu yang hangat, aku mulai suka rengkuhanmu sebelum aku jatuh lalu terhempas. aku mulai terpikat genggaman tanganmu yang hilangkan dinginnya dunia, kamu membuatku nyaman, menjadi wanita yang (mungkin) wanita kedua setelah Bunda mu.kuharap begitu, dan semoga saja.Karena sungguh, kamu adalah Pria yang kuingat setelah Ayah dan saudara lelakiku. kamu seperti cahaya, menyinari kegelapan hatiku yang semakin redup dan sempit. bahkan ketika aku kehilangan petunjuk jalan, pastinya atas kehendak Sang Semesta. setelah luka yang sekian lama menggerogotin hatiku perlahan, kamu datang lalu menyelimuti luka yang terbuka lebar dangan kasih sayang yang kutunggu. Kau buat kulupa caranya menangis, meski kadang waktu tak berpihak padaku, kamu selalu dan akan tetapi berada disampingku. Sampai embun jatuh dan mati, aku ingin kita tetap begini. Kenapa? Karena aku hanya ingin kamu. Mengerti? harus, kamu harus paham. agar aku tak memperjuangkan ini sendirian, agar aku tak mati-matian mempertahankan sedang kau tak peduli, agar aku tak menyaksikan hujan tanpa pelukanmu, agar aku tak melihat bintang tanpa genggamanmu. Aku belum siap, mengenang semuanya sendiri. Aku belum mau merapihkan serpihan hati yang baru saja rapih, aku belum bisa berdiri ditengah angin yang terus menghempaskan kesedihan, Aku belum siap merangkul bahuku sendiri, belum siap menyentuh jemariku sendiri, aku belum siap berpapasan dengan airmata, aku belum bisa tanpamu, bahkan mungkin takkan bisa dan takkan siap. Biarkan waktu mengantar kita sampai diakhir, kepada takdir yang tak kita buat sendiri, kepada semuanya yang mengindahkan kita bersama.
Aku ingin tetap didekatmu, bahkan ketika nanti bahumu tak bisa kusandari, Aku ingin terus bersamamu bahkan ketika jemarimu tak lagi kau jentikan dihelaian rambutku, aku masih akan meminta waktu menjaga kita, sampai nanti, sampai kita lupa caranya berpisah.
dari aku, yang mengkhawatirkan keadaanmu. Selamat menikmati malam Bandung, aku menunggumu dikota kita, lekaslah pulang.
Sabtu, 25 Mei 2013
Dear Bara #2
Dear Bara,
setelah bebrapa hari lalu aku meminta penjelasan atas kehadiranmu direlung-relung hatiku kini aku minta pertanggung jawaban atas perasaanku yang kau buat semakin tak tentu, rasa cemburuku tak terkontrol. Seiring menjadi salah satu pemenang yang berhasil memikat hatimu lewat alunan pena #DearBara kemarin,Aku kecewa tidak bisa hadir pada acara dinner malam itu, bersama kamu juga pemenang lainnya. Aku menyesal tapi tidak sepenuhnya, karena setidaknya aku sudah bisa menyita perhatianmu walau hanya melalui tulisan sederhanku.
Ah bara... melihat fotomu bersama pemenang lainnya membuat jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. aku merasa aliran darahku berhenti seketika. dari beberapa foto yang kalian unggah, aku melihat posisimu selalu berdiri ditengah-tengah pemenang #Dearbara, rasanya aku ingin berlari menuju Sency lalu menarik tanganmu dan menggeser posisi dudukmu. dengan begitu, pasti kamu semakin yakin bahwa aku adalah wanita posesif seperti kalimat awal yang pertama kali kamu katakan. Tidak masalah, siapa yang tidak akan menjaga ciptaan Tuhan yang sedemikian tampan sepertimu bara?
kumohon jangan larang aku untuk tidak melebihkan perasaan , karena semuanya sudah terlambat. perasaanku bukan lagi fans yang mengagumi idolanya, melainkan lebih dari itu. Tidak percaya? iya memang. kamu selalu tidak percaya dengan apa yang kukatakan bukan? sekarang, apalagi yang harus aku sampaikan padamu bar? untuk menikmati malam itu bersamamu saja tidak bisa, bagaimana caranya aku dapat tinggal dalam ruang hati kosongmu?
setelah bebrapa hari lalu aku meminta penjelasan atas kehadiranmu direlung-relung hatiku kini aku minta pertanggung jawaban atas perasaanku yang kau buat semakin tak tentu, rasa cemburuku tak terkontrol. Seiring menjadi salah satu pemenang yang berhasil memikat hatimu lewat alunan pena #DearBara kemarin,Aku kecewa tidak bisa hadir pada acara dinner malam itu, bersama kamu juga pemenang lainnya. Aku menyesal tapi tidak sepenuhnya, karena setidaknya aku sudah bisa menyita perhatianmu walau hanya melalui tulisan sederhanku.
Ah bara... melihat fotomu bersama pemenang lainnya membuat jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. aku merasa aliran darahku berhenti seketika. dari beberapa foto yang kalian unggah, aku melihat posisimu selalu berdiri ditengah-tengah pemenang #Dearbara, rasanya aku ingin berlari menuju Sency lalu menarik tanganmu dan menggeser posisi dudukmu. dengan begitu, pasti kamu semakin yakin bahwa aku adalah wanita posesif seperti kalimat awal yang pertama kali kamu katakan. Tidak masalah, siapa yang tidak akan menjaga ciptaan Tuhan yang sedemikian tampan sepertimu bara?
kumohon jangan larang aku untuk tidak melebihkan perasaan , karena semuanya sudah terlambat. perasaanku bukan lagi fans yang mengagumi idolanya, melainkan lebih dari itu. Tidak percaya? iya memang. kamu selalu tidak percaya dengan apa yang kukatakan bukan? sekarang, apalagi yang harus aku sampaikan padamu bar? untuk menikmati malam itu bersamamu saja tidak bisa, bagaimana caranya aku dapat tinggal dalam ruang hati kosongmu?
Dari seseoarang yang selalu gagal mengungkap rindu.
Sabtu, 11 Mei 2013
Kita. . .Terjebak situasi
Bertemu lagi, kali ini aku tidak akan membahas tentang airmata. tentang keributan kecil kita, tentang luka. Maaf jika kemarin aku sibuk menuliskan tentang sakit sebenarnya aku ingin sekali bercerita tentang kebahagiaan kita tapi aku belum rela jika banyak orang yang tau hal itu.
Aku mulai, kamu tau? aku bahagia, kamu tlah kembali seperti dulu aku seperti menemukan sosokmu yang sempat pergi.sungguh bahagia yang tak terkira.Kebahagiaan yang sempat terselimuti luka perlahan kembali terbuka.entah dimana tepatnya semua itu berubah tapi aku yakin semuanya akan kembali seperti ini.tidak ada yang tak mungkin dalam cinta bukan?iya. aku juga tau, tak mungkin matamu terlalu buta untuk melihat apa yang kuperjuangkan dan tak mungkin hatimu terlalu cacat untuk tau ada aku yang selalu mencintaimu.Jangan punya fikiran aku menyalahkanmu, hanya saja aku tidak suka perhatianmu direbut habis kesibukanmu.bukankah diawal kita sudah saling berjanji untuk selalu ada? Aku tidak bermaksud membuat semuanya menjadi rumit aku hanya ingin mendapatkan hatimu sepenuhnya dengan cara sederhana.
Sederhana? benar, seperti pertemuan kita kan?kita menjalin persahabatan selama 1tahun, persahabatan yang erat, sangat dekat.Waktu selalu kita lewati bersama, berdua, selalu begitu.dan sampai akhirnya kita bertemu dengan masalah yang mungkin saja tak pernah kau bayangkan begitu juga aku: Cinta.
Sahabat jadi cinta? entahlah apa aku berhak memberi julukan kepada cerita kita seperti itu. karena selama kita bersahabatpun rasa aneh seringkali tumbuh. terlebih ketik kamu bercerita tentang apapun itu, aku sangat merasa sangat dekat denganmu, sangat! tidak kupungkiri, kamu adalah bagian masalalu dari teman dekatku. namun dari definisi cinta yang kutau; Cinta itu buta, tak bisa melihat kepada siapa ia mendarat dan waktu yang tak bisa ditebak. bukan begitu? Jadi haruskah kita disebutnya salah? haruskah mereka menghakimi kita terus menerus?
Tuan, ingatkan malam itu? 7januari 2013 akhirnya aku dan kamu menjadi kita. setelah kita sempat berputar-putar tak karuan , memberi sinyal tanpa ucap. yang satu menunggu yang satunya pun begitu. lucu tapi indah.
waktu menyeret kita semakin jauh semakin dalam, kita terjebak situasi. tanpa peduli lagi orang-orang yang mengerutkan alisnya mengetahui kita bersama, tak peduli dengan luka yang akan datang, cerita yang akan jadi kenangan.semuanya kita lupakan! kita berjalan santai menjemput masadepan, pelan tapi pasti. Munafik kalau aku bilang kita sangat membahagiakan, tidak seperti itu. ada yang harus dan pernah kita perjuangkan; kasih sayang. ada yang harus kita lawan; jarak dan keegoisan. ada yang harus kita pertahankah; kepercayaan dan kesetiaan. terlepas dari itu, kita harus sering berbincang dengan Tuhan tentang mimpi kita. Betapapun banyak umatNya mustahil kita terlewatkan.
Oiya ada lagi, sejauh ini banyak sekali mimpi yang tlah kita ukir. salah satunya mencari nama untuk anak kita kelak, terlalu jauh memang tapi tidak ada yang melarangkan? Derent, Lintang dan Bintang. Kuharap kau tidak jenuh berulang kali aku sebut nama mereka disini. maklumlah aku sudah merasa mereka itu nyata, aku merasa dekat dengan mereka; nama anak-anak kita kelak.
Tuan, kalau boleh jujur. sebenarnya aku ingin sekali marah setiap kali kamu masih meraba-raba nama mereka; anak-anak kita kelak.Aangkasa, buni, angin, cakrawala, pelangi, mentari dan banyak lagi yang kau ceritakan padaku. nama yang unik tapi tidak sama sekali mengindahkan Derent, Lintang dan Bintang tergantika, tidak. semoga kau mengerti permintaanku yang satu ini.
Kurasa cukup, terlalu panjang jika aku menceritakan semuanya disini. akhir kata, Aku hanya titip masa depan bersamamu, tanpa dia dia dan dia; hanya kamu.
Aku mulai, kamu tau? aku bahagia, kamu tlah kembali seperti dulu aku seperti menemukan sosokmu yang sempat pergi.sungguh bahagia yang tak terkira.Kebahagiaan yang sempat terselimuti luka perlahan kembali terbuka.entah dimana tepatnya semua itu berubah tapi aku yakin semuanya akan kembali seperti ini.tidak ada yang tak mungkin dalam cinta bukan?iya. aku juga tau, tak mungkin matamu terlalu buta untuk melihat apa yang kuperjuangkan dan tak mungkin hatimu terlalu cacat untuk tau ada aku yang selalu mencintaimu.Jangan punya fikiran aku menyalahkanmu, hanya saja aku tidak suka perhatianmu direbut habis kesibukanmu.bukankah diawal kita sudah saling berjanji untuk selalu ada? Aku tidak bermaksud membuat semuanya menjadi rumit aku hanya ingin mendapatkan hatimu sepenuhnya dengan cara sederhana.
Sederhana? benar, seperti pertemuan kita kan?kita menjalin persahabatan selama 1tahun, persahabatan yang erat, sangat dekat.Waktu selalu kita lewati bersama, berdua, selalu begitu.dan sampai akhirnya kita bertemu dengan masalah yang mungkin saja tak pernah kau bayangkan begitu juga aku: Cinta.
Sahabat jadi cinta? entahlah apa aku berhak memberi julukan kepada cerita kita seperti itu. karena selama kita bersahabatpun rasa aneh seringkali tumbuh. terlebih ketik kamu bercerita tentang apapun itu, aku sangat merasa sangat dekat denganmu, sangat! tidak kupungkiri, kamu adalah bagian masalalu dari teman dekatku. namun dari definisi cinta yang kutau; Cinta itu buta, tak bisa melihat kepada siapa ia mendarat dan waktu yang tak bisa ditebak. bukan begitu? Jadi haruskah kita disebutnya salah? haruskah mereka menghakimi kita terus menerus?
Tuan, ingatkan malam itu? 7januari 2013 akhirnya aku dan kamu menjadi kita. setelah kita sempat berputar-putar tak karuan , memberi sinyal tanpa ucap. yang satu menunggu yang satunya pun begitu. lucu tapi indah.
waktu menyeret kita semakin jauh semakin dalam, kita terjebak situasi. tanpa peduli lagi orang-orang yang mengerutkan alisnya mengetahui kita bersama, tak peduli dengan luka yang akan datang, cerita yang akan jadi kenangan.semuanya kita lupakan! kita berjalan santai menjemput masadepan, pelan tapi pasti. Munafik kalau aku bilang kita sangat membahagiakan, tidak seperti itu. ada yang harus dan pernah kita perjuangkan; kasih sayang. ada yang harus kita lawan; jarak dan keegoisan. ada yang harus kita pertahankah; kepercayaan dan kesetiaan. terlepas dari itu, kita harus sering berbincang dengan Tuhan tentang mimpi kita. Betapapun banyak umatNya mustahil kita terlewatkan.
Oiya ada lagi, sejauh ini banyak sekali mimpi yang tlah kita ukir. salah satunya mencari nama untuk anak kita kelak, terlalu jauh memang tapi tidak ada yang melarangkan? Derent, Lintang dan Bintang. Kuharap kau tidak jenuh berulang kali aku sebut nama mereka disini. maklumlah aku sudah merasa mereka itu nyata, aku merasa dekat dengan mereka; nama anak-anak kita kelak.
Tuan, kalau boleh jujur. sebenarnya aku ingin sekali marah setiap kali kamu masih meraba-raba nama mereka; anak-anak kita kelak.Aangkasa, buni, angin, cakrawala, pelangi, mentari dan banyak lagi yang kau ceritakan padaku. nama yang unik tapi tidak sama sekali mengindahkan Derent, Lintang dan Bintang tergantika, tidak. semoga kau mengerti permintaanku yang satu ini.
Kurasa cukup, terlalu panjang jika aku menceritakan semuanya disini. akhir kata, Aku hanya titip masa depan bersamamu, tanpa dia dia dan dia; hanya kamu.
Selasa, 07 Mei 2013
Terlalu Singkat
Pertemuan yang sederhana; bertemu berkenalan berdekatan lalu saling mencintai dan akhirnya berpisah. Awalnya berjalan dengan sempurna,uluran tanganmu yang (kelihatannya) tulus tentu saja membantu aku bangun dari keterpurukan. Kita bercanda kita tertawa kita membahas hal-hal yang manis bersama semuanya sungguh sangat nyata walau sebenarnya perbincangan manis kala itu tak kumaknai luar biasa.
Kehadiranmu membawa hal baru. hal yang berbeda darimu turut membuka mata dan hatiku dengan lebar.Aku belum sadar, bahwa kamu datang sebagai dewa penolong. Untuk beberapa lama; aku tak mengizinkan relung-relung hatiku terisi olehmu.Tapi aku merasa kosong jika sehari saja kita tak saling bertatap tak saling berucap.Kita memang begitu, selalu menghabiskan waktu untuk membicarakan hal yang menarik. sampai akhirnya kita berbicara tentang hal yang paling menyentuh; Cinta.
waktu berjalan, tanpa aku sadari cinta sudah menyeretku kedalam ruang yang mungkin saja tak pernah kuingini.Aku terus meyakinkan diriku sendiri,bahwa kau bukanlah dia; seseorang yang kutunggu kedatangannya, seseorang yang selalu kutanyakan keberadaannya pada Tuhan.Aku selalu meyakinkan diriku sendiri, bahwa perhatianmu candaanmu hanya dasar dari pertemanan kita.Ya sebatas teman, aku tak berani mengharapkan sesuatu yang lebih.Aku tak pernah mau mengingat kenangan sendiri, aku tak pernah siap merasakan luka yang belum juga kering menyayat. tapi nyatanya...
perasaanku tumbuh semakin pesat bahkan tak dapat lagi kukendalikan.Bagaimanapun aku hanya manusia biasa yang merasakan kenyamanan dalam hadirmu, aku hanya wanita biasa yang punya rasa takut kehilangan.Salahku memang jika mengartikan semua adalah cinta?
Kamu sudah menjadi sebab tawaku,seolah pelangi sehabis hujan aku yakin kamu adalah sinar yang paling terang dikehidupanku. Aku sangat yakin,sangat! dan itu hal bodoh yang paling kusesali.
Akhirnya ketakutanku terjawab sudah,kekhawatiranku tentang sakit. Kamu mengulurkan tangan saat ku tersungkur lalu kau eratkan dengan waktu yang tak begitu lama, kamu kembali melepaskan genggaman itu. membuatku jatuh bahkan lebih sakit, lebih perih.
Tapi pantaskah aku marah?Aku sadar, aku sendiri yang salah mengartikan tentangmu, semuanya.Mungkin benar, aku hanya menjadi persinggahan; bukan tujuan.Jika kau ingin tau, aku sudah merencanakn mimpi-mimpi yang belum sempat aku beritahu padamu.biarkanlah, kuserahkan semua pada Tuhan. Dia tentu punya cara tersendiri membuat aku dan kamu bahagia.aku hanya menunggu waktunya saja.
Aku tak berhak memintamu kembali, aku tak punya wewenang untuk memintamu segera pulang, Adakah yang perlu kupaksakan jika bagimu aku tak pernah jadi tujuan? Tidak munafik, aku merasa kehilangan.Aku menyesal, sempat membiarkanmu menunggu tanpa kepastian sampai akhirnya kamu pergi tanpa kepastian.namun ini memang salahku juga, tak benar-benar menjaga hatimu, tak serius memelihara cinta kita.bukan aku menyalahkanmu, tapi tak mungkin jika matamu terlalu buta dan hatimu terlalu cacat untuk melihat ada aku yang mencintaimu.
kini aku harus belajar, merelakan melepaskan dan melupakan cinta yang terlalu singkat ini menjadi sebuah kenangan.
Kehadiranmu membawa hal baru. hal yang berbeda darimu turut membuka mata dan hatiku dengan lebar.Aku belum sadar, bahwa kamu datang sebagai dewa penolong. Untuk beberapa lama; aku tak mengizinkan relung-relung hatiku terisi olehmu.Tapi aku merasa kosong jika sehari saja kita tak saling bertatap tak saling berucap.Kita memang begitu, selalu menghabiskan waktu untuk membicarakan hal yang menarik. sampai akhirnya kita berbicara tentang hal yang paling menyentuh; Cinta.
waktu berjalan, tanpa aku sadari cinta sudah menyeretku kedalam ruang yang mungkin saja tak pernah kuingini.Aku terus meyakinkan diriku sendiri,bahwa kau bukanlah dia; seseorang yang kutunggu kedatangannya, seseorang yang selalu kutanyakan keberadaannya pada Tuhan.Aku selalu meyakinkan diriku sendiri, bahwa perhatianmu candaanmu hanya dasar dari pertemanan kita.Ya sebatas teman, aku tak berani mengharapkan sesuatu yang lebih.Aku tak pernah mau mengingat kenangan sendiri, aku tak pernah siap merasakan luka yang belum juga kering menyayat. tapi nyatanya...
perasaanku tumbuh semakin pesat bahkan tak dapat lagi kukendalikan.Bagaimanapun aku hanya manusia biasa yang merasakan kenyamanan dalam hadirmu, aku hanya wanita biasa yang punya rasa takut kehilangan.Salahku memang jika mengartikan semua adalah cinta?
Kamu sudah menjadi sebab tawaku,seolah pelangi sehabis hujan aku yakin kamu adalah sinar yang paling terang dikehidupanku. Aku sangat yakin,sangat! dan itu hal bodoh yang paling kusesali.
Akhirnya ketakutanku terjawab sudah,kekhawatiranku tentang sakit. Kamu mengulurkan tangan saat ku tersungkur lalu kau eratkan dengan waktu yang tak begitu lama, kamu kembali melepaskan genggaman itu. membuatku jatuh bahkan lebih sakit, lebih perih.
Tapi pantaskah aku marah?Aku sadar, aku sendiri yang salah mengartikan tentangmu, semuanya.Mungkin benar, aku hanya menjadi persinggahan; bukan tujuan.Jika kau ingin tau, aku sudah merencanakn mimpi-mimpi yang belum sempat aku beritahu padamu.biarkanlah, kuserahkan semua pada Tuhan. Dia tentu punya cara tersendiri membuat aku dan kamu bahagia.aku hanya menunggu waktunya saja.
Aku tak berhak memintamu kembali, aku tak punya wewenang untuk memintamu segera pulang, Adakah yang perlu kupaksakan jika bagimu aku tak pernah jadi tujuan? Tidak munafik, aku merasa kehilangan.Aku menyesal, sempat membiarkanmu menunggu tanpa kepastian sampai akhirnya kamu pergi tanpa kepastian.namun ini memang salahku juga, tak benar-benar menjaga hatimu, tak serius memelihara cinta kita.bukan aku menyalahkanmu, tapi tak mungkin jika matamu terlalu buta dan hatimu terlalu cacat untuk melihat ada aku yang mencintaimu.
kini aku harus belajar, merelakan melepaskan dan melupakan cinta yang terlalu singkat ini menjadi sebuah kenangan.
Dari seseorang yang belum berani memintamu kembali
Senin, 06 Mei 2013
diam-diam. . . dari sudut sini
Untuk kamu, yang tak pernah tau ada aku yang tersayat hatinya
dari sudut sini, ada yang diam-diam memperhtikanmu, diam-diam mengagumimu, merindumu tanpa henti.Aku terlalu pengecut mengungkapkan semuanya, matamu bibirmu garis pada wajahmu membuatku semakin mengecil. Sudah lama, aku menjadi penonton gerak-gerikmu, dari senja yang tak pernah peduli sampai bulan sabit yang kebingungan dengan kelakuanku. Aku sendiri lupa caranya untuk pulang tanpa hasil karena yang aku tau aku sedang berjuang untuk pulang dengan kemenangan, bukan ketidak sia-siaan. aku mulai menikmati luka yang kamu ciptakan, aku mulai suka dengan dentingan jam yang selalu kau buat semakin lama, aku semakin terbiasa dengan airmata, dengan pipi yang basah, aku mulai terbiasa dengan luka.Bukan waktu yang sebentar, aku butuh penguat untuk tetap berdiri disini. diujung jalan yang entah menunggu apa.melihat kamu seutuhnya, menatap ciptaan Tuhan yang sedemikian sempurna.
Lebih dari sini, ada yang diam-diam tersakiti.dari jarak sejauh ini. tanpa kau tau tanpa kau duga. Aku takut menyapamu, aku takut jika ternyata perhatianku selama ini benar-benar tak terasa olehmu. Apakah benar, kita memang saling membutuhkan? karena gengsi rupanya kita masih tetap memendam seperti ini? tahukah? aku ingin berjalan bersamamu dalam gelap dan peluh hujan. bagiku tidak masalah selagi tanganmu mengeratkan jemariku.
Kuakui, memang salahku menjadi orang pengecut. Aku hanya berani mendoakanmu dari sini yang hanya Tuhan dan Tasbihku yang tau. sungguh, aku takut berkata jujur padamu. karena pengungkapan kadang tak benar-benar tak membuatmu paham bukan? maka aku memutuskan untuk memendam sampai batas waktu yang tak bisa kutentukan.
Kamu, Bara
Dear Bara,
diawal, aku ingin penjelasan darimu. Bagaimana bisa kamu memenuhi sudut diotakku sampai pada sudut terpencil? seiring itu, apa alasanmu sering hadir dimimpiku? aku sangat tak paham, semua terjadi begitu cepat.Aku melihat foto pertamamu ditwitter, membelakangi kamera. entah apa yang seolah seisi gambar itu memikatku. Tanpa teori apapun, bayangmu masuk dalam imajinasi. tinggal direlung-relung hatiku. Melihat timelinemu, mengetahui frasa demi frasa dalam twittermu, sejak itu aku mulai menyebutmu ; Seorang penulis yang memikat. iya, memang hadirmu yang begitu semu seolah sangat nyata untukku. sayang saja rasaku ini sungguh sulit untukku jelaskan, begitu absurd. kamu terlalu usil mengusik hari dan waktuku.sampai aku lupa duniaku; dunia nyata. kamu menjadi penyebab semangat hidupku, atas alasan apapun : aku tak bisa menolak tarikan kalimat manismu. haruskah ini kusebut jatuh cinta?
Aku tak bisa melupakanmu... sungguh! aku selalu ingat caramu menyusun abjad menjadi kalimat yang menyenangkan untuk dibaca. dari beberapa buku yang kau tulis, aku baru membaca buku terbarumu #MILANA yang kata demi katanya menusuk ulu hatiku. aku semakin dimabuk pesonamu. aku berjanji, aku akan membeli dan membaca semua yang kau tulis semua yang kau cipta,dan walaupun mata kita belum pernah bertemu, aku bisa membaca sinar matamu disebrang sana lewat kalimat yang selalu kau publikasikan. kita tak pernah atau malah tak mungkin punya waktu berbicara. Rasanya mustahil. tapi aku tidak mau peduli tentang itu, tentang perbedaan yang ada diantara kita. aku hanya ingin tau ternyata aku semakin mencintaimu suatu ketika aku mendapatkan fotomu bersama wanita cantik. hatiku tersayat, kalau kau bertanya sekali lagi "mengapa bisa?" aku akan menjawabnya dengan kebisuan.
Rasanya menyebalkan, ketika foto itu berulang kali menguasai ingatanku. selain itu, aku sangat tidak suka disaat kau mulai memberi kalimat yang selalu membuat hati wanita bergetar.Aku ingin sekali mengatakan padamu, bahwa hanya aku yang boleh menerjemahkan setiap tutur manismu. bahwa hanya aku yang boleh membaca setiap jentikan jemarimu. hanya aku: yang selalu merapal namamu dalam doa.
ketahuilah Bara, aku yang selalu gagal mengungkapkan rindu. aku yang tak pernah berani mengatakan sesuata yang pasti akan membuatmu terkejut; aku menyukaimu.
diawal, aku ingin penjelasan darimu. Bagaimana bisa kamu memenuhi sudut diotakku sampai pada sudut terpencil? seiring itu, apa alasanmu sering hadir dimimpiku? aku sangat tak paham, semua terjadi begitu cepat.Aku melihat foto pertamamu ditwitter, membelakangi kamera. entah apa yang seolah seisi gambar itu memikatku. Tanpa teori apapun, bayangmu masuk dalam imajinasi. tinggal direlung-relung hatiku. Melihat timelinemu, mengetahui frasa demi frasa dalam twittermu, sejak itu aku mulai menyebutmu ; Seorang penulis yang memikat. iya, memang hadirmu yang begitu semu seolah sangat nyata untukku. sayang saja rasaku ini sungguh sulit untukku jelaskan, begitu absurd. kamu terlalu usil mengusik hari dan waktuku.sampai aku lupa duniaku; dunia nyata. kamu menjadi penyebab semangat hidupku, atas alasan apapun : aku tak bisa menolak tarikan kalimat manismu. haruskah ini kusebut jatuh cinta?
Aku tak bisa melupakanmu... sungguh! aku selalu ingat caramu menyusun abjad menjadi kalimat yang menyenangkan untuk dibaca. dari beberapa buku yang kau tulis, aku baru membaca buku terbarumu #MILANA yang kata demi katanya menusuk ulu hatiku. aku semakin dimabuk pesonamu. aku berjanji, aku akan membeli dan membaca semua yang kau tulis semua yang kau cipta,dan walaupun mata kita belum pernah bertemu, aku bisa membaca sinar matamu disebrang sana lewat kalimat yang selalu kau publikasikan. kita tak pernah atau malah tak mungkin punya waktu berbicara. Rasanya mustahil. tapi aku tidak mau peduli tentang itu, tentang perbedaan yang ada diantara kita. aku hanya ingin tau ternyata aku semakin mencintaimu suatu ketika aku mendapatkan fotomu bersama wanita cantik. hatiku tersayat, kalau kau bertanya sekali lagi "mengapa bisa?" aku akan menjawabnya dengan kebisuan.
Rasanya menyebalkan, ketika foto itu berulang kali menguasai ingatanku. selain itu, aku sangat tidak suka disaat kau mulai memberi kalimat yang selalu membuat hati wanita bergetar.Aku ingin sekali mengatakan padamu, bahwa hanya aku yang boleh menerjemahkan setiap tutur manismu. bahwa hanya aku yang boleh membaca setiap jentikan jemarimu. hanya aku: yang selalu merapal namamu dalam doa.
ketahuilah Bara, aku yang selalu gagal mengungkapkan rindu. aku yang tak pernah berani mengatakan sesuata yang pasti akan membuatmu terkejut; aku menyukaimu.
Dari seseorang yang senang sekali berlama-lama membaca alunan penamu, Bara.
Sabtu, 04 Mei 2013
Bunda di nisan
Dalam gelisahku
Ku merindu malaikat hidupku
Dalam relungku
Ku mencari jawaban atas risauku
Sedalam bait ini
Ku memintamu kembali
Kehilangan sosoku
Adalah kiamat untukku
Aku diam
Engkau tak beri jawaban
Aku semakin bisu
Bibirmu kelu tubuhmu kaku
Apalagi yang bisa kulakukan
Sekiranya jantungmu sudah tak berdetak
Kupeluk namun tak kau balas
Ku menangis tapi tak jua kau usap
Kini kutemukan arti dirimu Bunda
Ku hanya bisa memelukmu yang tak lagi bernafas
Ku hanya bisa memelukmu yang tak lagi berdenyut
Ku hanya bisa memelukmu dalam doa dalam harapan
Bunda kan kurindu senandung cintamu
Bisikan kasihmu
Lirih kubersuara
Tapi kau masih menulikan telinga
Terimakasih untuk rahim yang sempat kutempati
Terimakasih untuk tetesan airsusumu, milyaran darahmu
Terimakasih untuk keteguhan hatimu
Terimakasih pelukan terakhirmu
Bunda...kueratkan dekap di nisanmu
Ku merindu malaikat hidupku
Dalam relungku
Ku mencari jawaban atas risauku
Sedalam bait ini
Ku memintamu kembali
Kehilangan sosoku
Adalah kiamat untukku
Aku diam
Engkau tak beri jawaban
Aku semakin bisu
Bibirmu kelu tubuhmu kaku
Apalagi yang bisa kulakukan
Sekiranya jantungmu sudah tak berdetak
Kupeluk namun tak kau balas
Ku menangis tapi tak jua kau usap
Kini kutemukan arti dirimu Bunda
Ku hanya bisa memelukmu yang tak lagi bernafas
Ku hanya bisa memelukmu yang tak lagi berdenyut
Ku hanya bisa memelukmu dalam doa dalam harapan
Bunda kan kurindu senandung cintamu
Bisikan kasihmu
Lirih kubersuara
Tapi kau masih menulikan telinga
Terimakasih untuk rahim yang sempat kutempati
Terimakasih untuk tetesan airsusumu, milyaran darahmu
Terimakasih untuk keteguhan hatimu
Terimakasih pelukan terakhirmu
Bunda...kueratkan dekap di nisanmu
Jumat, 03 Mei 2013
dalam dekapku
Dia datang, selalu sama. menghangatkanku dengan pelukan. sampai bibirku kelu, sampai aku tak mampu lagi ungkapkan luka. pelukannya menjalar kesegala penjuru hatiku yang sempat beku oleh pengabaiannya. ia mengecup keningku, berkali-kali. Aku hanya diam; lagi-lagi. tentu saja, tidak ada airmata. jemarinya yang sedari tadi mengusap lembut helaian rambutku membuatku merasa aman dan terlindungi, walau untuk beberapa detik saja aku sangat bahagia.
Dimalam sedingin ini, dia semakin eratkan pelukannya. semakin membuatku lupa rasanya sakit. kita yang selalu dibuatnya lupa, terkalahkan keangkuhannya. dan sebenarnya kita yang tak pernah ada; semu. kita yang sebabkan luka namun enggan mengobatinya bersama. Aku tak mau banyak komentar ketika tawa renyahnya membuncah kesetiap ruang ditelingaku, kedekap hangat dadanya, tenggelam sangat dalam disana.
Aku mengadahkan wajah, mencoba menangkap sinar matanya: kosong, tak kutemukan sinarnya sehangat dulu. Jadi, apa yang kuharapkan dari sosok yang tak juga beri jawaban? aku tertunduk.
"ada apa?"
"ada apa? harusnya aku yang bertanya"
"ada amarah dimatamu"
"kenapa baru datang?"
dia terdiam. selalu begitu.
"salahkan jika aku bertanya kemana kau selama ini?"
"aku baru punya waktu sekarang, aku minta maaf"
"maafmu terlalu murah"
"ini yang terakhir"
"kau mengatakan itu sebulan yang lalu"
hening. selalu saja dia membisu.kini tangannya tak lagi mendekapku, aku menarik nafas perlahan.
"harusnya kau tak usah datang bila untuk pergi lebih lama lagi"
Tiba-tiba ia memelukku lebih erat lagi. menyusup masuk kefikiranku.bisa mati iseng jika aku membiarkan bayangannya mencekik lebih lama lagi. pandangan kualihkan.
"aku membutuhkanmu" tangannya menggenggam tanganku erat.
"dan aku harus tetap disampingmu saat kau butuh, bahkan ketika aku butuh tapi kamu tidak ada" suaraku mulai lirih.
"duniaku terlalu rumit"
"betapapun rumitnya, aku akan tetap berada didekatmu. kenali aku pada duniamu"
pandangannya nanar. kepalanya bersandar dipundakku. Aku ungkapkan keresahan hatiku, tak peduli ia menyimak atau hanya menganggapnya angin lalu.
untuk beberapa lama, sunyi. Belum juga ada jawaban pembelaan diri yang sering ia lakukan setiap kali aku keluhkan salahnya.
"jangan pergi"
dia diam.
"jangan pergi lagi, kumohon"
masih sama: hening.
Ku eratkan pelukku dibahunya, tangisku pecah. namun ia tertidur pulas, dalam dekapku.
Ditengah kerinduanku, Aku diabaikan lagi. Tidak lama ia akan kembali kedunianya lalu lupa untuk pulang. dan pada dentingan waktu, sampai ditepi sana, aku berdiri dan dia berlari. mematung, kusempatkan berharap dia untuk menoleh. tapi ternyata tidak; dia semakin lelap dan mimpinya semakin tinggi.
Aku sendiri, bulir airmataku semakin deras.
Dimalam sedingin ini, dia semakin eratkan pelukannya. semakin membuatku lupa rasanya sakit. kita yang selalu dibuatnya lupa, terkalahkan keangkuhannya. dan sebenarnya kita yang tak pernah ada; semu. kita yang sebabkan luka namun enggan mengobatinya bersama. Aku tak mau banyak komentar ketika tawa renyahnya membuncah kesetiap ruang ditelingaku, kedekap hangat dadanya, tenggelam sangat dalam disana.
Aku mengadahkan wajah, mencoba menangkap sinar matanya: kosong, tak kutemukan sinarnya sehangat dulu. Jadi, apa yang kuharapkan dari sosok yang tak juga beri jawaban? aku tertunduk.
"ada apa?"
"ada apa? harusnya aku yang bertanya"
"ada amarah dimatamu"
"kenapa baru datang?"
dia terdiam. selalu begitu.
"salahkan jika aku bertanya kemana kau selama ini?"
"aku baru punya waktu sekarang, aku minta maaf"
"maafmu terlalu murah"
"ini yang terakhir"
"kau mengatakan itu sebulan yang lalu"
hening. selalu saja dia membisu.kini tangannya tak lagi mendekapku, aku menarik nafas perlahan.
"harusnya kau tak usah datang bila untuk pergi lebih lama lagi"
Tiba-tiba ia memelukku lebih erat lagi. menyusup masuk kefikiranku.bisa mati iseng jika aku membiarkan bayangannya mencekik lebih lama lagi. pandangan kualihkan.
"aku membutuhkanmu" tangannya menggenggam tanganku erat.
"dan aku harus tetap disampingmu saat kau butuh, bahkan ketika aku butuh tapi kamu tidak ada" suaraku mulai lirih.
"duniaku terlalu rumit"
"betapapun rumitnya, aku akan tetap berada didekatmu. kenali aku pada duniamu"
pandangannya nanar. kepalanya bersandar dipundakku. Aku ungkapkan keresahan hatiku, tak peduli ia menyimak atau hanya menganggapnya angin lalu.
untuk beberapa lama, sunyi. Belum juga ada jawaban pembelaan diri yang sering ia lakukan setiap kali aku keluhkan salahnya.
"jangan pergi"
dia diam.
"jangan pergi lagi, kumohon"
masih sama: hening.
Ku eratkan pelukku dibahunya, tangisku pecah. namun ia tertidur pulas, dalam dekapku.
Ditengah kerinduanku, Aku diabaikan lagi. Tidak lama ia akan kembali kedunianya lalu lupa untuk pulang. dan pada dentingan waktu, sampai ditepi sana, aku berdiri dan dia berlari. mematung, kusempatkan berharap dia untuk menoleh. tapi ternyata tidak; dia semakin lelap dan mimpinya semakin tinggi.
Aku sendiri, bulir airmataku semakin deras.
Rabu, 01 Mei 2013
Cerita sederhana, kita
Ini bukan hal baru untukku, duduk ditemani kesepian. membaca paragraf yang disana selalu berdiri tentangmu yang sebenarnya enggan kubaca dan kudefinisikan lagi, rasanya terlalu rumitt, absurd.
ini bukan yang pertama bagiku duduk berjam-jam tanpa perhatian hangat dari pesan singkatmu, kehampaan sudah berganti-ganti wajah sejak tadi, namun aku tetap membuta mencoba tak peduli.
pastinya, kamu tidak merasakan apa yang kurasakan, kamu tak memiliki rindu yang kusimpan rapih. aku sengaja menyembunyikan rasa itu agar kita tak saling mengganggu. bukankah dengan berjauhan seperti ini,kita lebih merasa berarti? seakan-akan aku tak pernah peduli, seakan-akan aku tak pernah mau tau, tak pernah peka.kini untukku, aku dan kamu sudah cukup, tanpa kita.
kali ini aku tidak akan bercerita tentang airmata, aku tidak akan tega membebani kecintaanku dengan masalah cinta mati.
Dulu ketika aku bercerita cinta kau malah tertawa. ketika aku berkata rindu kau malah menulikan talinga. hanya cerita sederhana yang mungkin tak ingin kau dengar. kau tak suka diantar tidur dengan cerita menyakitkan bukan? baiklah bagimana kalau dari menyakitkan kualihkan menjadi: pura-pura bahagia? miris. tapi tentu saja kau tak pernah tau bahkan mungkin sifat burukmu belum juga hilang masih dalam ketika pekaan.
entah mengapa, akhir-akhir ini aku sangat merasa sepi sekali. seolah aku mendengar bisikan suaraku sendiri. namun aku heran, ditengah sunyinya malam masih saja ada cerita yang terlewatkan olehku... tentang kita.ah pasti kini kamu membuang muka. akupun sama, sebenarnya aku malas sekali mereka-reka senyummu yang dulu ini, menerjemahkan setiap rindu yang tertahankan, meraba setiap bayang semumu.diam-diam aku menyebut namamu dalam sepi menyelipkan namamu dalam doa dalam perbincangan yang cukup lama dengan Tuhan.
Dalam ketidak jelasan,aku dan kamu masih saja menjalani yang entah harus disebut apa. tapi katamu,aku terlalu berlebihan mengungkapkan perbedaan; aku dan kamu. perhatian kita sama, kita memiliki denyut dan detak yang sama, tidak berbeda.Tidak usah diambil pusing, aku sudah biasa bermain dengan kalimat yang menurutmu bodoh.semenjak kita berjarak, aku semakin sering bersentilan dengan sepi.tidak asing bagiku.
Sebentar lagi kita akan bertemu dengan tanggal 7. ingat apa yang kita lakukan empat bulan yang lalu?bukan waktu yang lama kan untuk mencoba membuka lembaran lama itu? masa dimana aku dan kamu seutuhnya menjadi kita.
seperti biasa, sama halnya dengan persahabatan yang lain. kita sering menghabiskan malam berdua, melewati malam ditemani tiga bintang yang selalu hidup dicerita kita. kamu mengatakan kejelasan, aku terkejut. kamu masih memasang wajah serius, semakin serius tatapanmu semakin dalam dan kamu berucap pelan.iya, saat itu aku dan kamu menjadi kita. indah, tapi itu masalalu "dulu" sudah kubilang diawalkan? ini cerita sederhana. jangan dibawa serius.
dan menulis diantara kertas yanng berserakan,
diantara remang-ramang kilauan sinar.
aku masih merindukanmu.
ini bukan yang pertama bagiku duduk berjam-jam tanpa perhatian hangat dari pesan singkatmu, kehampaan sudah berganti-ganti wajah sejak tadi, namun aku tetap membuta mencoba tak peduli.
pastinya, kamu tidak merasakan apa yang kurasakan, kamu tak memiliki rindu yang kusimpan rapih. aku sengaja menyembunyikan rasa itu agar kita tak saling mengganggu. bukankah dengan berjauhan seperti ini,kita lebih merasa berarti? seakan-akan aku tak pernah peduli, seakan-akan aku tak pernah mau tau, tak pernah peka.kini untukku, aku dan kamu sudah cukup, tanpa kita.
kali ini aku tidak akan bercerita tentang airmata, aku tidak akan tega membebani kecintaanku dengan masalah cinta mati.
Dulu ketika aku bercerita cinta kau malah tertawa. ketika aku berkata rindu kau malah menulikan talinga. hanya cerita sederhana yang mungkin tak ingin kau dengar. kau tak suka diantar tidur dengan cerita menyakitkan bukan? baiklah bagimana kalau dari menyakitkan kualihkan menjadi: pura-pura bahagia? miris. tapi tentu saja kau tak pernah tau bahkan mungkin sifat burukmu belum juga hilang masih dalam ketika pekaan.
entah mengapa, akhir-akhir ini aku sangat merasa sepi sekali. seolah aku mendengar bisikan suaraku sendiri. namun aku heran, ditengah sunyinya malam masih saja ada cerita yang terlewatkan olehku... tentang kita.ah pasti kini kamu membuang muka. akupun sama, sebenarnya aku malas sekali mereka-reka senyummu yang dulu ini, menerjemahkan setiap rindu yang tertahankan, meraba setiap bayang semumu.diam-diam aku menyebut namamu dalam sepi menyelipkan namamu dalam doa dalam perbincangan yang cukup lama dengan Tuhan.
Dalam ketidak jelasan,aku dan kamu masih saja menjalani yang entah harus disebut apa. tapi katamu,aku terlalu berlebihan mengungkapkan perbedaan; aku dan kamu. perhatian kita sama, kita memiliki denyut dan detak yang sama, tidak berbeda.Tidak usah diambil pusing, aku sudah biasa bermain dengan kalimat yang menurutmu bodoh.semenjak kita berjarak, aku semakin sering bersentilan dengan sepi.tidak asing bagiku.
Sebentar lagi kita akan bertemu dengan tanggal 7. ingat apa yang kita lakukan empat bulan yang lalu?bukan waktu yang lama kan untuk mencoba membuka lembaran lama itu? masa dimana aku dan kamu seutuhnya menjadi kita.
seperti biasa, sama halnya dengan persahabatan yang lain. kita sering menghabiskan malam berdua, melewati malam ditemani tiga bintang yang selalu hidup dicerita kita. kamu mengatakan kejelasan, aku terkejut. kamu masih memasang wajah serius, semakin serius tatapanmu semakin dalam dan kamu berucap pelan.iya, saat itu aku dan kamu menjadi kita. indah, tapi itu masalalu "dulu" sudah kubilang diawalkan? ini cerita sederhana. jangan dibawa serius.
dan menulis diantara kertas yanng berserakan,
diantara remang-ramang kilauan sinar.
aku masih merindukanmu.
Sabtu, 27 April 2013
kita tak lagi sama
malam ini, semua tampak lebih kosong. aku lebih banyak melakukan apapun itu sendiri, melatih kemandirian. mungkin kamu akan terkejut melihat perubahanku melihat semuanya berbeda.kamu pasti akan menggeleng kepala lebih lama dari biasanya.semua berubah, tanpa persetujuan kita, mengalir begitu saja.
Pada akhirnya, kita bertemu padatitik jenuh seolah hari yang dulu kita lewati berlalu begitu saja, dengan mudahnya seperti gelembung yang mudah pecah. metafora sibuk berbicara lebih banyak sementara aku dilarang bermimpi lebih tinggi lagi, lebih dalam. jika dulu kita begitu manis mengapa sekarang tampak sangat miris? mungkin hanya peresepsiku saja yang berlebihan, mengingat kita yang semakin berjarak. sampai aku muak mencari-cari yang kurasa tlah hilang; kamu.
Aku sudah berusaha untuk melakukan semuanya tanpamu dan berhasil, semuanya berjalan dengan baik. diluar dugaanku, disetiap malam-malam seperti ini aku merasa sosokmu yang dulu, hampa. sikapmu asing untuk kukenali. betapapun ketidak pekaanmu aku masih tetap menyelipkan namamu pada setiap kalimat doaku yang kupanjatkan kepada Tuhan. seringkali kamu memasuki rongga ingatku, berkeliaran. otakku masih ingin menjadikanmu topik utama.
aneh memang jika aku merasa kamu tlah hilang padahal kamu masih terus berdiri ditepi ingatanku, menyakitkan memang ketika perhatianku lagi dan terus kau abaikan.terlalu rumit jika aku mengenang cerita kita yang sempat menenggelamkan kita dijurang kebahagiaan.
baginilah kita sekarang. . . seringkali tak bersapa, tidak peduli, kita bernafas namun tidak menghembuskan nama yangb sama.
dengarkan aku, inilah kita. yang ternyata terlalu takut dengan kata perpisahan.nyaliku terlalu kecil untuk memintamu kembali, seperti dulu. seiring itu kamu terlalu egois atau sulit mendeskripsikan rasamu sendiri. entahlah!
kalau ada waktu, sering-sering cerita tentang Derent Lintang dan Bintang yang dulu sempat hidup bersama kita didalam ambisi.sudah sebesar apa mereka? sudah sepintar apa mereka?siapa yang merawat mereka seiring ayah dan bundanya tak lagi sama?
aku punya kejutan untukmu, aku sudah bisa tidur tanpa dengar suaramu. bagaimana denganmu?adakah yang ingin kau tunjukan paaku? selain kenyataan kalau kita sudah berbeda.
Pada akhirnya, kita bertemu padatitik jenuh seolah hari yang dulu kita lewati berlalu begitu saja, dengan mudahnya seperti gelembung yang mudah pecah. metafora sibuk berbicara lebih banyak sementara aku dilarang bermimpi lebih tinggi lagi, lebih dalam. jika dulu kita begitu manis mengapa sekarang tampak sangat miris? mungkin hanya peresepsiku saja yang berlebihan, mengingat kita yang semakin berjarak. sampai aku muak mencari-cari yang kurasa tlah hilang; kamu.
Aku sudah berusaha untuk melakukan semuanya tanpamu dan berhasil, semuanya berjalan dengan baik. diluar dugaanku, disetiap malam-malam seperti ini aku merasa sosokmu yang dulu, hampa. sikapmu asing untuk kukenali. betapapun ketidak pekaanmu aku masih tetap menyelipkan namamu pada setiap kalimat doaku yang kupanjatkan kepada Tuhan. seringkali kamu memasuki rongga ingatku, berkeliaran. otakku masih ingin menjadikanmu topik utama.
aneh memang jika aku merasa kamu tlah hilang padahal kamu masih terus berdiri ditepi ingatanku, menyakitkan memang ketika perhatianku lagi dan terus kau abaikan.terlalu rumit jika aku mengenang cerita kita yang sempat menenggelamkan kita dijurang kebahagiaan.
baginilah kita sekarang. . . seringkali tak bersapa, tidak peduli, kita bernafas namun tidak menghembuskan nama yangb sama.
dengarkan aku, inilah kita. yang ternyata terlalu takut dengan kata perpisahan.nyaliku terlalu kecil untuk memintamu kembali, seperti dulu. seiring itu kamu terlalu egois atau sulit mendeskripsikan rasamu sendiri. entahlah!
kalau ada waktu, sering-sering cerita tentang Derent Lintang dan Bintang yang dulu sempat hidup bersama kita didalam ambisi.sudah sebesar apa mereka? sudah sepintar apa mereka?siapa yang merawat mereka seiring ayah dan bundanya tak lagi sama?
aku punya kejutan untukmu, aku sudah bisa tidur tanpa dengar suaramu. bagaimana denganmu?adakah yang ingin kau tunjukan paaku? selain kenyataan kalau kita sudah berbeda.
Jumat, 12 April 2013
Sesak
Diatas bau rumput basah bekas hujan semalam
kunikmati kau dalam adammu,dalam caramu
dalam riuh rendah suara hatimu kudengar semua
dibatas kesedihanku, aku memutuskan untuk berhenti
lalu kamu bukannya diam
tapi malah berlari kesana kemari
menyelidik labiran hatiku
kamu mencuri, mencuri yang tak seharusnya kamu curi
kamu pencuri
adalah kamu yang datang merapat lalu menjauh
memberiku nafas lalu menyesakkannya kembali
kamu semakin menjauh
sekiranya sementara malam ketika kita berpaut dalam pelukan
aku ingin waktu berhenti lalu membiarkannya, sekali lagi
aku hanya mampu mengerang berang dalam dekap kasihmu
seperti halnya keledai bodoh
aku tak bisa tak merindukanmu
tidak bisakah kita memberi jedah pada waktu dunia?
saling berhenti ditengah jalan lalu berpelukan
karena benar, rindu ini semakin tak bisa diredam, aku remuk.
bukankah kita tahu sama tahu?
kita tak dapat bertahan tanpa ikatan
kita tak mampu menerjang jarak
yang semakin lama semakin menyebalkan
aku berharap pada peluk yang menusuk
engkau samudera luas yang membiru
sementara aku memeluk dalam relung dan ombakmu
harusnya aku sudah melupakanmu dalam deru dalam napsu
namun aku tak bisa melupakan
semua deru semua bayang semua napsu
lalu maukah kau kembali ditengah malam?
ketika seharian kita saling berpisah
selanjutnya saling berpelukan dan mengatakan semuanya baik-baik saja
dan lagi ketika rasa ini mulai tersisa gelombang
kamu harus tahu dan berusaha pergi dan melupakan
pun denganku
mengapa mencintai begitu mudah
layaknya aku mencintaimu?
mengapa dicintai begitu sulit
sama halnya kamu membalas cintaku?
sesak.
kunikmati kau dalam adammu,dalam caramu
dalam riuh rendah suara hatimu kudengar semua
dibatas kesedihanku, aku memutuskan untuk berhenti
lalu kamu bukannya diam
tapi malah berlari kesana kemari
menyelidik labiran hatiku
kamu mencuri, mencuri yang tak seharusnya kamu curi
kamu pencuri
adalah kamu yang datang merapat lalu menjauh
memberiku nafas lalu menyesakkannya kembali
kamu semakin menjauh
sekiranya sementara malam ketika kita berpaut dalam pelukan
aku ingin waktu berhenti lalu membiarkannya, sekali lagi
aku hanya mampu mengerang berang dalam dekap kasihmu
seperti halnya keledai bodoh
aku tak bisa tak merindukanmu
tidak bisakah kita memberi jedah pada waktu dunia?
saling berhenti ditengah jalan lalu berpelukan
karena benar, rindu ini semakin tak bisa diredam, aku remuk.
bukankah kita tahu sama tahu?
kita tak dapat bertahan tanpa ikatan
kita tak mampu menerjang jarak
yang semakin lama semakin menyebalkan
aku berharap pada peluk yang menusuk
engkau samudera luas yang membiru
sementara aku memeluk dalam relung dan ombakmu
harusnya aku sudah melupakanmu dalam deru dalam napsu
namun aku tak bisa melupakan
semua deru semua bayang semua napsu
lalu maukah kau kembali ditengah malam?
ketika seharian kita saling berpisah
selanjutnya saling berpelukan dan mengatakan semuanya baik-baik saja
dan lagi ketika rasa ini mulai tersisa gelombang
kamu harus tahu dan berusaha pergi dan melupakan
pun denganku
mengapa mencintai begitu mudah
layaknya aku mencintaimu?
mengapa dicintai begitu sulit
sama halnya kamu membalas cintaku?
sesak.
Label:
fakta
Senin, 08 April 2013
Ditengah derasnya hujan
"itu orangnya?" bisik ziara menggebu.
aku mengangguk pelan.
"udah berapa lama suka?"
"dua tahun"
"dari lo SMA ?"
"dari gue SMA sampe kuliah"
"elo emang gila banget risya"
aku menunduk. aku tidak suka dikasihani.
"naksir itu sebentar selebihnya adalah sayang"
"sayang?" gumamku pelan. aku tidak mengerti apa itu sayang, untukku itu adalah hal yang tabu.
"dia punya pacar?"
"tepat disampingnya. sudah berganti empat la;i selama dua tahun" pandanganku berubabh nanar.
"makanan favoritenya?"
"nasigoreng disebelah kampus"
"minumannya?"
"lemon tea hangat tidak terlalu asam"
"kerjaannya?"
"penulis"
"sudah berapa banyak buku yang dia tulis?"
"beberapa dan gue punya semua"
"ko gue gatau?"
"cuma gue yang tau dia"
"mobilnya?"
"banyak."
"rumahnya?"
"daerah kalibata"
"pendidikan terakhir?"
"sarjana hukum"
"kok kerjaannya penulis?"
"mengikuti kata hati"
"pernah mengobrol?"
"tidak sama sekali"
"hanya berani menatap?"
"ya. hanya berani menatap dan tidak mengucap"
ziara menutup mulut. menggelengkan kepalanya.
***
kamar kesya. pukul 16.00
"sya?"
"apa?"
"masih belum berani menyapa pangeranmu itu?"
aku diam.
"sampai kapan kamu memendam sya?"
"sampai Tuhan mengizinkan"
"tidak menyesal?"
"untuk apa?"
aku lihat ziara yang hanya menatapku lirih. Aku tau, betapa khawatirnya ziara terhadap perasaanku.ziara memang sahabat sejatiku, aku sedih itu airmatanya. begitu kata ziara. aku memang merasakan tekanan batin akhir-akhir ini. Gerry! nama lelaki yang duatahun ini mengusik fokusku.memberantakan khayalku.
"lo harus ajak dia ngobrol"
"maksudmu kenalan?"
"itu lo tau sya, gue kira lo cuma tau anatomi manusia" usik ziara usil.
"lo perlu seseorang sya"
"gue butuh"
"nah itu lo pinter. gue kira lo hanya tau kebutuhan dasar manusia"
aku mengerutkan alis.
***
Kampus. 13.00
aku berjalan menuju taman. aku senang menghabiskan waktuku dibawah pohon rindang.selain itu, ini memang tampat aku dan ziara berbagi. hempasan angin menggelitik pori-poriku. aku membiarkan mataku menjelajahi kesana-kemari. tapi, aku lihat langit semakin gelap. awan hitam mulai menampakan wajahnya, dan benar... hujan mulai turun. buliran itu kini terlihat.
hujan begitu cepat derasnya, hingga tak memberi aku peluang untuk berlari mencari tempat teduh. untung pohon ini bisa menjadi payung sementara.
plak plak...!! suara sepatu suara melangkah semakin dekat semakin jelas. lelaki berpostur tinggi, hidung yang mancung dan kulit yang putih.
hap!! aku berhasil menebak siapa dia. siapa yang berlari pelan menuju kearahku, maksudku pohon rindang ini. dia sekarang sibuk mengusir tetasan airhujan yang tertinggal dibajunya. dia terus sibuk sampai tidak peduli aku memperhatikannya.
brug!! buku berukuran sedang jatuh tepat dihadapanku. reflek, aku mengambilnya dengan sigap. memberikan buku itu kepada lelaki yang sedari tadi belum juga menghentikan kesibukannya.
"terimakasih"
singkat tapi bermakna. suara yang asing. suara pertamanya yang berhasil menyelidik labiran kosong hatiku, aku tersenyum.
"mahasiswi universitas indonesia?
"FIB"
dia mengulurkan tangan.
"gerry. anak fakultas...." gerry belum selesai aku menyerobot.
"fakukltas huku. gerry wicaksono. kelahiran 21 april 1987. anak pertama dan dua bersaudara. alamat daerah kalibata. makanan favorite nasigoreng disebelah kampus,minuman lemon tea hangat tidak terlalu asam,kerjaan penulis. sejak lama aku mengegumimu ger"
suaraku bergesekan dengan derasnya airhujan. aku gemetar, tidak percaya aku melakukan hal sebodoh itu. gerry menatapku dalam, kini aku semakin terpaku dibuatnya. dia mengusik arah tujuanku, yang semula mengenalnya berubah menjadi ingin memilikinya. untuk berapa lama aku dan dia diam, hanya saling menatap. suasana semakin mencekam. kosa kataku terkunci. sampai hujan berhenti. aku kebingungan. aku kehabisan cara untuk menujukan. aku kehabisan ide untuk mengungkapkan. untuk beberapa lama...
"gerry???"
suara wanita yang tak asing untukku. alena. kekasih gerry sejak 5bulan lalu. gerry cepat membalas lambaian wanita cantik itu, sebelum bergegas ia menyempatkan bola matanya melirik kearahku. semakin jauh semakin lama punggung kokohnya tak terlihat lagi. jelas aku melihat, gerry membiarkan aku menggigil karena dinginnya sikap dia. dia berlalu seolah tidak ada yang aku utarakan. dia tidak peduli, sama sekali tidak.peristiwa itu hanya kehangatan ditengah derasnya hujan.
pipiku basah.
aku mengangguk pelan.
"udah berapa lama suka?"
"dua tahun"
"dari lo SMA ?"
"dari gue SMA sampe kuliah"
"elo emang gila banget risya"
aku menunduk. aku tidak suka dikasihani.
"naksir itu sebentar selebihnya adalah sayang"
"sayang?" gumamku pelan. aku tidak mengerti apa itu sayang, untukku itu adalah hal yang tabu.
"dia punya pacar?"
"tepat disampingnya. sudah berganti empat la;i selama dua tahun" pandanganku berubabh nanar.
"makanan favoritenya?"
"nasigoreng disebelah kampus"
"minumannya?"
"lemon tea hangat tidak terlalu asam"
"kerjaannya?"
"penulis"
"sudah berapa banyak buku yang dia tulis?"
"beberapa dan gue punya semua"
"ko gue gatau?"
"cuma gue yang tau dia"
"mobilnya?"
"banyak."
"rumahnya?"
"daerah kalibata"
"pendidikan terakhir?"
"sarjana hukum"
"kok kerjaannya penulis?"
"mengikuti kata hati"
"pernah mengobrol?"
"tidak sama sekali"
"hanya berani menatap?"
"ya. hanya berani menatap dan tidak mengucap"
ziara menutup mulut. menggelengkan kepalanya.
***
kamar kesya. pukul 16.00
"sya?"
"apa?"
"masih belum berani menyapa pangeranmu itu?"
aku diam.
"sampai kapan kamu memendam sya?"
"sampai Tuhan mengizinkan"
"tidak menyesal?"
"untuk apa?"
aku lihat ziara yang hanya menatapku lirih. Aku tau, betapa khawatirnya ziara terhadap perasaanku.ziara memang sahabat sejatiku, aku sedih itu airmatanya. begitu kata ziara. aku memang merasakan tekanan batin akhir-akhir ini. Gerry! nama lelaki yang duatahun ini mengusik fokusku.memberantakan khayalku.
"lo harus ajak dia ngobrol"
"maksudmu kenalan?"
"itu lo tau sya, gue kira lo cuma tau anatomi manusia" usik ziara usil.
"lo perlu seseorang sya"
"gue butuh"
"nah itu lo pinter. gue kira lo hanya tau kebutuhan dasar manusia"
aku mengerutkan alis.
***
Kampus. 13.00
aku berjalan menuju taman. aku senang menghabiskan waktuku dibawah pohon rindang.selain itu, ini memang tampat aku dan ziara berbagi. hempasan angin menggelitik pori-poriku. aku membiarkan mataku menjelajahi kesana-kemari. tapi, aku lihat langit semakin gelap. awan hitam mulai menampakan wajahnya, dan benar... hujan mulai turun. buliran itu kini terlihat.
hujan begitu cepat derasnya, hingga tak memberi aku peluang untuk berlari mencari tempat teduh. untung pohon ini bisa menjadi payung sementara.
plak plak...!! suara sepatu suara melangkah semakin dekat semakin jelas. lelaki berpostur tinggi, hidung yang mancung dan kulit yang putih.
hap!! aku berhasil menebak siapa dia. siapa yang berlari pelan menuju kearahku, maksudku pohon rindang ini. dia sekarang sibuk mengusir tetasan airhujan yang tertinggal dibajunya. dia terus sibuk sampai tidak peduli aku memperhatikannya.
brug!! buku berukuran sedang jatuh tepat dihadapanku. reflek, aku mengambilnya dengan sigap. memberikan buku itu kepada lelaki yang sedari tadi belum juga menghentikan kesibukannya.
"terimakasih"
singkat tapi bermakna. suara yang asing. suara pertamanya yang berhasil menyelidik labiran kosong hatiku, aku tersenyum.
"mahasiswi universitas indonesia?
"FIB"
dia mengulurkan tangan.
"gerry. anak fakultas...." gerry belum selesai aku menyerobot.
"fakukltas huku. gerry wicaksono. kelahiran 21 april 1987. anak pertama dan dua bersaudara. alamat daerah kalibata. makanan favorite nasigoreng disebelah kampus,minuman lemon tea hangat tidak terlalu asam,kerjaan penulis. sejak lama aku mengegumimu ger"
suaraku bergesekan dengan derasnya airhujan. aku gemetar, tidak percaya aku melakukan hal sebodoh itu. gerry menatapku dalam, kini aku semakin terpaku dibuatnya. dia mengusik arah tujuanku, yang semula mengenalnya berubah menjadi ingin memilikinya. untuk berapa lama aku dan dia diam, hanya saling menatap. suasana semakin mencekam. kosa kataku terkunci. sampai hujan berhenti. aku kebingungan. aku kehabisan cara untuk menujukan. aku kehabisan ide untuk mengungkapkan. untuk beberapa lama...
"gerry???"
suara wanita yang tak asing untukku. alena. kekasih gerry sejak 5bulan lalu. gerry cepat membalas lambaian wanita cantik itu, sebelum bergegas ia menyempatkan bola matanya melirik kearahku. semakin jauh semakin lama punggung kokohnya tak terlihat lagi. jelas aku melihat, gerry membiarkan aku menggigil karena dinginnya sikap dia. dia berlalu seolah tidak ada yang aku utarakan. dia tidak peduli, sama sekali tidak.peristiwa itu hanya kehangatan ditengah derasnya hujan.
pipiku basah.
Jumat, 05 April 2013
kembali, kesakitanku
untuk sahabat yang sudah menemukan sahabat barunya,
dan untuk kamu. seseorang yang berubah sikapnya.
Hallo sahabatku. bagaimana kabarmu kini?sedang musim perasaan apa yang kau rasakan? dinginkah? kemaraukah? maaf aku tidak terlalu hafal tentangmu sekarang. aku terlalu sibuk mencari bahagiakutanpa peduli penderitaanmu.
sedang apa kawan lamaku? sibukkah dengan keyped handphonemu? asikkah bercerita dengan teman barumu? atau sedang menatap serius layar notebookmu? ah sungguh aku merindukan semua yang kau lakukan. maaf kini aku memang tidak bisa lagi menjadi kawan setiamu.
aku tidak bisa lagi merepotkanmu saat kita jalan.minta dituntun saat kita menyebrang. minta disuapin saat kamu makan. hem... atau kamu yang tidak bisa lagi memarahiku karena kecerobohanku? atau aku yang menggerutu kesal karena kelabilanmu? sungguh, aku merindukan semua yang kita lakukan.
Bagaimana dengan sahabat barumu?aku tau, betapa serunya dia bisa masuk dalam hidupmu, berbagi cerita denganmu, memperhatikanmu atau malah sikapnya sama seperti aku? selalu merepotkanmu? hehe betapapun banyak yang membuat kita tidak klik, aku tetap merindukan semuanya.
boleh aku bercerita sedikit? aku sedang sedih. aku sedang butuh pundakmu. aku mengejar bahagia dan ternyata itu bahagia semua. aku menyesal! menyakitimu dengan mengambil kebahagiaanmu, aku mengecewakanmu dengan keputusanku untuk menjalin hubungan dengan dia (mantan kekasihmu).sekarang, aku yang kecewa, aku dikecewakannya! dia tidak sebaik yang kuduga, aku tidak melihat sosoknya seperti halnya dia bersamamu. Kamu bahagiakan? kalau benar, aku senang. kamu bisa tertawa diatas kesedihanku sama halnya seperti yang aku lakukan padamu. dan kamu tau? ternyata dia masih mencintaimu, sama seperti dulu. tidak berkurang sedikitpun, dia masih menyayangimu dan berharap kamu mengetahuinya. seiring dengan itu, aku sengaja menulisnya disini. aku ingin kamu mengetahuinya bahwa dia masih mencintaimu. aku tau, ini bahgianya ketika aku dapat memberitahumu tentang ini. tidak aku pungkiri, aku mencintainya. sama seperti dia mencintaimu. tapi faktanya dia tidak mencintaiku mungkin tepatnya aku adalah pelampiasannya. dia tidak mengistimewakanku seperti halnya dia mengistimewakanmu, dia tidak menyayangiku seperti halnya dia menyayangimu. caranya berbeda sama seperti perasaannya. dia mencintaimu sementara tidak untukku.sudahlah, terlalu sakit jika aku mengingat tentangmu dan juga dia.nasi sudah menjadi bubur! aku terlanjur mengecewakanmu, mengkhianati persahabatan kita.sekali lagi, aku menyesal!
ohiya hallo juga lelaki berlesung pipit berparas manis, kelahiran tanggal 28desember, penikmat martabak keju, hobby bermain futsall dan sedang mengenyam s1 pendidikan. apa kabar harimu sayang? bahgiakn pasti? bagaimana tidak, kamu berhasil menyakitiku dan melampiaskan kecewamu yang disebabkan oleh sahabatku. kamu memberikan aku harapan dan membiarkan aku menunggu harapan itu.aku sudah memaafkanmu, bahkan sejak lama. walau sebenarnya ini hakmu, hakmu untuk menyia-nyiakan siapapun itu termasuk aku. padahal kalau diingat-ingat apa kurangnya aku?aku membiarkan sahabatku tenggelam ditelan ganasnya keegoisan tapi kamu justru menenggelamkanku dijurang kehancuran.jahat! aku mencintaimu tapi kamu mencintai dia, aku mengharapkanmu tapi kamu mengharapkannya. tapi sungguh, masalah aku menmencintaimu aku tidak merasa menyesal sedikitpun.
Kembali lagi,kepada sahabat lamaku. maaf, aku tidak bermaksud untuk mengadu hal ini padamu atau membentuk kalimat 'ada maunya lo balik' tidak! bukan begitu. aku hanya ingin menyampaikan tentang ini, tentang aku yang tidak bahgia bersama mantan kekasihmu, tidak seindah bayanganmu teman.
bahagiakah teman seperjuanganku? tanpa kamu balas, hukum nalam sudah membalasnya kok. lebih parah lebihganas. titip salam ya untuk sahabat barumu yang berhasil menggantikan posisiku. salam juga untuk mantan kekasihmu yang aku tau sekarang sedang mengerutkan alisnya membaca tulisanku yang satu ini.
dari seseorang yang sedang sibuk merapihkan serpihan hatinya.
dan untuk kamu. seseorang yang berubah sikapnya.
Hallo sahabatku. bagaimana kabarmu kini?sedang musim perasaan apa yang kau rasakan? dinginkah? kemaraukah? maaf aku tidak terlalu hafal tentangmu sekarang. aku terlalu sibuk mencari bahagiakutanpa peduli penderitaanmu.
sedang apa kawan lamaku? sibukkah dengan keyped handphonemu? asikkah bercerita dengan teman barumu? atau sedang menatap serius layar notebookmu? ah sungguh aku merindukan semua yang kau lakukan. maaf kini aku memang tidak bisa lagi menjadi kawan setiamu.
aku tidak bisa lagi merepotkanmu saat kita jalan.minta dituntun saat kita menyebrang. minta disuapin saat kamu makan. hem... atau kamu yang tidak bisa lagi memarahiku karena kecerobohanku? atau aku yang menggerutu kesal karena kelabilanmu? sungguh, aku merindukan semua yang kita lakukan.
Bagaimana dengan sahabat barumu?aku tau, betapa serunya dia bisa masuk dalam hidupmu, berbagi cerita denganmu, memperhatikanmu atau malah sikapnya sama seperti aku? selalu merepotkanmu? hehe betapapun banyak yang membuat kita tidak klik, aku tetap merindukan semuanya.
boleh aku bercerita sedikit? aku sedang sedih. aku sedang butuh pundakmu. aku mengejar bahagia dan ternyata itu bahagia semua. aku menyesal! menyakitimu dengan mengambil kebahagiaanmu, aku mengecewakanmu dengan keputusanku untuk menjalin hubungan dengan dia (mantan kekasihmu).sekarang, aku yang kecewa, aku dikecewakannya! dia tidak sebaik yang kuduga, aku tidak melihat sosoknya seperti halnya dia bersamamu. Kamu bahagiakan? kalau benar, aku senang. kamu bisa tertawa diatas kesedihanku sama halnya seperti yang aku lakukan padamu. dan kamu tau? ternyata dia masih mencintaimu, sama seperti dulu. tidak berkurang sedikitpun, dia masih menyayangimu dan berharap kamu mengetahuinya. seiring dengan itu, aku sengaja menulisnya disini. aku ingin kamu mengetahuinya bahwa dia masih mencintaimu. aku tau, ini bahgianya ketika aku dapat memberitahumu tentang ini. tidak aku pungkiri, aku mencintainya. sama seperti dia mencintaimu. tapi faktanya dia tidak mencintaiku mungkin tepatnya aku adalah pelampiasannya. dia tidak mengistimewakanku seperti halnya dia mengistimewakanmu, dia tidak menyayangiku seperti halnya dia menyayangimu. caranya berbeda sama seperti perasaannya. dia mencintaimu sementara tidak untukku.sudahlah, terlalu sakit jika aku mengingat tentangmu dan juga dia.nasi sudah menjadi bubur! aku terlanjur mengecewakanmu, mengkhianati persahabatan kita.sekali lagi, aku menyesal!
ohiya hallo juga lelaki berlesung pipit berparas manis, kelahiran tanggal 28desember, penikmat martabak keju, hobby bermain futsall dan sedang mengenyam s1 pendidikan. apa kabar harimu sayang? bahgiakn pasti? bagaimana tidak, kamu berhasil menyakitiku dan melampiaskan kecewamu yang disebabkan oleh sahabatku. kamu memberikan aku harapan dan membiarkan aku menunggu harapan itu.aku sudah memaafkanmu, bahkan sejak lama. walau sebenarnya ini hakmu, hakmu untuk menyia-nyiakan siapapun itu termasuk aku. padahal kalau diingat-ingat apa kurangnya aku?aku membiarkan sahabatku tenggelam ditelan ganasnya keegoisan tapi kamu justru menenggelamkanku dijurang kehancuran.jahat! aku mencintaimu tapi kamu mencintai dia, aku mengharapkanmu tapi kamu mengharapkannya. tapi sungguh, masalah aku menmencintaimu aku tidak merasa menyesal sedikitpun.
Kembali lagi,kepada sahabat lamaku. maaf, aku tidak bermaksud untuk mengadu hal ini padamu atau membentuk kalimat 'ada maunya lo balik' tidak! bukan begitu. aku hanya ingin menyampaikan tentang ini, tentang aku yang tidak bahgia bersama mantan kekasihmu, tidak seindah bayanganmu teman.
bahagiakah teman seperjuanganku? tanpa kamu balas, hukum nalam sudah membalasnya kok. lebih parah lebihganas. titip salam ya untuk sahabat barumu yang berhasil menggantikan posisiku. salam juga untuk mantan kekasihmu yang aku tau sekarang sedang mengerutkan alisnya membaca tulisanku yang satu ini.
dari seseorang yang sedang sibuk merapihkan serpihan hatinya.
Minggu, 24 Maret 2013
Seperti kemarin, aku ingin dia bahagia
Untuk kamu yang tak pernah tau rasanya sakit
Selamat malam Tigabintang.Aku tak tau harus memanggilmu dengan sebutan apalagi, menurutku kamu begitu indah bahkan lebih.aku berjanji, akan menemuimu secepatnya bintang, menggenggam salah satu segi dari bentukmu. ah aku benar-benar ingin betemu denganmu.
Masih seperti tahun kemarin bintang, aku kehilangan seseorang dibulan ini. aku kehilang untuk kesekian kalinya, dimana satu bulan lagi adalah hari bahagiaku.
kini, aku belum mau berganti topik Bintang,masih tentang dia.. Seseorang yang sering aku perbincangkan sangat lama denganmu, seseorang yang selalu aku sebut pada kalimat doaku.
Aku sudah tahu, perpisahan yang Tuhan ciptakan adalah yang terbaik untukku dan Tuhan telah mempersiapkan jauh lebih baik darinya. tapi, bukan berarti aku harus absen menyebut namanya didalam bait doaku bukan?
Nah,kalau yang ini aku sudah tahu. Tentang jenuhnya dia bersamaku, mungkin karena ada yang baru. dia sudah menemukan penggantiku, entah siapa dan bagaimana. atas alasan apapun, aku harus turut bahagia dengan semuanya. karena ia tak perlu merayakan kesedihannya, seperti yang aku lakukan beberapa hari terakhir ini. seiring mendapatkan penggantiku, ia tak perlu merasa galau atau kehilangan. sungguh, aku tak pernah ingin dia merasakan sakit seperti apa yang kurasakan saat ini. Tuhan, aku tak pernah tega melihat kecintaanku terluka seperti luka yang belum juga kering didadaku. aku ingin kebahagiaan menyertainya, dengan atau tanpa aku.
Bintang, kali ini tolong jangan tersenyum usil, aku pasti menangis. dadaku sesak ketika kudapati semua berlalu begitu cepat. apalagi ketika dia berkata jenuh dengan nada rendah dan datar. aku tak habis pikir, padahal aku sedang merasakan bahagia yang meletup-letup kecil pada setiap aliran darahku.dia berganti-gati peran sesukanya sementara aku belum cukup cerdas mambaca topeng pada wajahnya.
Aku percaya sekarang dia sudah menemukan cinta sejatinya, seperti yang ia katakan dulu padaku 'aku menemukan cinta sejatiku. yaitu kamu' meski pada akhirnya aku hanya tempat persinggahan saja.
Masih sama seperti kemarin, jaga kebahagiannya, terangi sudut gelap pada hatinya. bahkan aku rela menangis demi melihat lubang kecil pada pipinya. Aku ingin melakukan apapun untuknya, tanpa melupakan sedikitpun rasa cintaku pada Tuhan. tapi, dalam jarak sejauh ini, aku memang tak dapat menyentuh lembut jemarinya, walau sebenarnya aku memeluknya dalam doa.
pernah terlintas dibenakku, untuk menderita amnesia. lalu dapat melupakan segala tentangnya, agar aku lupa rasanya sakit dan kehilangan seperti saat ini. aku tak perlu menangisi kejamnya perpisahan. sepertinya, hidup tidak akan terlalu rumit kalu saja manusia mudah melupakan rasa sakit dan hanya mengingat rasa bahagia. namun aku mengerti, hidup adalah pilihan dan suratan.
Aku memang tak perlu meratap, karena sepertinya ia sudah bahagia dengan keputusannya. dengan pilihannya. kini aku telah menghancurkan tembok yang seolah menjadi skat hidupnya yang menghilangkan gerak tubuhnya. aku sudah melepas ikatan yang sempat menjerat kuat kakinya,aku sudah melepaskan dia, seutuhnya. tampa luka dihatinya, sedikitpun tidak. dia bisa mencari dunia sesuai keinginannya, dia bisa menghilangkan rasa jenuhnya lalu bahagia dengan dunia barunya.aku turut senang, jika semua itu benar. kembali keawal, aku tidak mau ia merasakan sakitnya perpisahan, seperti yang aku rasakan.
Akhir pengungkapan, aku tidak minta agar dia cepat putus dengan kekasih barunya atau hubungan mereka kandas ditengah jalan. Tidak banyak bintang, sampaikan pada Tuhan. aku hanya minta vertigo akutnya disembuhkan, agar tekanan darahnya tak melemahkan dirinya. stabilkan kekebalan tubuhnya agar saat angin malam menghembus kencang dihadapnya ia dapat memeluk tubuhnya sendiri. semoga penggantiku mengerti betul penyakitnya.
kembali keawal ; aku hanya ingin dia bahagia. cukup
Sabtu, 16 Maret 2013
Masa lalu kita dan Masadepannya
Masalalu kita dan Masadepannya
Semalam
senyumku mengembang. Membaca pesan singkat yang selalu membuat
handphoneku bergetar hebat. entah apa kata jam dinding yang sedari tadi
menjadi saksi bisu tersipunya aku.
Kamu kembali seperti dulu.
Tengah
malam, aku yang selalu tak bisa tidur dengan cepat hanya sibuk
mengutak-ngatik keypad handphone saja, sesekali membenarkan posisi
tidurku dan memeluk boneka lucu pemberianmu. Aku ingat sekali, betapa
hari itu kamu sangat memanjakanku. menggenggam erat tanganku merangkul
lembut pundakku berjalan diriyuhnya mall ketika itu sambil sesekali kita
tertawa dengan lepas karena leluconmu yang menggelitik. Hobbyku
membacda didukung penuh olehmu, beberapa novel kau berikan untukku dan
saat itu kamu membelikanku sebuah boneka besar. Aku tidak tahu bagaimana
jadi kamu, rela memberi segalanya untukku. termasuk hatimu.Aku sangat
bahagia terlebih semalam pesan singkatmu seperti mempersembahkan aku
kemasa yang akan datang.kamu berjanji tidak akan meninggalkanku apalagi
menyakitiku, kamu coba meraba-raba masadepan dengan membicarakan tentang buah hati.
"anak yang pertama lelaki dan kedua perempuan tetapi kembar" Ada
semilir angin yang menyentuh lembut kulitku."Bagaimana kalau yang lelaki
Derent? " Aku mengindahkan bagiku pilihanmu adalah pilihanku. lalu
berlanjut dengan "Lintang dan Bintang?" kamu membalasnya dengan tentu
saja.Sungguh, aku semakin yakin menjalankan hubungan ini denganmu. Tak
sabar menunggu saatnya tiba, melihat canda Derent Lintang dan Bintang.
menunggu kamu, calon Papah dari mereka. Ah benar-benar dunia khayal kita
sangat nyata bagiku.
Aku
mengetik keyped handphoneku dengan rona merah jambu "derent sebagai
dokter Lintang dan Bintang sebagai bidan" Aku menunggu jawabanmu. kali
ini ternyata kita tak sependapat "derent pengusaha lapangan futsall"
perselisihan pendapat yang membuatku senang. aneh! aku membalasnya
dengan "terserah papahnya saja"
Aku
mengutip setiap kata-kataku untuknya, aku tidak mau merusak malam itu
malam yang begitu romantis. sejujurnya aku merindukan saat-saat seperti
itu karena kamu sudah jauh berbeda, sikapmu dingin tapi entah mengapa
malam ini sosokmu yang kukenal dulu kembali pulang.
Sayang,
seandaikan kamu ada disampingku malam ini. Aku akan mengajakmu memeluk
khayalan itu? Aku akan mengajakmu memeluk derent lintang dan bintang
juga kota impian kita. Aku akan mengajakmu bercengkrama dengan
kenangan.Mengindahkan setiap detik yang berubah menjadi menit, lalu
menit manjadi jam. menikmatinya dengan mesra lalu menitipkan masadepan
kita pada doa. Aku akan belajar menjadi wanita kuat seperti MAMAHmu , memperhatikanmu seperti MAMAHmu, mempedulikanmu layaknya MAMAHmu.
Aku akan belajar sabar menghadapi hujatan sikapmu, berusaha meredam
amarahmu, aku akan mengadahkan bahuku untukmu. sebisa mungkin!!
Ohyaa
apa kabar dengan masa lalumu? Sahabat yang katanya aku lukai. padahal
kita tak memulai hubungan ini saat kamu bersamanya? Kita tidak melakukan
penghinaan terhadapnya? Tapi mengapa ceritanya seolah aku merobek urat
nadinya? Ceritakan pada mereka sayang, tentang pertemuan kita yang di
takdirkan. tentang aku yang menyentuhmu dengan lembut bukan seperti
mereka yang mengatakan aku merebut kebahagiaannya. Yakinkan mereka
sayang, yakinkan mereka tentang bahagianya kita bersama. tentang mimpi
yang telah kita ukir berdua. kita tidak pamer kemesraan seperti pasangan
bodoh lainnya? kita juga tidak membuat video asusila seperti pasangan
yang menghinakan dirinya sendiri? kita juga tidak mengganggu waktu dan
hidup mereka? lalu apa salahnya kita? dimana letaknya hina dari
kebersamaan kita?apa salahnya kita sayang? jawab! jelaskan padaku!
Aku mencintaimu tulus, dari terbiasanya kita bersama.kamu mantan kekasih sahabatku
tapi bukankah cinta tak mengenal waktu dan pada siapa ia tertuju? Aku
mencintaimu dengan menunggu, menanti takdir menyatukan kita, menunggu
waktu memberi peluangnya. salahkah? kalau begitu takdir yang menjadi
terdakwa, Tapi tidak, tunggu dulu. kurasa takdir tak salah.takdir memang
sudah suratan yang Kuasa, Tuhan maha tahu sayang tentang
apa yang terbaik untuk umatrnya. jadi utnuk apa mereka berbicara seakan
kita melanggar norma? dari rentetan bisikin tajam yang sudah hbiasa
menyakiti telinga kita, aku ingin sekali memaki mereka yang merengek
agar aku dan kamu tidak menjadi kita. BODOH! Aku benci waktu yang
mengutamakan sahabatku dengan kau dan membiarkan takdir menomor duakan
aku bersamamu. tapi kita mampu bertahan sayang. selama ini, selama
duabulan sembilanhari. Aku semakin mencintaimu karena mereka yang
melantangkan suaranya untuk menjauhi kita. Aku semakin mencintaimu karena
mereka yang mencemooh hubungan kita. Aku semakin kuat sayang
mempertahankan ini semua, kuharap kau begitu. jangan mundur sayang,
jangan biarkan aku berjuang sendirian, jangan biarkan kemauan mereka
menjadi kenyataan. jangan bawa lari bahagiaku ketika aku mampu merasakan itu.
Sudahlan aku tidak mau lebih panjang lagi membahas masa lalu kita
yang menyakitkan itu yang miris membuat kita jauh.Aku sudah bahagia
karena kamu mengisi mozaik dihariku lalu mengaplikasikan mimpi kita
sebisamu. aku bahagia mengahabiskan waktuku bersamamu, aku terbiasa
mengabaikan yang lain dan mengutamakn apapun tentangmu.Biarkanlah kita
titip masa depan kepada takdir menunggu derent lintang dan bintang
mewarnai bahtera cinta kita.
Senin, 11 Maret 2013
Ternyata !!!
Ternyata !!
"Terkadang cinta sejati tidak saling memiliki, cukup dengan saling mencintai saja. untuk beberapa kalangan."
Aku terpana mendengar penjelasannya.
"Tapi apa gunanya cinta kalau tidak memiliki?"
"cinta itu ketulusan. cinta itu keikhlasan. cinta itu memberi tanpa minta dibalas"
"cinta bertepuk sebelah tangan maksudmu?"
"tidak. cinta tak harus memiliki"
"apa kamu pernah merasakan itu?"
Gibran membenarkan posisi duduknya lalu menghela nafas dalam-dalam.
"setiap insan pasti pernah"
Aku raih daguku dengan kedua tanganku dan memperhatikan garis wajahnya. benarkah ? "cinta tak harus memiliki" ??
***
Camer coffe. Pukul 15.25
Aku memesan susu cokelat favoriteku. Selagi menunggu gibran aku melihat-lihat perpustakaan dikafe ini. memang, kafe yang dilengkapi dengan perpustakaan ini menjadi tempat yang digemari oleh remaja bandung.
"hey?"
terdengar suara itu dengan lantang. suara yang tidak asing untukku. suara Gibran wijaya. Aku menoleh memasang wajah dengan hiasan bibir manyun khasku.
"lama banget?"
"aku ada janji bertemu dosen tadi"
Aku coba mengerti dengan memberikan senyuman manis pada gibran. Gibran memnggil pramusaji memesan lemon tea kesukaannya. "kasih gula jangan terlalu asam" Yaa gibran selalu menambahkan pesanannya dengan kalimat itu.Aku sudah hafal kebiasaannya, aku sudah biasa tentang semua yang tidak biasa padanya. Aku dan gibran adalah tetanggaan sekaligus gibran adalah anak om farid, teman bisnis papah.
"Apa kamu masih mencintai wanita itu?"
Aku membuka perbincangan
"maksudmu yang kemarin aku ceritakan?"
"memang ada yang lain?" Aku mengerutkan alis tipisku tapi masih terlihat indah karena lengkungan manis pada alisku. Gibran yang sedang aku selidiki hanya senyum tidak jelas.
"Tentu tidak, aku masih mencintai dia dan hanya mencintanya"
"kenapa tidak kau utarakan?"
"sudah kubilang Alina. cinta tak harus memiliki"
"aku tidak bilang kamu untuk bersamanya, aku hanya bilang kamu mengungkapkannya"
"jika sudah mengungkapkan pasti ada keinginan untuk sebuah jawaban. mana ada ikan dikasih tulang tidak meminta dagingnya? lagipula aku takut akhirnya akan menjadi jauh jika kejujuran diungkapkan"
Aku terhenyak. kalimatnya sangat mengubur nyaliku. Aku juga mencintai tanpa berani mengungkapkan.
***
Aku berjalan santai menuju kantin kampus. aku membiarkan mataku berbelok kesana-kesini. mencoba menjelajahi sekitar gedung kampus sambil mencari Anita, sahabat karibku sejak SMA. sampai dikantin aku belum juga melihat batang hidungnya. aku memesan minum lalu mencari tempat duduk kosong.
"Anita? Gibran ?" hatiku melontarkan pertanyaan semu. pertanyaan yang hanya dimengerti olehku saja.Ada desir aneh yang mengalir didadaku, ada rasa khawatir akan kehilanganyang entah dari mana itu dihasilkan. seolah ada angin kencang menembus pori-poriku, melumpuhkan sel darahku.
aku cepat membalikan badan, pandangan kupalingkan.
2jam kemudian
Ponselku berbunyi. pesan singkat dari Anita.
dimana alina?
entah setan apa yang merasuki pikiranku hingga tak ada niatan untukku membalas pesan singkatnya. seperti ada gejolak amarah dinafasku.
***
Shine bright like a diamond
Shine bright like a diamond
Shine bright like a diamond
We’re beautiful like diamonds in the sky
Shine bright like a diamond
Shine bright like a diamond
We’re beautiful like diamonds in the sky
Ponselku berdering. tertera dilayar Gibran wijaya, aku enggan mengangkatnya tapi entah mengapa seolah jemariku memaksa memencet tombol 'jawab'
"hallo alina?"
"ada apa?"
"aku menghubungimu sejak satu minggu lalu tapi selalu saja tidak bisa"
Aku diam.
"Hallo alina ada yang salah dengan aku?"
Aku menguatkan pita suaraku untuk menyambut tanyanya.
"tidak"
"aku ingin bertemu denganmu sore ini ditempat biasa pukul 16.30"
klik. telepon dimatikan.
***
Camer coffe. pukul 16.40
"kamu pernah membayangkan bertemu air ditenga gurun?"
gibran mengawali dengan memndang hujan lewat jendela kafe.
"hujan?"
"beda iklim alina"
"kalau begitu tidak. mustahil"
aku menyeruput susu cokelatku
:aku bertemu cahaya dalam gelap alina"
"maksudmu?"
"aku mendapat air ditengah gurun. mendapat cahaya ditengan gulita. aku bertemu sosok yang sedang aku butuhkan"
"anita?"
gibran menoleh cepat kehadapanku. aku membuang muka.
"anita? maksudmu?"
"bertahun-tahun kita sahabatan aku tidak pernah lupa bercerita tentang apapun itu. Aku melihatmu dikantin waktu itu, beersama anita"
Aku mencoba untuk tetap tenang.
"anita baik dia catik juga smart. tapi tidak cukup mengalahkan posisi wanita yang aku cintai sejak dulu"
"kamu tidak ada apa-apa dengan anita?"
"dia hanya adik kelasku yang meminta saran untuk tugasnya"
seperti ada yang bahagia dalam amarahku.aku seperti ingin tersenyum lega mendengarkannya. Ah perasaan apa ini ??
"aku mencinta wanita itu, sangat"
"siapa dia?"
aku menyelidik.
"yang istimewa"
lagi lagi ada desirin aneh didadaku.
"apa kamu tau bahagianya dari cinta yang tak memiliki?"
"membiarkannya bahagian tanpa terusik oleh perasaan kita"
"menyakitkan"
"lebih dari itu. kita kita membiarkannya tersenyum sedang kita bukan alasannya. membiarkannya bahagia dan kita bukan sebabnya"
"lalu untuk apa kau bertahan?"
"ketulusan"
Aku terdiam. benar sekali kata gibran. mencinta memang tak harus memiliki. "kita kita membiarkannya tersenyum sedang kita bukan alasannya. membiarkannya bahagia dan kita bukan sebabnya"
aku mencinta gibran dan tidak memilikinya.
"ada yang harus dikorbankan dari bahagia"
"apa?"
"perasaan"
"aku tidak suka itu"
"aku terpaksa harus menyukainya. aku mengorbankan perasaanku untuk kebahgiaanya."
"aku lelah berteka-teki dengan kalimat bijakmu gibran"
"Aku mencintai kakakmu alina, yaitu alma"
Jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya. mataku enggang terpejam. kukira anita sahabat karibku yang akan merenggut cinta sejatiku tetapi ternyata . . . orang yang sangat amat dekat denganku !!
memang cinta sejati tak harus memiliki.
cinta itu ketulusan. cinta itu keikhlasan. cinta itu memberi tanpa minta dibalas
membiarkannya tersenyum sedang kita bukan alasannya. membiarkannya bahagia dan kita bukan sebabnya
ada yang harus dikorbankan dari bahagia, "perasaan". aku
terpaksa harus menyukainya. aku mengorbankan perasaanku untuk
kebahgiaanya, Gibran wijaya sahabatku dan Alma randania kakak kandungku.
Langganan:
Komentar (Atom)
